Kado Valentine

Oleh: Adriana Andang Gitasari

“Dido, kamu mau ngasih kado siapa besok hari valentine?” tanya Jeri membuyarkan lamunan Dido. “Oh, valentine? Aku tidak tahu. Lagian selama ini aku tidak pernah merayakannya.” Jawab Dido datar. “Kalau aku sih, mau ngasih Tata coklat, hehehe”. Jeri tertawa kecil. “Dasar kamu ini kecil-kecil udah mulai pacaran ya.” Dido meledek Jeri. “Ngaco kamu. Tata kan kemarin sudah menolongku waktu terjatuh dari sepeda. Aku cuma ingin berterima kasih,” sanggah Jeri. Tak lama kemudian bel berbunyi. Mereka pun masuk kelas.

Kado Valentine

Sepulang sekolah, Dido bermalas-malasan di rumah. Ia terus menonton televisi. Sampai ia tidak sadar orangtuanya sudah pulang. “Lho, mama kapan pulang?” tanya Dido. “Dasar kamu, mama sudah pulang daritadi lho.” Dido tetap saja menonton televisi. Mama yang memperhatikan kelakuan Dido menjadi jengkel.

“Dido! Cepat mandi, lalu makan. Jangan lupa kerjakan PR ya,” perintah Mama. Bukannya menuruti perintah Mama, Dido malah asyik bermain game di komputer. “Lho kamu itu gimana sih, ayo…” sebelum Mama selesai bicara, Dido segera menimpalinya. “Ah mama, daritadi ngomel-ngomel. Dido lagi asyik main ma.” Mama menghela napas panjang. Mama berlalu meninggalkan Dido. Dido tetap bermain game sampai larut malam.

Paginya Dido bangun kesiangan. “Mama gimana sih, kenapa tidak membangunkanku?” Dido marah. “Lho siapa suruh main game sampai larut malam. Cepat mandi, papamu sudah menunggu,” kata Mama. Dido terburu-buru sampai lupa sarapan.

Sampai di sekolah, perut Dido terus keroncongan. Ia lupa meminta uang saku. Akibatnya ia tidak bisa jajan. “Duh, sial sekali hari ini aku, Jer.” Dido mengeluh kepada Jeri. “Pasti kesiangan lagi.” Rupanya Jeri sudah tahu betul kebiasaan buruk Dido. “Ngomong-omong, aku tidak melihatmu mengumpulkan tugas yang diberi bu guru kemarin?” tanya Jeri.

“Astaga!” Dido lagi-lagi lupa mengerjakan tugas. “Semalam aku asyik bermain game Jer,” aku Dido. “Pasti bu guru memberimu hukuman.” Benar apa yang dikatakan Jeri. Pada jam pelajaran berikutnya Dido dihukum. Ia berdiri di depan kelas sampai pelajaran usai.

Sepanjang perjalanan pulang, Dido merasa sedih. Ini bukan pertama kalinya ia dihukum. Ia terkenal di kelas karena kemalasannya. Bahkan ia tidak jera dengan kebiasaan buruknya itu. Namun hari itu ia merasa berbeda. Ia merasa sangat menyesal atas perbuatannya. Tiba-tiba ia teringat dengan pertanyaan Jeri kemarin. Kado valentine untuk siapa?

Hari valentine tinggal sehari lagi. Berarti besok dong? Gumam Dido dalam hati. Dido ingin memberi kado kepada orang yang disayanginya. Papa dan mama. Apa ya? Pikirnya dalam hati. Aha! Ia tahu harus memberi apa.

Sampai di rumah sudah ada papa dan mama. “Eh anak papa sudah pulang,” sapa papa sambil menonton televisi. “Lho tumben papa sudah pulang,” tanya Dido heran. “Iya, hari ini tidak banyak kerjaan Do. Sana makan siang dulu,” ujar Papa.

Setelah kenyang makan, Dido bersikap lain dari biasanya. Ia membantu mama mencuci alat-alat dapur. Mama terheran-heran melihatnya. “Mama kok ngliatin aku aneh gitu sih?” Mama berhenti mengelap piring. Tersadar oleh pertanyaan Dido. “Eh, kamu tidak menonton televisi? Jam segini kan ada acara kesayanganmu.” Mama bertanya balik. “Nggak ah ma, Dido mau ngerjain PR aja,” jawabnya. Dido berlalu meninggalkan mama. Mama pun bercerita kepada Papa. Mereka lalu memeriksa kamar Dido. Dilihatnya Dido benar-benar sedang mengerjakan pekerjaan rumah.

Keesokan paginya, Dido bangun lebih awal dari biasanya. Bahkan lebih awal dari papa. Ia mandi lalu menyiapkan seragam dan alat sekolahnya sendiri. Mama benar-benar bingung dibuatnya. Dido tidak terlambat hari ini.

Di sekolah, semua anak-anak riuh berbagi coklat. Namun Dido tidak ikut-ikutan. Ia hanya mengucapkan selamat hari valentine pada Jeri. Lalu ia bercerita pada sahabatnya itu tentang rencananya. Jeri tersenyum bahagia mendengarnya. Dido tidak sabar ingin segera pulang.

Dag dig dug. Itulah yang dirasakan Dido. Rupanya ia sudah menanti kedatangan Papa dan Mama. Ia terus melihat jam dinding. Terdengar suara sepeda motor dari luar. Yes! Papa dan mama pulang! Teriak Dido lirih. Saat papa dan mama membuka pintu, Dido berteriak. “Selamat hari valentine Papa dan Mama!” Papa dan Mama terkejut. Ruangan terlihat bersih dan rapi. “Do, kamu membersihkan semua ini?” tanya Mama. “Ini kado valentine buat papa dan mama.” Dido tersenyum-senyum.

“Haha, Dido cuma ingin berubah pa, ma. Dido mau jadi anak yang rajin. Habis nggak enak jadi anak malas,” ujar Dido. Papa dan mama mengerti sekarang. Tidak perlu hadiah coklat atau bunga. Niat baik Dido adalah kado terindah di hari valentine ini. “Terima kasih Dido. Selamat hari valentine!” Papa dan mama mencium pipi Dido.

Adriana Andang Gitasari adriana.andang @gmail.com