Jaman dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Raja Hanung. Raja Hanung dikenal sangat dermawan dan bijaksana oleh rakyatnya. Karena itulah Raja Hanung sangat disegani banyak orang, bahkan dari luar kerajaannya.
Berita mengenai kebaikan Raja Hanung sampai ke telinga Prapto dan Suman, dua orang pemuda dari luar yang sangat menginginkan pekerjaan. Maklum saja, kerajaan mereka sedang dilanda krisis yang berkepanjangan. Mereka berniat untuk mengadu nasib di tempat Raja Hanung.
Sesampainya di batas wilayah kerajaan, mereka dihadang oleh pengawal.
”Ada urusan apa datang kemari?” tanya pengawal.
”Kami mau mencari pekerjaan,” jawab Prapto diiringi anggukan Suman.
Setelah menggeledah barang-barang mereka berdua, pengawal akhirnya memperbolehkan mereka memasuki wilayah kerajaan. Prapto dan Suman sesegera mungkin mencari pekerjaan. Buruh, tukang sapu, tukang masak, apapun itu sudah dicoba. Sayangnya, tidak seorangpun mau menerima mereka karena mereka adalah orang asing. Saat sedang beristirahat di tepi jalan yang panas, rombongan kerajaan kebetulan melintas.
”Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Raja Hanung.
”Maaf, Raja. Kami sedang mencari pekerjaan,” jawab Suman hormat.
”Lalu apakah kalian sudah mendapatkannya?” tanya Raja Hanung lagi.
”Belum, Raja. Kami sedang istirahat, nanti kami lanjutkan lagi,” ujar Prapto. Raja Hanung mengangguk-anggukkan kepala, kemudian berbisik-bisik sebentar kepada penasehatnya.
”Bekerjalah di istana, kami butuh tukang kebun dan koki,” kata Raja Hanung yang kemudian kembali melanjutkan perjalanannya bersama para pengawalnya. Prapto dan Suman berpandangan tidak percaya. Akhirnya mereka bisa memperoleh pekerjaan.

Prapto bekerja sebagai tukang kebun, sementara Suman bekerja sebagai koki istana. Mereka bekerja dengan sangat rajin dan ulet. Hasil pekerjaannya pun memuaskan. Kebun istana menjadi indah dan bersih. Masakan istana juga lebih nikmat. Raja Hanung sangat menyukai hasil kerja mereka.
Sayangnya, upah yang diterima Prapto dan Suman berbeda. Prapto mendapat upah jauh lebih besar dibandingkan Suman. Hal ini membuat Suman sedikit kecewa. Di saat Prapto sudah mampu membelikan lima ekor sapi untuk istrinya di kerajaan sebelah, Suman hanya mampu membelikan satu ekor sapi untuk istrinya. Karena itulah pagi ini setelah selesai memasak sarapan untuk seluruh penghuni istana, Suman mengutarakan rasa kecewanya pada Raja Hanung.
”Ada apa, Suman?” tanya Raja Hanung.
”Maaf, Raja. Saya hanya ingin bertanya, mengapa Raja memberi kami upah yang berbeda? Bukankah kami juga masuk bersama, bekerja di tempat yang sama, dan Raja pun menyukai pekerjaan kami semua?” tutur Suman dengan hati-hati. Raja Hanung tersenyum kecil.
”Kebetulan pagi ini cerah, ayo ikut aku. Akan aku tunjukkan jawabanku,” Raja Hanung beranjak dari singgasananya kemudian berjalan pelan. Suman mengikutinya dari belakang.
Raja Hanung ternyata mengajak Suman mengelilingi istananya yang sangat luas. Tampak bunga-bunga cantik menghiasi sekeliling istana. Pohon-pohon rindang menambah sejuknya istana kala siang hari. Kebun istana yang terletak di belakang istana memiliki bebagai jenis buah dan sayuran yang sehat dan segar disantap.
”Maaf, Raja. Sebenarnya apa maksud Raja mengajak saya berkeliling?” tanya Suman. Selain agak lelah, Suman juga tidak sabar untuk mengetahui jawaban Raja Hanung.
”Hmm… tunggu sebentar, masih ada satu tempat yang perlu kita datangi. Di sana, akan aku berikan jawabannya,” Raja Hanung kembali melangkah. Suman bergegas menyusulnya.
Raja Hanung menghentikan langkahnya ketika tiba di lapangan berkuda istana. Tampak dari jauh Prapto sendirian sedang membersihkan lapangan berkuda. Raja Hanung berbalik badan, menghadap ke arah Suman.
”Kau lihat Prapto di sana, Suman?” kata Raja Hanung sambil menunjuk ke arah Prapto. Suman mengangguk. Raja menghela napas panjang.
”Istana hanya memiliki lima orang tukang kebun. Mereka harus bekerja sama untuk membersihkan seluruh tempat yang tadi kita lewati. Taman, pepohonan, lapangan berkuda, dan kebun istana, setiap harinya hanya dibersihkan oleh lima orang. Sejak subuh sampai sore, mereka terus bekerja di bawah terik matahari. Ketika hari mulai gelap, barulah mereka beristirahat. Meskipun hanya diurus oleh lima orang, lingkungan istana tetap indah. Berkat mereka pula kamu memperoleh bahan makanan yang baik untuk dimasak.
”Sebaliknya denganmu, Suman. Kamu bekerja di dapur istana, tempat yang bersih dan sejuk, dibantu oleh beberapa juru masak yang lain, dan kamu hanya bekerja untuk menyiapkan makan pagi, selebihnya ada koki lain yang mengerjakannya. Kamu sudah tahu jawaban pertanyaanmu, Suman?” Raja Hanung balik bertanya.
”Saya baru tahu kalau pekerjaan Prapto jauh lebih berat dari apa yang saya bayangkan, Raja…” tutur Suman terbata. Raja Hanung tersenyum.
”Apakah upah yang kamu terima terlalu sedikit, Suman? Kalau benar demikian, biar aku tambah saja upahmu,” kata Raja Hanung. Suman menggeleng cepat.
”Apa yang Raja berikan sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya. Sebaiknya Raja memberikan tambahan upah untuk para pekerja kebun istana karena pekerjaan mereka sungguh berat. Menurut saya itu lebih adil untuk mereka, Raja. Harusnya bukan saya yang menanyakan hal ini, tetapi Prapto” jawab Suman. Raja Hanung kaget mendengar penuturan Suman.
Keesokan harinya, Raja Hanung mengumumkan kenaikan upah untuk para pekerja kebun. Hal ini disambut gembira oleh mereka, termasuk Prapto. Suman bahagia mendengar kabar itu. Kadang kala, hal yang menurut kita tidak adil untuk kita ternyata sangat adil bagi orang lain. Biar bagaimanapun, keadilan bukanlah memiliki makna sama rata semata, akan tetapi mendapatkan hak sesuai dengan apa yang sudah diperbuat.
naila Nikmatika hayin_naila @yahoo.co.id