Author: Bayu

  • Kisah si Putri Penggerutu

    Di sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Pujangga hiduplah seorang Raja dan Ratu yang dikaruniai oleh seorang putri. Putri tersebut terkenal dengan kecantikannya. Wajahnya yang putih bagaikan bunga melati, rambutnya yang panjang kemerahan dan pipinya yang kemerahan bagaikan buah tomat yang ranum. Rakyat kerajaan Pujangga sangat bangga dengan putri mereka yang terkenal kecantikannya di seluruh negeri.

    kisah si putri penggerutu

    Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Tumbuhlah sang Putri menjadi dewasa. Sang Putri tetap terlihat cantik seperti semasa waktu kecil. Namun ada yang aneh, Putri yang cantik tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan penggerutu.

    Suatu hari Sang Putri sedang berjalan-jalan di Pasar ditemani dengan dayang-dayangnya.

    “ Selamat pagi tuanku Putri yang cantik jelita, adakah yang bisa kami bantu?’ Tanya penjual buah kepadanya “ Aku ingin sekali buah mangga yang kou miliki itu. Tapi kenapa warnanya hijau, seharusnya buah mangga yang matang berwarna kuning mulus.”

    “ Maaf tuanku putri. Buah mangga ini memang sudang masak. Cobalah dicicipi.”

    “Tidak, biar dayang-dayangku yang mencicipinya.”Ucap Sang Putri Sang Putri pun menyuruh seorang Dayang kepercayaannya untuk mencicipi buah mangga itu “Tuanku putri, buah mangga ini maniS sekali. Betul kata si penjual buah ini” Katanya “Ah yang benar?” Diambilnya buah mangga yang lain….”Ih kamu pembohong, buah ini asam sekali, Aku akan bilang kepada Ayahanda Raja”

    Si penjual buah meminta maaf dan memohon agar sang Putri TIDAK melaporkan hal itu kepada Raja Namun sang Putri tetap mengadukan hal ini kepada Raja Raja marah dan akhirnya menghukum si penjuah buah Sang putri penggerutu tidak hanya menghukun penjual buah, tetapi juga anak lelaki yang berkuda, penjual cincin, dll hanya karena sang Putri kesal dengan mereka Lama kelamaan penjara Kerajaan Pujangga penuh, desa-desa serta pasar menjadi sepi karena penduduk banyak dipenjara gara-gara sang Putri Penggerutu.

    Sampai sang Putri menjadi sendirian, tidak punya teman karena sifatnya yang sombong, penggerutu dan suka mengadu pada ayahnya… Suatu saat sang Putri termenung, seharian dia sendiri, rasa bosan kembali menyelimuti hatinya…tiba-tiba seekor monyet kecil bergelantungan di dekat pohon tempat sang Putri berteduh…dan melempari sang Putri dengan buah2an yang ada di Pohon sambil meneriaki…”Putri penggerutu…putri yang sombong…putri yang tidak punya teman”

    Akhirnya sang Putri berlari sambil menangis. Akhirnya dia tersadar bahwa sikapnya selama ini ke rakyatnya salah. Akhirnya dia menceritakan semua kepada sang Raja dan menyesali perbuatannya. Sang Raja pun memaklumi perbuatan Putri dan Putri harus belajar akan kesalahannya itu. Sang Putri harus meminta maaf kepada seluruh rakyat kerajaan Pujangga. Dan akhirnya Sang Putri menjadi lebih sering bergaul dengan Rakyat dan membantu mereka yang kesusahan. Kerajaan Pujanggapun semakin tersohor akan kecantikan dan kebaikan hati Putri Raja yang mereka miliki.

    YULI ARINTA DEWI yuliarinta @yahoo.co.id

  • Keadilan untuk Sang Koki Istana

    Jaman dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Raja Hanung. Raja Hanung dikenal sangat dermawan dan bijaksana oleh rakyatnya. Karena itulah Raja Hanung sangat disegani banyak orang, bahkan dari luar kerajaannya.

    Berita mengenai kebaikan Raja Hanung sampai ke telinga Prapto dan Suman, dua orang pemuda dari luar yang sangat menginginkan pekerjaan. Maklum saja, kerajaan mereka sedang dilanda krisis yang berkepanjangan. Mereka berniat untuk mengadu nasib di tempat Raja Hanung.

    Sesampainya di batas wilayah kerajaan, mereka dihadang oleh pengawal.

    ”Ada urusan apa datang kemari?” tanya pengawal.

    ”Kami mau mencari pekerjaan,” jawab Prapto diiringi anggukan Suman.

    Setelah menggeledah barang-barang mereka berdua, pengawal akhirnya memperbolehkan mereka memasuki wilayah kerajaan. Prapto dan Suman sesegera mungkin mencari pekerjaan. Buruh, tukang sapu, tukang masak, apapun itu sudah dicoba. Sayangnya, tidak seorangpun mau menerima mereka karena mereka adalah orang asing. Saat sedang beristirahat di tepi jalan yang panas, rombongan kerajaan kebetulan melintas.

    ”Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Raja Hanung.

    ”Maaf, Raja. Kami sedang mencari pekerjaan,” jawab Suman hormat.

    ”Lalu apakah kalian sudah mendapatkannya?” tanya Raja Hanung lagi.

    ”Belum, Raja. Kami sedang istirahat, nanti kami lanjutkan lagi,” ujar Prapto. Raja Hanung mengangguk-anggukkan kepala, kemudian berbisik-bisik sebentar kepada penasehatnya.

    ”Bekerjalah di istana, kami butuh tukang kebun dan koki,” kata Raja Hanung yang kemudian kembali melanjutkan perjalanannya bersama para pengawalnya. Prapto dan Suman berpandangan tidak percaya. Akhirnya mereka bisa memperoleh pekerjaan.

    koki istana

    Prapto bekerja sebagai tukang kebun, sementara Suman bekerja sebagai koki istana. Mereka bekerja dengan sangat rajin dan ulet. Hasil pekerjaannya pun memuaskan. Kebun istana menjadi indah dan bersih. Masakan istana juga lebih nikmat. Raja Hanung sangat menyukai hasil kerja mereka.

    Sayangnya, upah yang diterima Prapto dan Suman berbeda. Prapto mendapat upah jauh lebih besar dibandingkan Suman. Hal ini membuat Suman sedikit kecewa. Di saat Prapto sudah mampu membelikan lima ekor sapi untuk istrinya di kerajaan sebelah, Suman hanya mampu membelikan satu ekor sapi untuk istrinya. Karena itulah pagi ini setelah selesai memasak sarapan untuk seluruh penghuni istana, Suman mengutarakan rasa kecewanya pada Raja Hanung.

    ”Ada apa, Suman?” tanya Raja Hanung.

    ”Maaf, Raja. Saya hanya ingin bertanya, mengapa Raja memberi kami upah yang berbeda? Bukankah kami juga masuk bersama, bekerja di tempat yang sama, dan Raja pun menyukai pekerjaan kami semua?” tutur Suman dengan hati-hati. Raja Hanung tersenyum kecil.

    ”Kebetulan pagi ini cerah, ayo ikut aku. Akan aku tunjukkan jawabanku,” Raja Hanung beranjak dari singgasananya kemudian berjalan pelan. Suman mengikutinya dari belakang.

    Raja Hanung ternyata mengajak Suman mengelilingi istananya yang sangat luas. Tampak bunga-bunga cantik menghiasi sekeliling istana. Pohon-pohon rindang menambah sejuknya istana kala siang hari. Kebun istana yang terletak di belakang istana memiliki bebagai jenis buah dan sayuran yang sehat dan segar disantap.

    ”Maaf, Raja. Sebenarnya apa maksud Raja mengajak saya berkeliling?” tanya Suman. Selain agak lelah, Suman juga tidak sabar untuk mengetahui jawaban Raja Hanung.

    ”Hmm… tunggu sebentar, masih ada satu tempat yang perlu kita datangi. Di sana, akan aku berikan jawabannya,” Raja Hanung kembali melangkah. Suman bergegas menyusulnya.

    Raja Hanung menghentikan langkahnya ketika tiba di lapangan berkuda istana. Tampak dari jauh Prapto sendirian sedang membersihkan lapangan berkuda. Raja Hanung berbalik badan, menghadap ke arah Suman.

    ”Kau lihat Prapto di sana, Suman?” kata Raja Hanung sambil menunjuk ke arah Prapto. Suman mengangguk. Raja menghela napas panjang.

    ”Istana hanya memiliki lima orang tukang kebun. Mereka harus bekerja sama untuk membersihkan seluruh tempat yang tadi kita lewati. Taman, pepohonan, lapangan berkuda, dan kebun istana, setiap harinya hanya dibersihkan oleh lima orang. Sejak subuh sampai sore, mereka terus bekerja di bawah terik matahari. Ketika hari mulai gelap, barulah mereka beristirahat. Meskipun hanya diurus oleh lima orang, lingkungan istana tetap indah. Berkat mereka pula kamu memperoleh bahan makanan yang baik untuk dimasak.

    ”Sebaliknya denganmu, Suman. Kamu bekerja di dapur istana, tempat yang bersih dan sejuk, dibantu oleh beberapa juru masak yang lain, dan kamu hanya bekerja untuk menyiapkan makan pagi, selebihnya ada koki lain yang mengerjakannya. Kamu sudah tahu jawaban pertanyaanmu, Suman?” Raja Hanung balik bertanya.

    ”Saya baru tahu kalau pekerjaan Prapto jauh lebih berat dari apa yang saya bayangkan, Raja…” tutur Suman terbata. Raja Hanung tersenyum.

    ”Apakah upah yang kamu terima terlalu sedikit, Suman? Kalau benar demikian, biar aku tambah saja upahmu,” kata Raja Hanung. Suman menggeleng cepat.

    ”Apa yang Raja berikan sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya. Sebaiknya Raja memberikan tambahan upah untuk para pekerja kebun istana karena pekerjaan mereka sungguh berat. Menurut saya itu lebih adil untuk mereka, Raja. Harusnya bukan saya yang menanyakan hal ini, tetapi Prapto” jawab Suman. Raja Hanung kaget mendengar penuturan Suman.

    Keesokan harinya, Raja Hanung mengumumkan kenaikan upah untuk para pekerja kebun. Hal ini disambut gembira oleh mereka, termasuk Prapto. Suman bahagia mendengar kabar itu. Kadang kala, hal yang menurut kita tidak adil untuk kita ternyata sangat adil bagi orang lain. Biar bagaimanapun, keadilan bukanlah memiliki makna sama rata semata, akan tetapi mendapatkan hak sesuai dengan apa yang sudah diperbuat.

    naila Nikmatika hayin_naila @yahoo.co.id

  • Hidung Babi

    Di sebuah hutan tinggallah seekor anak babi. Layaknya babi-babi pada umumnya, ia memiliki badan yang bulet gemuk kulit berwarna keputihan dan hidung bulet seperti kaleng. Setiap kali bermain-main dengan anak binatang lain, si babi kecil ini selalu diejek temannya dan dipanggil dengan sebutan si hidung kaleng. Babi ini sangat sedih dan kecewa dengan ejekan temannya itu. “Tuhan, kenapa aku lahir sebagai babi, sehingga aku memiliki hidung yang jelek ini.” Kata si babi kecil dalam hatinya.

    Hidung Babi

    Suatu sore ketika babi kecil ini sedang minum di sungai tiba-tiba terdengar suara dari seberang sungai, “Hoeekk … teman-teman, jangan minum dari sungai ini karena sungai ini sudah tercemar hidung jelek babi itu.” Kata seekor anak rusa kepada teman-temannya sambil berlari meninggalkan sungai.

    Hiks … hiks … si babi kecil ini menangis karena sedih. Dan masuk ke hutan sambil terus berkata, “aku tidak mau hidung jelek ini …” sambil memukul-mukul hidungnya.

    Sampai di tengah hutan si babi kecil ini dilihat oleh seekor monyet bijaksana yang dikenal sebagai sesepuh hutan. Si monyet sesepuh itu langsung menghampiri si babi kecil itu.

    “Ada apa dengan hidungmu??” tanya si monyet pada si babi kecil yang matanya memerah karena menagis dan hidungnya membiru karena dia pukuli sendiri.

    “Tuan monyet, aku tidak mau hidung jelek ini, maukah kamu membantuku mengambil hidung jelek ini dari wajahku?” Jawab si babi kecil.

    “Hey hey … “ kata si monyet. “Babi kecil, kamu memiliki kulit yang putih bersih nan indah, juga badan yang gemuk, bukankah itu bagus.”

    “Ya benar, kulit dan badanku yang gemuk ini memang bagus, tapi aku punya hidung yang jelek. Aku tidak mau hidung ini.” Kata si babi kecil.

    “Nak, kamu tahu, dibandingkan badan gemuk dan kulit putihmu yang indah itu, sebenarnya hidung yang katamu jelek itu adalah yang paling berguna bagi hidupmu.” Kata si monyet. “Jika kamu tidak punya hidung, maka kamu tidak akan bisa bernafas dan meskipun kamu makan banyak sehingga badanmu gemuk dan kulitmu sangat indah karena kamu madikan terus kamu akan mati. Dengan kata lain, hidungmu itulah yang membuat kamu bisa hidup.”

    “Benarkah??” kata si babi kecil.

    “Kau mau coba kuambil hidungmu itu?? Tapi jika nanti kamu mati jangan salahkan aku.” Kata si monyet.

    Si babi kecil menggelengkan kepala.

    Si monyet melanjutkan kata-katanya, “berbanggalah karena kamu mempunyai hidung seperti itu. Badan yang gemuk juga dimiliki oleh banyak binatang, demikian juga kulit putih bersih banyak binatang memilikinya. Akan tetapi hidung seperti kaleng, hanya kamu, si babi yang punya. Kasihan hidungmu yang berharga itu jika kamu pukuli terus. Mulai saat ini janjilah untuk menyayangi hidung kalengmu itu.”

    Si Babi menganggukkan kepala dengan lantang dan mulai tersenyum.

    Dan sejak saat itu, jika ia diejek hidungnya dan dipanggil dengan sebutan hidung kaleng si babi kecil ini selalu tersenyum dan mengatakan “terima kasih.”

    Yunarvian yunarviantp @ymail.com

  • Kado Valentine

    Oleh: Adriana Andang Gitasari

    “Dido, kamu mau ngasih kado siapa besok hari valentine?” tanya Jeri membuyarkan lamunan Dido. “Oh, valentine? Aku tidak tahu. Lagian selama ini aku tidak pernah merayakannya.” Jawab Dido datar. “Kalau aku sih, mau ngasih Tata coklat, hehehe”. Jeri tertawa kecil. “Dasar kamu ini kecil-kecil udah mulai pacaran ya.” Dido meledek Jeri. “Ngaco kamu. Tata kan kemarin sudah menolongku waktu terjatuh dari sepeda. Aku cuma ingin berterima kasih,” sanggah Jeri. Tak lama kemudian bel berbunyi. Mereka pun masuk kelas.

    Kado Valentine

    Sepulang sekolah, Dido bermalas-malasan di rumah. Ia terus menonton televisi. Sampai ia tidak sadar orangtuanya sudah pulang. “Lho, mama kapan pulang?” tanya Dido. “Dasar kamu, mama sudah pulang daritadi lho.” Dido tetap saja menonton televisi. Mama yang memperhatikan kelakuan Dido menjadi jengkel.

    “Dido! Cepat mandi, lalu makan. Jangan lupa kerjakan PR ya,” perintah Mama. Bukannya menuruti perintah Mama, Dido malah asyik bermain game di komputer. “Lho kamu itu gimana sih, ayo…” sebelum Mama selesai bicara, Dido segera menimpalinya. “Ah mama, daritadi ngomel-ngomel. Dido lagi asyik main ma.” Mama menghela napas panjang. Mama berlalu meninggalkan Dido. Dido tetap bermain game sampai larut malam.

    Paginya Dido bangun kesiangan. “Mama gimana sih, kenapa tidak membangunkanku?” Dido marah. “Lho siapa suruh main game sampai larut malam. Cepat mandi, papamu sudah menunggu,” kata Mama. Dido terburu-buru sampai lupa sarapan.

    Sampai di sekolah, perut Dido terus keroncongan. Ia lupa meminta uang saku. Akibatnya ia tidak bisa jajan. “Duh, sial sekali hari ini aku, Jer.” Dido mengeluh kepada Jeri. “Pasti kesiangan lagi.” Rupanya Jeri sudah tahu betul kebiasaan buruk Dido. “Ngomong-omong, aku tidak melihatmu mengumpulkan tugas yang diberi bu guru kemarin?” tanya Jeri.

    “Astaga!” Dido lagi-lagi lupa mengerjakan tugas. “Semalam aku asyik bermain game Jer,” aku Dido. “Pasti bu guru memberimu hukuman.” Benar apa yang dikatakan Jeri. Pada jam pelajaran berikutnya Dido dihukum. Ia berdiri di depan kelas sampai pelajaran usai.

    Sepanjang perjalanan pulang, Dido merasa sedih. Ini bukan pertama kalinya ia dihukum. Ia terkenal di kelas karena kemalasannya. Bahkan ia tidak jera dengan kebiasaan buruknya itu. Namun hari itu ia merasa berbeda. Ia merasa sangat menyesal atas perbuatannya. Tiba-tiba ia teringat dengan pertanyaan Jeri kemarin. Kado valentine untuk siapa?

    Hari valentine tinggal sehari lagi. Berarti besok dong? Gumam Dido dalam hati. Dido ingin memberi kado kepada orang yang disayanginya. Papa dan mama. Apa ya? Pikirnya dalam hati. Aha! Ia tahu harus memberi apa.

    Sampai di rumah sudah ada papa dan mama. “Eh anak papa sudah pulang,” sapa papa sambil menonton televisi. “Lho tumben papa sudah pulang,” tanya Dido heran. “Iya, hari ini tidak banyak kerjaan Do. Sana makan siang dulu,” ujar Papa.

    Setelah kenyang makan, Dido bersikap lain dari biasanya. Ia membantu mama mencuci alat-alat dapur. Mama terheran-heran melihatnya. “Mama kok ngliatin aku aneh gitu sih?” Mama berhenti mengelap piring. Tersadar oleh pertanyaan Dido. “Eh, kamu tidak menonton televisi? Jam segini kan ada acara kesayanganmu.” Mama bertanya balik. “Nggak ah ma, Dido mau ngerjain PR aja,” jawabnya. Dido berlalu meninggalkan mama. Mama pun bercerita kepada Papa. Mereka lalu memeriksa kamar Dido. Dilihatnya Dido benar-benar sedang mengerjakan pekerjaan rumah.

    Keesokan paginya, Dido bangun lebih awal dari biasanya. Bahkan lebih awal dari papa. Ia mandi lalu menyiapkan seragam dan alat sekolahnya sendiri. Mama benar-benar bingung dibuatnya. Dido tidak terlambat hari ini.

    Di sekolah, semua anak-anak riuh berbagi coklat. Namun Dido tidak ikut-ikutan. Ia hanya mengucapkan selamat hari valentine pada Jeri. Lalu ia bercerita pada sahabatnya itu tentang rencananya. Jeri tersenyum bahagia mendengarnya. Dido tidak sabar ingin segera pulang.

    Dag dig dug. Itulah yang dirasakan Dido. Rupanya ia sudah menanti kedatangan Papa dan Mama. Ia terus melihat jam dinding. Terdengar suara sepeda motor dari luar. Yes! Papa dan mama pulang! Teriak Dido lirih. Saat papa dan mama membuka pintu, Dido berteriak. “Selamat hari valentine Papa dan Mama!” Papa dan Mama terkejut. Ruangan terlihat bersih dan rapi. “Do, kamu membersihkan semua ini?” tanya Mama. “Ini kado valentine buat papa dan mama.” Dido tersenyum-senyum.

    “Haha, Dido cuma ingin berubah pa, ma. Dido mau jadi anak yang rajin. Habis nggak enak jadi anak malas,” ujar Dido. Papa dan mama mengerti sekarang. Tidak perlu hadiah coklat atau bunga. Niat baik Dido adalah kado terindah di hari valentine ini. “Terima kasih Dido. Selamat hari valentine!” Papa dan mama mencium pipi Dido.

    Adriana Andang Gitasari adriana.andang @gmail.com

  • Jilly sang Anjing Nakal

    Kamu tahu kan?! Di negara Indonesia tercinta ini pasti ada ibukotanya, yaitu Jakarta.. yaa di Jakarta ada ada sebuah kompleks bernama Mutiara Jakarta, Ada sebuah rumah yang sangaaaaat besar! Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang cantik dan pintar bernama Daisy.

    Jilly sang Anjing Nakal

    Daisy mempunyai 3 ekor Anjing, induknya diberi nama Jellya, mempunyai 2 anak bernama Jilly dan Jelly. Jilly berwarna Hitam dan Jelly berwarna Putih, Jelly mempunyai sifat yang baik sementara Jilly tidak.

    “Jellya,Jilly,Jelly kemari!” panggil Daisy.

    “Guk guk guk!!” balas para anjing dengan bahasa nya sendiri.

    “Sini Aku mau kasih makan sama kalian!” kata Daisy.

    “Guk guk guk guk!” jawab para anjing dengan semangat.

    Saat Daisy memberi makan 3 anjingnya Jilly lah yang yang paling tidak sopan saat memakan makanan jatahnya. Daisy hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat Jilly seperti itu.

    Suatu hari Mama Lucy, Mamanya Daisy menaruh kaus kakinya di depan teras..

    “Daisy!!! buang Jilly anjing nakal itu! Dia sudah memakan kaus kaki Mama!!” teriak Mama Lucy emosi.

    “Ta..ta..tapi Ma! Eeeuuh eee jangan Ma!! Aku janji akan mengajari Jilly.. janji Maa” jawab Daisy sedih.

    “Tapi, kalau Anjingmu terus seperti itu, Mama akan masukan Jilly ke Sekolah Binatang!!” ancam Mama Lucy.

    “Jangan Ma.” jawab Daisy.

    “Tidak ada tapi tapian jangan janganan!” teriak Mama Lucy.

    “Baiklaah..” jawab Daisy terpaksa.

    “Jilly, kamu harus baik baik yaa biar kamu nggak di masukan ke Sekolah Binatang sama Mamaku!” Curhat Daisy ke Jilly.

    ..

    “Jilly, aku tinggal dulu yaa!” pamit Daisy.

    ..

    “Waaah kalau Aku nakal, Aku jadi di sayang! Aku nakal terus aaah.” gumam Jilly.

    Beberapa waktu yang sudah disediakan Mama Lucy untuk melatih Jilly telah usai..

    “Daisy, saatnya kamu membawa Jilly ke Sekolah Binatang!” teriak Mama Lucy.

    “Hueh.. euh.. i..iya Maa” jawab Daisy gugup.

    “Yuk, Mama antar!” ajak Mama Lucy.

    “I..iya Maa” balas Daisy.

    Di mobil, Jilly sedang di elus elus oleh Daisy, Jilly makin yakin bahwa kalau ia nakal pasti ia akan di sayang!

    “Sudah sampai Daisy sayang,” ucap Mama.

    “he-euh Ma..” balas Daisy sedih.

    “Ayo daftarkan Jilly!” teriak Mama Lucy bersemangat.

    “Baik, Maa”

    Setelah Mama Lucy, Daisy dan Jilly masuk ke dalam Animal School Cute, Mama Lucy segera mendaftarkan Jilly.

    “Mbak, daftar Hewan baru ya.” kata Mama Lucy.

    “Baik Bu.. binatang apa dan namanya siapa ya?” tanya Mbak Zushee.

    “Binatang Anjing, Namanya Jilly,” jelas Mama Lucy.

    “Baik Bu…, eeuh Bu, mau berapa lama yaa? Atau terserah sekolah ini, sampai dia baik?” jawab Mbak Zushee seraya bertanya.

    “Ya Mbak, sampai dia jadi anjing yang manis!” jawab Mama Lucy singkat.

    “Uuuuh Mama jangan segitunya 1 minggu ajaaa” bantah Daisy.

    “Tidak!” kata Mama Lucy.

    “Yaaah elaaah,” sesal Daisy.

    Jilly segera di bawa ke tempat Sekolah Anjing..

    “Jilly Good byee” kata Daisy mengucapkan salam.

    “Guk guk..” balas Jilly.

    “Tuh kaan kalau Aku nakal, Aku jadi disayang! Di sana banyak sekali mainan yang kelihatannya sangat mengasyikkan! Pasti Mama dan Jelly segera kesini.” Pikir Jilly..

    Di sana selama dia dilatih, Jilly di didik paksa di kasih makan hanya sedikit tidak enak pula!

    “Aku sedih, tidak seperti yang ku bayangkan! Aku ingin pulang.. pulang….pulang Mama.. Jelly! Kak Daisy, Mama Lucy.. Papa Gerald, makanan banyak….. berkumpul bersama aku rindu!” Pikir Jilly sedih tampak air mata jatuh di pelupuk Mata Jilly.

    “Ups! Bagaimana kalau aku jadi anjing baik, supaya bisa keluar dari tempat ini!” Kata Jilly. Akhirnya Jilly berusaha jadi Anjing baik.

    2 bulan sudah terlewati, di Animal School Cute suka dan duka di alami Jilly.

    “Apakah Aku bisa pulang?” Gumam Jilly.

    Sementara para pelatih anjing melaporkan, tentang kebaikan Jilly, Mbak Zushee segera menelpon Mama Lucy dan mengabarkan bahwa Jilly sudah jadi anjing kecil yang baik serta manis.

    Di seberang sana.. di rumah keluarga Gerald..

    “Baik Mbak, terimakasih Mbak Zushee, ya” kata Mama Lucy.

    “Siapa Ma?!” tanya Daisy penuh harap.

    “Mbak Zushee” jawab Mama Lucy.

    “Dia ngomong apa Ma?” tanya Daisy mulai senang.

    “Jilly sudah bisa pulang!” jawab Mama Lucy tersenyum lembut.

    “Yey! Aku tahu Jilly, kamu pasti bisa!” sorak Daisy.

    Mama Lucy hanya tertawa melihat tingkah anak semata wayang nya.

    “Ayuk Ma, kita berangkat!!” ajak Daisy.

    “Iya sayang.. jangan lupa bawa Jelly sama Jellya!” jawab Mama.

    “Iya Ma..”

    Daisy segera siap-siap tak lupa dia membawa Jelly sekaligus Jellya.

    “Kita ketemu Jilly ya!” kata Daisy senang.

    “Guk guk guk!”

    Setelah sampai disana, Daisy segera membuka pintu mobil dan berlari bersama Jelly dan Jellya, terlihat Jilly sedang duduk lesu.

    “Jilly!!!” teriak Daisy.

    “Guk guk guk guuuk!” kata Jelly dan Jellya.

    “Guk guk guk guk!” balas Jilly.

    Singkat cerita, Jilly, Jelly dan Jellya bisa berkumpul lagi, dan Jilly berusaha menjaga sikapnya, kisah itu menjadi pelajaran yang sangat baik bagi dirinya.

    Nama: Syarrifa Fauzia Pramodya Ramadhina.

    Sekolah: School Of Universe

    Tanggal lahir: 16, Desember, 2000

    e-mail: syarrifafauzia @yahoo.com

  • Tamasya Ke Kampung Halaman

    Di pinggiran metropolitan hiduplah keluarga yang hidupnya sangat sederhana, itulah keluarga kami, aku adalah anak tunggal yang tidak memiliki adik ataupun kakak, setiap hari aku hanya makan seadanya terkadang hanya makan nasi dengan mie atau roti kalau ada, aku jarang sekali bepergian atau berjalan-jalan kecuali karena suatu sebab mendadak. Pada suatu hari aku berjalan-jalan ke Taman Safari karena mendapatkan juara satu di kelasku. Aku berangkat bersama teman–temanku yang lain. Begitu senangnya hatiku, bisa berjalan-jalan ke tempat itu. Kami berangkat menggunakan bis, aku duduk di samping kedua orang tuaku, begitu sampai di Taman Safari kami berkeliling dengan bis itu melihat-lihat berbagai binatang yang berada di situ, setelah puas rombongan kami berhenti di sebuah lapangan berumput hijau lalu kami membuka beberapa tikar yang cukup untuk orang yang ikut rombongan di bis yang kami tumpangi.

    Semua membuka bekal masing-masing kecuali aku, aku tak punya bekal, aku duduk termenung tiba-tiba ada orang yang mencolek punggungku lalu ia bertanya “Kamu mau makan?”. Aku menjawab pelan “Sedikit saja bu” kataku malu –malu, lalu orang itu memberikan nasi dan daging banyak sekali, “Bu kok banyak sekali ?” kataku, “Kalau kebanyakan berikan kepada orang tuamu, nak panggil orang tuamu ibu mau berkenalan”, seteah aku makan dan orang tuaku sudah berkenalan, kami pulang ke rumah. Setelah sampai aku tertidur pulas di atas kursi panjang.

    Setahun kemudian ibu yang bertemu di Taman Safari itu ke rumahku membawakan kue tart tiga bungkus, uang sebanyak Rp. 100.000.00 [ seratus ribu rupiah ] dan durian montong sebanyak dua buah, kami segera mengucapkan terima kasih kepadanya. Dan kami juga bersyukur mendapatkan uang sebesar itu karena sudah beberapa tahun kami tidak pernah lagi pulang ke kampung ayah, maka uang itu digunakan untuk pergi ke kampung ayah. Di sana aku sangat bahagia karena bisa bertemu keluarga yang dari dulu kuidam idamkan karena sudah lama tidak bertemu. Pada waktu sholat Idul Fitri aku melihat ibu yang telah memberikan uang kepadku dulu, rupanya dia juga warga dari kampung ayah yang sudah lama tinggal di Jakarta. Kami segera berpelukan dan saling bermaaf-maafan.

    Oleh Aisyah As-Salafiyah

    abuaisy1979 @yahoo .com

  • Ulang Tahun Si Siti

    Sore itu, Pak Somad mengayuh becak tuanya yang tak berpenumpang menuju rumah. Sejenak ia berhenti untuk menyeka peluh di keningnya yang meluncur dengan deras. Meski matahari telah condong ke ufuk barat, rasanya panasnya masih agak terik, walaupun tidak sepanas siang tadi. Rumah Pak Somad memang agak jauh di pinggir kota, kira-kira sekitar 3 km ke arah timur. Sesekali Pak Somad melihat-lihat di beberapa persimpangan jalan yang dilewati, kalau-kalau ada penumpang yang ingin menggunakan jasanya searah dengan jalan pulang ke rumah. Sementara itu, becak yang dikayuhnya melaju agak sedikit kencang dan kadang terdengar berderit-derit ketika harus belok, mungkin karena pelk becak yang sudah tua. Sambil terus mengayuh, Ia teringat kembali kata-kata anaknya yang semata wayang, pagi tadi sebelum ia berangkat.

    “Siti besok minta dibelikan kue ulang tahun ya pak….nanti Siti akan undang teman-teman ke rumah….”.

    Ia tertegun sejenak, dan kemudian segera menepikan becaknya dibawah pohon yang agak rindang di pinggir jalan. Semilir angin pepohonan sedikit menyejukkan tubuh Pak Somad yang terasa agak panas. Ia menyeka peluhnya dengan kaos yang dia kenakan. Ia agak kaget, karena sebelumnya Siti tidak pernah meminta ulang tahunnya dirayakan. Di keluarganya sekalipun tak pernah ada tradisi merayakan hari ulang tahun….Jangankan untuk merayakan dan membeli kue ulangtahun, untuk makan sehari-hari saja susah. Tapi keinginan Siti sepertinya tak dapat ditolak, ia selalu merengek-rengek dan minta sekali ini saja ulangtahunnya dirayakan dengan memotong kue dan meniup lilin. Pak Somad teringat ketika Siti sakit panas beberapa waktu yang lalu, Siti selalu mengigau “ kue ulangtahun ya bu…, nanti Siti mau undang teman-teman…’, terus kata-kata itu di ulang-ulangnya. Seketika, ia dan istrinya berjanji pada Siti bahwa ulangtahunnya nanti akan dirayakan dengan meniup lilin dan memotong kue.

    Pak Somad tersadar ketika bunyi klakson truk yang lewat menyentaknya. Sesaat kemudian ia merogoh kantong celananya, dan mengambil uang yang terkumpul hari itu. Uang kertas yang terkumpul terlihat lusuh dan kumal, terdiri dari beberapa pecahan limaribuan dan seribuan, ditambah beberapa keping uang logam. Seluruhnya terkumpul Rp 38.000,00. Ia menatap ke atas awan, seolah-olah ia bersyukur. Pendapatan hari ini agak lebih dari biasanya, karena biasanya, rata-rata sehari Ia hanya mendapat uang sekitar Rp 25.000. Kelebihan pendapatan ini bisa menambah uang untuk membeli kue ulang tahun anaknya, yang sudah lama ia janjikan, demikian pikirnya. Pak Somad sadar, bahwa hari ulang tahun anaknya itu jatuh esok hari….ulang tahun yang ke 5. Berarti nanti malam ia dan istrinya harus ke toko kue untuk membeli kue ulang tahun.

    Ia segera mengayuh lagi becaknya menuju rumah. Ia harus segera menyetorkan hasil pendapatan becaknya hari ini ke istrinya, dan berharap mudah-mudahan uang untuk membeli kue sudah cukup.

    Ketika tiba di rumah, Siti ternyata telah menunggunya di beranda sejak beberapa saat yang lalu. Seakan-akan Siti ingin orangtuanya segera membeli kue ulang tahunnya untuk besok.

    ”Pak, tadi siang Siti sudah undang teman-teman Siti loh pak…, Ira, Ani, Udin, Tono, dan banyak lagi pak…kira-kira 10 orang..’. begitu cerocos Siti ketika bapaknya tiba di halaman rumah. ”Nanti kita jadi beli kue ulangtahun khan Pak…?” Pak Somad hanya tersenyum kecil sambil mengandeng Siti ke dalam rumah. “ ayo ambilkan minum ayah dulu …”

    Pak Somad dan istrinya sebenarnya heran, kenapa tiba-tiba anaknya meminta dirayakan ulangtahunnya. Padahal sebelumnya tak pernah Siti sampai merengek-rengek seperti itu. Menurut cerita istrinya, sebulan lalu memang Siti diundang Imah, anak tetangganya berulang tahun. Seminggu kemudian setelah acara ulangtahun itu, Siti bercerita kepadanya bahwa Imah sekarang sudah memiliki sepeda baru. Sepeda itu menurut Siti adalah hasil dari doa Imah ketika Imah berulang tahun. Waktu ulang tahun, Siti masih ingat, Imah mengucapkan doa. ‘Ya Allah, Imah ingin punya sepeda yang baru…, Amin’ yang kemudian diringi acara meniup lilin di atas kue ulang tahunnya. Dan ternyata, kini Imah telah memiliki sepeda barunya. Dan sejak itu, Siti berpikir, kalo ia melakukan cara seperti si Imah, pasti keinginannya akan segera terwujud. Itu sebabnya Siti selalu merengek-rengek dan minta dibelikan kue dan lilin saat ulang tahunnya kelak tiba, biar ia bisa berdoa sambil meniup lilin di atas kue ulangtahunnya. Ia terkesan karena doa si Imah langsung dikabulkan. Menurut Siti, seandainya apa yang selalu ia inginkan dapat segera terwujud dengan cara itu, alangkah bahagianya dia. Demikian penjelasan istri Pak Somad…Pak Somad segera tersadar, bahwa apa yang dipikirkan oleh Siti sebenarnya pemikiran yang polos dari seorang anak kecil…bahwa menurut Siti, suatu keinginan itu dapat diraih hanya dengan doa, tak perlu kerja keras dan bekerja. Ini adalah suatu hal yang harus diluruskan, agar Siti tidak terjebak pada pemikiran itu terus menerus. Pak Somad ingin agar Siti tahu bahwa, setiap apapun yang diinginkan dan dicita-citakan harus diraih dengan usaha dengan disertai doa. Tidak semata-mata hanya doa saja…..Tapi Pak Somad dan istrinya sudah terlanjur berjanji bahwa besok, di hari ulangtahunnya, mereka akan membelikan kue ulangtahun.

    “Tiup lilinnya…tiup lilinnya…tiup lilinnya sekarang juga…sekarang ju..gaa…sekarang…ju…ga” demikian nyanyian bocah-bocah kecil yang mengelilingi Siti, sambil bertepuk tangan riang gembira. “Ucapkan keinginan Siti dulu sebelum meniup lilinnya ya…” sahut seorang ibu yang mengantarkan salah satu anaknya….Ini lah waktu yang ditunggu-tunggu Siti, mengucapkan keinginannya…….

    ”Ya Allah…Siti ingin bapak tidak bekerja lagi menjadi tukang becak…Siti ingin bapak punya toko supaya bapak bisa terus bersama dengan Siti dan ibu sambil menjaga toko…amin…”.

    Siti lalu meniup lilin yang menyala diatas kue tart coklat yang dihiasi namanya dan angka yang menunjukkan umur Siti. Wussss…wuss…wusss, tiga kali Siti menghembuskan udara di mulutnya sehingga nyala lilin padam.

    Sejenak Pak Somad dan istrinya tertegun mendengar ucapan Siti…..tanpa bisa berkata sepatah katapun……

    Suprianto suprianto2006@yahoo.com

  • Petualangan Aira

    “Halo, selamat pagi!“

    Sang mentari menyapa dengan ramah. Sinarnya yang keemasan perlahan-lahan mulai mengelus wajah bumi. Penghuni bumi mulai merasakan kehangatannya.

    “Ah…… segarnya pagi ini.” Aira terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri –seri.

    “Selamat pagi Embuni! Selamat pagi Kupu-kupu“, sapanya dengan ramah.

    Aira adalah setetes air. Ia bertengger di atas sehelai daun melati.

    “Aira, hari ini kamu lebih cerah dari biasanya,” kata Kupu-kupu.

    “Apakah kesedihanmu sudah hilang? Apa obatnya?“ Tanya Embuni.

    “Aku tidak bersedih lagi. Hari ini Ibu akan mengajakku untuk melihat dunia dan menunjukkan kepadaku betapa berartinya aku.”

    Kemarin, Aira bersedih. Ia merasa tidak berarti. Ia tidak seperti Lebah yang menghasilkan madu.. Ia tidak bisa terbang. Ia juga tidak seperti bunga yang berbau harum. Ia hanyalah setetes air yang akan lenyap bila terkena panas matahari. Hal inilah yang mengganggu pikirannya berhari – hari, sehingga ia selalu nampak murung. Namun, hari ini ia gembira karena ibunya akan mengajaknya memulai petualangan baru.

    “Kapan kita mulai berpetualang, Bu?” tanyanya tak sabar kepada Ibunya.

    “Sebentar lagi. Kita tunggu sampai sinar matahari mengenai tubuhmu.“ “Tapi Bu, Bukankah tubuh kita bila kena sinar matahari akan lenyap? Lalu…..?”

    “Sabarlah! Nanti akan ibu ceritakan“ kata Ibunya dengan senyum penuh arti.

    Saat yang dinantikan tiba. Perlahan sinar Sang Surya mulai menyentuh tubuh Aira. Aneh! Tubuhnya terasa sangat ringan!

    “Ibu, mengapa tubuhku sangat ringan?“

    “Anakku, karena terkena panas tubuh kita berubah bentuk menjadi uap air. Coba rasakan! Tubuhmu ringan bukan?”

    “Betul, Bu! Hei, lihat aku terbang! Aku melayang“ Aira berteriak kegirangan. Ia tidak pernah membayangkan bisa terbang seperti kupu-kupu.

    “Tubuhmu melayang karena terbawa angin“ Aira merasakan tubuhnya semakin ringan dan melayang. Semakin tinggi dan tinggi.

    “Ibu, kita akan kemana?“

    “Anakku, kau lihat gumpalan awan putih itu?”

    “Yang seperti kapas, Bu? Wow, indah sekali!”

    “Mereka adalah sekumpulan saudara-saudaramu. Ke sanalah kita akan bergabung“ Dengan senang hati Aira mengikuti Ibunya bergabung dengan saudara-saudaranya lain. membentuk awan putih. Tak henti-hentinya ia menyanyi.

    Kemudian bersama-sama saudaranya yang lain Aira melanjutkan perjalanan. Mereka melayari langit biru, melintasi puncak gunung dan bukit. Dari ketinggian angkasa Aira menyaksikan bumi yang elok mempesona. Sawah menghijau seperti hamparan permadani berlapis berlian yang berkilau. Sungai meliuk –liuk seperti ular. Ketika mereka berada di atas gunung, Aira merasakan gumpalan itu semakin berat. Aira kedinginan karena angin bertiup kencang. Awan berubah menjadi hitam.

    “Ibu, aku takut!“

    “Tenang, anakku! Sebentar lagi kita akan turun membasahi bumi.”

    “Bagaimana caranya?

    “ Angin kencang akan menerbangkan kita. Kemudian kita semua akan turun serempak. Manusia menamai kita hujan“ Belum selesai Ibunya berbicara, mereka dengan cepat dan serempak turun di bumi.

    “Wow, asyik Bu! Seperti main dengan papan luncur,” Aira tertawa kegirangan. Wajahnya bertambah ceria ketika melihat Pak Tani menyambut kedatangan hujan dengan gembira. Rupanya kedatangan mereka sudah dinantikan. Aira mendengar mereka berkata:

    “Hujan turun. Sudah tiba saatnya bagi kita untuk menanam.”

    “Ya, dengan turunnya hujan sawah kita tidak kering lagi.”

    Aira senang mendengar perkataan itu. Rupanya dirinya dapat menyuburkan tanah Pak Tani.

    Perjalanan Aira berlanjut. Kali ini ia tiba di atas rumah yang mungil. Seorang anak perempuan berteriak, “Mama,hujan turun. Tidak lama lagi bunga – bunga kita akan mekar!“ suara itu terdengar ketika Aira berada di atas tanah.

    Dengan tersenyum Aira merasakan kegembiraaan anak itu. Sebelum meresap ke dalam tanah sekali lagi ia menatap wajah anak itu. Wajah anak perempuan itu berseri ketika mengamati bunga-bunga di taman yang baru kuncup.

    Tidak lama kemudian Aira melewati lorong yang gelap dan lembek.

    “Bu, tempat apa ini?“

    “Anakku, kita meresap ke dalam tanah. Sebentar lagi kita akan keluar dan menjadi mata air.”

    Aira mengikuti rombongan ibunya dengan seribu pertanyaan. Pengalaman apa lagi yang ia alami?

    Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Aira melihat setitik cahaya. Ia dan keluarganya menuju ke arah cahaya itu. Tak lama kemudian mereka menerobos cahaya dan hei.. apakah itu? Aira heran karena setelah keluar dari tanah mereka berkumpul dengan rombongan air lainnya. Mereka sangat banyak dan menempati kolam yang sangat luas dan panjang serta berkelok-kelok.

    “Aira, disinilah keluarga kita, keluarga air, bertemu. Ini adalah sungai.”

    “Apakah keluarga kita disini semua, Bu? Perjalanan berhenti sampai disini?”

    “Tidak, anakku. Keluarga besar kita berpencar. Ada yang di sumur, ada yang di danau dan di tempat lainnya. Mari kita lanjutkan petualangan kita“ Aira melanjutkan petualangannya. Ia menjadi air sungai. Mengalir menuruni punggung gunung. Ia rasakan hawa sejuk pegunungan. Ia rasakan kecipak air akibat gerakan ikan-ikan yang berenang disekitarnya. Ia rasakan kaki-kaki anak kecil yang berenang dan mandi dengan airnya. Ia dengarkan sendau gurau para ibu yang mencuci sayuran di atas permukaannya. Wah, banyak lagi yang ia rasakan dan saksikan! Betapa bahagianya Aira!

    “Ibu, aku sangat senang sekarang. Ternyata aku sangat berarti. Banyak orang yang membutuhkan kehadiranku.”

    “Syukurlah, anakku. Jadi mulai saat ini janganlah berkecil hati. Sekecil apapun kita, selemah apapun kita, kita masih dapat berguna bagi orang lain, selama kita melakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh.“ “Terimakasih, Ibu. Banyak pengalaman dan pelajaran yang kuterima hari ini! “Dengan sukacita Aira melanjutkan perjalanan hidupnya.

    Teman – teman ingin bertemu dan berkenalan dengan Aira? Bangunlah pagi-pagi dan temukanlah ia di balik dedaunan! Mungkin ia disana. Atau mungkin ia mengalir dengan riang di sepanjang sungai yang mengalir di belakang rumahmu. Sampaikan salam padanya dan jangan lupa berilah ucapan terimakasih kepadanya karena sudah menghidupi bumi. Berjanjilah untuk tetap menjaga kelestarian alam yang sangat dicintainya. Niscaya, ia akan menyambutmu dengan senyum yang paling cantik. Dan ia merasa berbahagia.

    Oleh: Marmini Estiningsih mar_minik @yahoo .com

  • Jangan Berlebihan Dalam Menghukum

    Pada zaman dahulu ada seorang saleh yang selalu beribadah kepada Tuhannya. Pada suatu hari dia melakukan sebuah perjalanan atas ilham dari Tuhannya, karena perjalannya begitu jauh dan melelahkan maka diapun membawa serta beberapa orang temannya.

    Ketika sampai di suatu tempat yang cukup terik orang saleh tersebut berkata kepada teman-temannya “Sekarang kita beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, sebelum kita melanjutkan perjalanan” katanya, “Tapi di mana kita akan berteduh sedangkan wilayah ini adalah padang pasir yang sangat panas” sela salah satu temannya. “Kalau begitu kita cari tempat yang teduh di sekitar sini” kata yang lainnya.

    Setelah berjalan berputar-putar mencari tempat berteduh akhirnya mereka menemukan sebuah pohon besar yang cukup rindang, akhirnya mereka menuju pohon itu dan menurunkan semua perbekalan di bawahnya. Sebagian mereka ada yang menghamparkan karpet untuk sekadar bersandar pada batang pohon dan sebagian lainnya tidur-tiduran. Sementara laki-laki saleh ini bersandar pada batang pohon besar itu, semuanya merasakan rindangnya pohon, ditambah semilir angin yang membuat mereka mengantuk.

    Namun tiba-tiba seekor semut menggigit orang saleh yang sedang bersandar, maka Semutdengan serta merta dia bangkit lalu membangunkan teman-temannya yang lain, “Kalian bangun semua, aku telah digigit seekor semut” katanya dengan nada tinggi. Lalu dia memerintahkan kepada teman-temannya untuk mengambil semua perbekalan mereka. “Sekarang ambil api dan kayu bakar, lalu bakar sarang semut yang berada di bawah pohon itu” perintahnya. Maka beberapa dari mereka segera mengambil ranting-ranting kering untuk membakar sarang semut tersebut.

    Ketika nyala api sudah tersulut dan telah siap untuk dilemparkan ke sarang semut, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari langit “Wahai manusia kenapa engkau akan membakar seluruh semut itu, padahal yang menggigitmu hanya seekor” suara itu terdengar begitu dekat namun tidak ada satupun dari mereka yang melihat wujudnya.

    Semuanya terdiam sementara suara itu telah hilang, “Hampir saja kita berbuat kesalahan besar” ucap orang saleh tersebut, “Sekarang bertaubatlah kepada Tuhan” lanjutnya. Maka orang saleh itu segera bersujud, sementara teman-teman yang lainnya mengikutinya. Rupanya suara itu adalah suara Tuhan yang telah menegur hambanya yang berlebihan dalam menghukum sesama makhluknya.

    Bogor, 04 September 2007

    Abdurrahman M

    abuaisy1979 @yahoo.com

  • Ibuku Sayang

    Dewi dan Dito adalah dua anak yang bersaudara terlahir di keluarga yang kurang mampu. Ibunya cacat tidak bisa berjalan secara normal karena kecelakan 4 tahun yang lalu, ayahnya telah tiada sejak mereka masih kecil. Namun mereka hidup dengan bahagia walapun serba kekurangan. Sekarang Dewi sudah kelas 5 dan Dito kelas 3. Mereka hidup rukun, setiap pulang sekolah selalu membantu ibunya mencuci pakaian dirumah tetangga, terkadang menyetrika baju. Setelah pekerjaan selesai barulah mereka belajar. Mereka bercita-cita ingin menjadi dokter.

    Pada suatu ketika ibunya sakit keras yang di vonis dokter kropos tulang sumsumnya sehingga ia tidak mampu lagi untuk bekerja menjadi tukang cuci. Dengan susah payah, dewi dan dito bekerja keras membantu ibunya agar tetap hidup, siang malam tak pernah ada waktu untuk bermain bagi mereka. Yang ada hanyalah mencari uang dan belajar supaya bisa bersekolah dan tetap bisa meraih cita-citanya.

    Di luar sana banyak teman mereka yang berparas cantik dan kaya akan tetapi tidak sedikitpun membuat mereka minder dalam bergaul, walaupun terkadang membuat mereka bersedih. Setiap hari mereka sudah bertekad untuk menabung supaya bisa membelikan kado untuk ibunya agar ibunya bisa bahagia yaitu dengan berjualan sayuran di depan rumahnya.

    Cita-cita yang sangat mulia tepat di hari Ibu sedunia Dewi dan Dito memberikan kado yang istimewa yaitu meja dan beberapa sayuran untuk modal dalam dagang pertama, dan Dewi juga lulus dengan peringkat pertama se Provinsi sehingga ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke SMP. Sementara Dito selalu mendapat peringkat pertama di Sekolah Dasar nya. Dan ibunya sejak itu berjualan sayuran dirumahnya dengan amat sangat laris, kehidupan mereka menjadi lebih baik.

    Karya: Rebikem

    rebikem 84 rebikem_84 @yahoo.co.id