Author: Bayu

  • Pohon Jambu Nancy

    Musim hujan telah tiba, daun-daun Pohon Jambu di depan rumah Nancy mulai berubah coklat dan berguguran.
    Angin yang berhembus kencang menjatuhkan daun-daun kering ke tanah. Sudah bertahun-tahun Pohon Jambu hidup di pekarangan rumah Nancy.
    Ketika masih kecil, Ayah Nancy membawa Pohon Jambu dari kebun kantor dan menanamnya di pekarangan rumah Nancy. Kala itu Nancy masih belajar berjalan.
    Setiap pagi, setelah Nancy mandi, Ayah Nancy mengajak Nancy menyiram Pohon Jambu Kecil, membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh dan kadang-kadang memberikan pupuk di atas tanahnya.
    Tahun-tahun berlalu, Pohon Jambu tumbuh menjadi besar. Daun-daunnya bertambah banyak, batangnya bertambah besar, dan diantara ranting-rantingnya mulai muncul bakal bunga.. Pohon Jambu terlihat sangat cantik sekarang.
    Jika musim panas sudah datang, burung-burung mampir ke dahannya, membawa rumput-rumput kering untuk membuat sarang. Jika panas sangat menyengat, pejalan kaki berhenti sebentar untuk berteduh di bawahnya. Seringkali Burung Hantu datang di malam hari untuk menemaninya.
    Dengan rutin Ayah Nancy memangkas dahan-dahan yang tumbuh liar, merapikan daun-daun Pohon Jambu yang tumbuh rimbun.

    Suatu hari, keluarga Nancy pergi meninggalkan rumah dan Pohon Jambu itu. Penghuni rumah yang baru tidak pernah memperhatikan Pohon Jambu.
    Musim-musim kembali berlalu, daun-daun kering berjatuhan memenuhi pekarangan rumah.
    Angin bertiup kencang dan membuat ranting Pohon Jambu ikut berjatuhan dan berserakan.
    Musim kemarau datang, daun-daun Pohon Jambu yang tidak pernah lagi dirapikan mulai habis dimakan ulat.
    Pohon Jambu terlihat sangat tua, tidak ada lagi pejalan kaki yang mau berteduh di bawahnya, burung-burung tidak mau bersarang karena tak ada lagi daun di dahannya. Malam hari menjadi sangat dingin, tanpa ada daun-daun yang menghangatkan Pohon Jambu.
    Pohon Jambu mulai merindukan keluarga Nancy…
    Di suatu siang yang kering, Keluarga Nancy kembali ke rumah. Pohon Jambu sangat gembira. Tapi tak ada lagi Nancy, hanya Ayah Nancy yang terlihat tua, sepasang orang tua muda dan bocah laki-laki dengan mata bersinar seperti Nancy kecil.
    Sorot mata sedih terlihat dari wanita muda itu kala melihat Pohon Jambu.
    “ Mommy,…pohon ini kelihatan sakit “ Tunjuk bocah laki-laki..
    “ Ya sayang… jangan kuatir, Mommy dan Daddy akan membuatnya sehat kembali”
    Jawab wanita itu, seraya menyentuh batang Pohon Jambu…
    Wanita itu adalah Nancy, dia tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, berkeluarga dan mempunyai anak laki-laki itu.
    Pohon Jambu kembali merasa bahagia..
    Nancy dan suaminya merapikan lagi dahan dan daun Pohon Jambu, membuang setiap ulat yang memakan daunnya, membersihkan daun dan ranting yang berserakan.
    Tanpa menunggu waktu lama, Pohon Jambu kembali menjadi Pohon Jambu yang cantik, daun-daun mulai tumbuh , pejalan kaki seringkali mampir untuk berteduh, malam-malam tidak lagi sepi, Burung Hantu datang dan menemani Pohon Jambu dan bernyanyi.. Hu…HU…Hu…Hu…..
    Ketika Pohon Jambu berbuah, Keluarga kecil Nancy mengumpulkan buah Jambu yang berwarna merah dan ranum dengan gembira….

    Betty Veve [mami_veve10 @yahoo.com]

  • Tabungan Kambing

    “Mama ini kotak apa?” tanya Azlia pada mamanya.

    “Oh itu kotak tabungan.”

    “Kotak tabungan apa?”

    “Papa sama mama setiap hari mengisi seribu ke dalam kotak itu. Uangnya nanti buat beli kambing. Kambingnya buat Idul Adha tahun depan.”

    “Oh, seperti dompet Azlia ya. Itu dompet tabungan.”

    “Memang Azlia punya dompet? Tabungannya buat apa?”

    “Punya.” Sebentar, Azlia bergegas mencari tas kecilnya. Dia membongkar isi tasnya, di tas itu ada tempat pensil pemberian BuDe. “Nah, ini dia dompetnya”, seru Azlia sambil mengeluarkan dompet kertas buatannya dari tempat pensil. Di dalam dompet itu tersimpan beberapa uang logam.

    “Wah, Azlia pintar menyimpan uang ya! Tabungannya buat beli apa?”

    “Buat beli jam warna pink seperti punya Keisha.” Azlia sudah punya jam, tapi warna ungu. Mama bilang, jamnya cukup satu, harus dijaga jangan sampai rusak, kena air, dan jatuh. Kalau jamnya rusak, mama tidak mau membelikan lagi. Karena di sekolah, teman-temannya punya jam warna-warni, Azlia juga ingin pakai jam bergantian, apalagi kalau warna pink kesukaannya.

    “Oh, begitu. Hati-hati simpan uangnya ya. Kalau sudah terkumpul cukup, nanti mama antarkan beli jam pink.”

    “Mama, ini Azlia juga ikut nabung buat beli kambing ya!”, ujar Azlia sambil menyerahkan tiga uang logam dari dompetnya. “Besok, kalau ada lagi, Azlia tambah lagi.”

    “Loh, nanti uang buat beli jam pinknya kurang banyak!”

    “Buat beli kambing saja deh. Azlia kan sudah punya jam ungu. Kata mama jamnya satu saja. Azlia juga mau punya kambing sendiri di hari Idul Adha nanti.”

    “Alhamdulillah. Terima kasih ya, Nak!”

    “Sama-sama.” Jawab Azlia dengan senyum manis sekali. Dia sudah membayangkan tahun depan punya kambing sendiri.

    Herawati S arehera @gmail.com

  • Maafkan aku, Sara…

    Sara dan Sari adalah sahabat karib. Keduanya berteman sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Sara berambut sebahu. Warnanya hitam legam selalu diikat. Kulitnya sawo matang dan matanya bulat.
    Rambut Sari pendek lurus. Kulitnya putih bersih. Ada tahi lalat di ujung hidungnya yang mancung. Sara hobi membaca sementara Sari gemar memasak. Keduanya sama-sama suka membantu Ibu.
    “Hari Minggu besok kita libur. Kamu mau pergi ke mana Ra?” tanya Sari sepulang sekolah. Sara menggeleng, “Gak ke mana-mana Ri. Paling-paling baca buku. Kamu?” Sara balik bertanya.
    “Sama Ra. Aku bantu Ibu bikin kue. Kamu kenal Tante Arin kan? Tetangga sebelahku. Tante Arin pesan kue. Banyak lagi…”
    “Oooo…” mulut Sara membulat.
    “Ya sudah, sampai ketemu ya.” Sari melambaikan tangan.
    “Minggu pagi kutunggu kamu ke rumah ya!” teriak Sara.
    “Yaaaa….” Sari berlari ke halaman rumahnya tanpa menoleh.
    Sara tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Ia melangkah sendirian. Sampai di pertigaan, Sara belok ke kanan dan sampailah ia di kediamannya yang terletak paling ujung.
    “Assalamu alaikum?” suara Sara muncul di muka pintu.
    “Waalaikum salam… sudah pulang Ra?” sambut Mama di muka pintu.
    Sara mencium tangan Mama dan selalu Mama membalas dengan pelukan.
    “Iya Ma. Besuk kita di rumah saja kan Ma?” Sara melepas kaos kaki.
    “Iya sayang. Kita di rumah, Papa tidak libur.” jawab Mama di ruang makan.
    Sementara Sari di rumahnya juga melakukan hal yang sama. Kadang-kadang waktu istirahat dipakai untuk mengerjakan tugas sekolah. Siang itu Sari menghabiskan waktu istirahatnya bersama Bunda. Mereka menyiapkan bahan-bahan kue. Telur ayam, tepung terigu, mentega, gula ditimbang bergantian. Tidak heran jika Sari mulai terampil memasak kue. Bahkan kadang-kadang ia bisa mengolah makanan kecil tanpa bantuan Bunda. Hebat ya…
    Bedug Maghrib baru saja berkumandang. Bunda dibantu Sari mengantar kue pesanan Tante Arin. Rumah Tante Arin cukup ramai. Rupanya banyak saudara berkumpul di sana. Setelah menyerahkan kue dan mengobrol sebentar, Bunda dan Sari berpamitan.
    Tak jauh dari tempat Sari, Sara tengah berkreasi membuat jepit dari sedotan plastik. Cantik dan imut. Cara membentuk jepit ia dapatkan dari majalah yang baru saja dibelinya. Pasti Sari suka, gumamnya dalam hati.
    Minggu pagi langit sangat bersih. Sara telah selesai sarapan dan kini ia sibuk mengemas jepit-jepit imut ke dalam kotak kecil warna merah muda. Ada 9 pasang jepit warna warni. “Yes, selesai!” Sara berkata sendiri di ruang tamu. Dahi Sara mendadak berkerut ketika menatap jarum panjang jam di dinding sudah berada di angka 12. Sara berdiri menghalau resah. Ia pandangi kotak pink di sudut meja kemudian kakinya melangkah ke luar. Belum saja tangan kanannya menyentuh daun pintu, Mama yang baru balik dari warung memanggil.
    “Sara, dapat salam dari Sari. Ia baru saja lewat sama temannya.”
    “Temannya? Siapa Ma?” Sara berlari ke arah Mama.
    “Mama juga belum kenal. Rambutnya panjang dikepang dua.” Mama dan Sara melangkah masuk.
    “Pantas saja tidak ke sini. Dia sudah janji pagi ini mau main. Sara sudah buatin jepit cantik. Sari bohong….” Sara berlari ke dalam rumah. Mama mengikuti dari belakang. Langkah Sara terhenti di ruang tamu. Ia sandarkan badan di kursi empuk warna coklat tua. Tangannya meraih bungkusan kecil dan diamat-amati kotak mirip bungkus sabun mandi itu. Lama Sara terdiam.
    “Sara, makan dulu yuk…”
    “Malas Ma, masih kenyang.” Sara masih menimang-nimang benda di tangannya.
    “Kenyang? Baru makan 1 lembar roti tawar, kenyang?” tukas Mama.
    “Nanti saja.” jawab Sara singkat.
    Mama mendekati Sara lantas mengelus punggung putrinya. Lembut…,lembut sekali.
    “Sara, barangkali Sari lupa. Kalau sudah ingat, pasti dia datang ke sini.” hibur Mama.
    “Karena ada kawan baru, Sara dilupain. Gitu kan Ma?” rutuk Sara.
    “Bukan, percayalah sama Mama. Sari pasti datang. Makan yuk..”
    Mama dan Sara sudah berada di ruang makan. Sayur asem, ayam goreng, tempe bacem, sambal terasi. Kerupuk ikan. Hmmm…
    “Alhamdulillah, makasih Ma. Enak sekali.” Sara membawa piring kotor ke dapur.
    “Alhamdulillah…” Mama tersenyum lega.
    Sore menawarkan pemandangan lain. Langit gelap disertai angin. Daun-daun kering berjatuhan. Halaman rumah yang sudah disapu penuh daun dan bunga kamboja berserakan. Langit makin gelap dan hujan mulai merintik. Di dalam kamar Sara mendengarkan musik. Lagu ketiga baru saja berhenti, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
    “Sara, ada Sari di ruang tamu.” ujar Mama setelah pintu kamar dibuka.
    Sara bermaksud menutup pintu kembali, namun tangan Mama lebih dahulu mencegatnya. “Sara, temui Sari. Gerimis begini, dia tetap datang.”
    “Biarin. Mama bilang saja Sara lagi tidur…”
    “Eits, tidak boleh begitu. Temui dia…” Mama menarik lengan Sara.
    “Gak mau. Suruh dia pulang..” Sara menolak ajakan Mama.
    “Sara, aku tidak akan pulang sebelum aku menjelaskan semuanya.” wajah cantik Sari muncul di belakang Mama.
    “Maafkan aku, Sara…” tangan kanan Sari meraih pergelangan Sara.
    Sara tak menjawab. Kedua bola matanya menatap Sari lekat-lekat.
    “Semalam waktu aku mengantar kue ke Tante Arin, aku dikenalin dengan Susi. Susi keponakan Tante Arin. Anaknya cantik tapi maaf, dia sulit mengucapkan sesuatu. Susi sangat pendiam dan susah bergaul.
    Tapi kemarin Susi menjadi periang. Aku diminta menemaninya. Besuk aku kenalin ya. Sekali lagi, maafkan aku, Sara..”
    Sara masih tak bersuara. Matanya yang bulat nampak berkaca-kaca. Ia pandangi Sari tak berkedip. Sari tersenyum. Mata dan kedua pipi Sari lebih dahulu basah.
    “Maafkan Sara juga ya…” Sara memeluk Sari.
    “Makasih bungkusan merah jambu itu.” bisik Sari.
    Sara melepas badan Sari, “Dari mana kamu tahu?” balas Sara.
    “Mama sudah jelaskan semua tadi sebelum Mama ketuk pintu kamar.” timpal Mama yang sedari tadi ikut berdiri.
    Sara memandang Mama, kemudian menatap Sari. Tak ada lagi kesal. Tak ada lagi muram. Kembali dua sahabat berpelukan. Meskipun di luar hujan makin deras, hati dua gadis kecil itu tak lagi menyimpan mendung.

    Pekanbaru, 14 Pebruari 2010
    Salam sayang untuk seluruh anak-anak di seluruh tanah air.
    Santi Nuur P
    trinoersanti @yahoo .co .id

  • Untuk Sebuah Cita

    Namaku Aisyah, aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Rumah kami berada di pinggiran metropolitan, walaupun hidup kami sederhana namun tidak menyurutkan semangatku untuk belajar. Buktinya aku bisa menduduki rangking satu terus, hingga kini aku sudah menginjak kelas IV MI. Hanya saja walaupun aku selalu rangking kelas aku tidak pernah diberikan hadiah oleh kedua orang tuaku, mungkin mereka tidak mampu untuk memberikan hadiah itu.

    Ayahku bekerja sebagai karyawan rendahan di sebuah panti asuhan, gajinya hanya cukup untuk makan kami sekeluarga, sedangkan ibuku hanya berada di rumah, dulu ibu pernah mengajar di TK dekat rumah, tapi karena suatu sebab beliau tidak mengajar lagi, mungkin karena banyak guru-guru baru yang lebih tinggi pendidikannya. Dalam keluargaku aku adalah anak tunggal, aku tidak punya adik dan juga tidak punya kakak, hal inilah yang membuat hubunganku dengan ayah begitu dekat, walaupun beliau hanya karyawan rendahan namun dia tidak pernah minder, apalagi menyerah dengan nasib. “Kita harus merubah nasib kita sendiri” begitu katanya pada suatu hari.

    Ternyata ucapan ayah bukan isapan jempol, beliau sangat bersungguh-sungguh untuk membuktikan ucapannya, hal ini pula yang membuatku merasa untuk terus bersemangat belajar, walaupun aku tidak pernah diberikan hadiah jika juara kelas, berbeda dengan teman-teman yang mempunyai keluarga yang kaya, jika mereka juara pasti dibelikan macam-macam, hal ini aku ketahui dari majalah bekas yang sering dibeli oleh ayah. Yah…. Benar ayah memang sangat senang membaca, sudah banyak sekali buku-buku yang dibelinya, walaupun kebanyakan adalah buku bekas. Aku sendiri juga sering sekali dibelikan majalah dan buku-buku bacaan bekas, katanya sih kalau beli yang baru mahal.

    Mungkin ini juga yang membuatku mulai senang membaca. Kalau aku ingin membaca buku-buku yang baru biasanya ayah mengajakku ke toko buku, di sana aku bisa membaca buku sepuasnya tanpa perlu membeli, kalaupun terpaksa membeli paling-paling membeli majalah AAS atau buku-buku yang harganya murah.

    Oh ya… ayahku bisa berubah dari seorang yang berpendidikan rendah menjadi orang yang suka membaca dan banyak ilmunya bukan tanpa sebab, ternyata ucapan beliau yang dulu telah dilaksanakan, pantas saja setiap akhir pekan ayah tidak pernah mengajakku jalan-jalan, rupanya beliau mengikuti kuliah kelas akhir pekan di sebuah Universitas, ternyata tidak berhenti disitu, beliau juga mengikuti kursus komputer, bahasa Inggris, bahasa Arab dan ikut kuliah juga di Universitas Terbuka (UT). Pantas saja ayah jarang sekali membeli baju atau membeli barang-barang rumah tangga. Dan bunda sendiri juga sering mengeluh dengan uang belanjanya. “Bu sabar saja ini khan buat kebaikan kita nanti” begitu kata-kata ayah yang pernah aku dengar.

    Kini aku paham kenapa setiap juara kelas aku jarang diberikan hadiah, rupanya uang ayah digunakan untuk biaya kuliahnya. Dan saat ini kami semua bersyukur, setelah ayah menyelesaikan kuliahnya kini ayah diangkat sebagai karyawan tetap dan statusnya pun naik. Semoga saja tahun ini kalau aku juara bisa dibelikan sepeda. “Bu Ayah berencana untuk melanjutkan sekolah Pasca Sarjana” kata ayah pada ibu. “Kalau ayah sudah yakin ya silahkan saja bunda hanya mendoakan” sahut ibu pelan. Yah…melayang lagi deh hadiah juara kelasku.

    Oleh Aisyah As-Salafiyah

  • Perjalanan Antar Waktu

    BRAKKK !

    Benturan yang keras membuatku pingsan. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Sepasang tangan yang kuat dan kasar membangunkanku.

    “ Hai, bangun gembel! Jangan tidur disini! “
    Aku kaget. Ketika kubuka mataku, di depanku kulihat seorang laki-laki kekar dengan wajah beringas.

    “ Bapak si…sia…pa ?”tanyaku terbata-bata. Aku ketakutan.
    “ Ha…ha…ha! Jangan berlagak pilon.Pura-pura bodoh! Bukankah aku bosmu? “
    ‘” Bos apa? Saya sama sekali tidak mengerti.”
    “ Dasar bego! Cepat berikan seluruh hasil mengemismu hari ini?!”

    Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud bapak tadi. Mengemis? Aku pengemis? Tidak mungkin. Ayahku pengusaha terkaya di kotaku.

    “Ayo,cepat! Kalau kamu tidak menyerahkan penghasilanmu hari ini, aku akan mengurungmu di ruang bawah tanah.”

    Dengan menggigil ketakutan ,kukorek-korek seluruh isi saku celanaku.
    Heran! Biasanya banyak uang di dalam sakuku. Namun, kali ini seratus rupiahpun tidak kutemukan. Aku kebingungan.

    “Maaf, Pak! Aku tidak membawa uang. Tapi, kalau Bapak ingin meminta uang mintalah pada Ayahku. Beliau pengusaha kaya di kota ini. Tapi, tolong bebaskan saya!”
    “Ha..ha…ha ! “ laki –laki itu tertawa semakin keras.
    “Jangan membodohi aku. Pengemis seperti kamu tidak mungin berasal dari keluarga yang kaya . Bohong! “laki-laki itu terus saja marah –marah. Dengan tubuhnya yang kekar ia menyeretku.

    Sampailah aku di ruang bawah tanah. Gelap, pengap dan lembab. Rasanya aku tidak asing dengan ruangan ini. Aku ingat sekarang! Bukankah ini gudang tempat aku biasa berkumpul dengan gengku? Mana Odi? Mana Theo? Ian?Aku ingat tadi siang aku bermain dengan mereka.

    Ya, ya aku ingat! Aku tadi merencanakan ide hebat bersama teman-temanku. Kami sepakat akan menggasak rambutan yang ada di pohon Pak Sukri. Kami juga berencana akan mengempesi sepeda Pak Guru. Tapi mengapa aku sendirian? Mana yang lain?

    Sepi rasanya tanpa kehadiran sahabat-sahabatku. Kami adalah tim yang kompak. Di sekolah kami ditakuti teman-teman. Mereka tidak berani menegur kami bila kami berbuat iseng kepada mereka. Kami adalah jagoan. Bagi kami, dihukum karena tidak membuat PR hal yang biasa. Dimarahi Pak guru? Cuek aja. Nilai ulangan jelek? Tidak masalah.Toh, orang tua kami kaya. Buat apa bersusah payah sekolah?

    Aku heran dengan keadaan ini. Ketika aku sedang bingung, tanpa sengaja kulihat sebuah cermin tergantung di tembok. Perlahan kudekati. Aku ingin melihat luka bekas tamparan di wajahku.

    “ Ahhhhh! “Aku menjerit sekuat-kuatnya. Wajah siapakah yang ada di cermin tadi? Dekil, kumal , kotor dan beringas.

    Sekali lagi kupandang cermin itu. Yang kulihat wajah yang sama. Dengan perasaan takut kuamati wajah dalam cermin. Seperti wajahku tetapi lebih tua. Mungkin berumur 30 tahun. Kuusap daguku, bayangan dalam cerminpun melakukan hal yang sama. Kuusap rambutku, kuucek mataku. Ya,Tuhan! Itu aku! Bagaimana mungkin aku setua itu? Umurku baru 10 tahun. Aku tadi pagi masih sekolah. Siang hari aku bermain dengan teman-temanku. Apa yang terjadi?

    Aku mulai panik. Aku berteriak. Pintu kugedor-gedor.

    “Tolong! Tolong! Bukakan pintu!! “ Brak! Brak! Brak! Dengan sekuat tenaga kugedor-gedor pintu. Tidak ada orang yang mendengarku. Tanganku sampai memerah. Aku lelah. Aku menangis. Putus asa.

    Tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Seorang laki-laki berwajah bersih menghampiriku.

    “ Kamu siapa? “ tanyaku sambil mengingat, sepertinya aku kenal dia.
    “ Rino, apakah kamu tidak mengenalku? “ katanya sambil menyodorkan minuman.
    “Aku Dio.”

    Dio. Aku ingat sekarang. Dialah yang paling sering menjadi korban keisenganku.

    “ Dio, aku malu. Aku jahat kepadamu tetapi engkau baik kepadaku.”
    “ Rino, kita sekarang sudah dewasa. Bukan kanak-kanak lagi. Umur ku sekarang 35 tahun “
    “ Tidak mungkin. Kemarin aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke sepuluh. Kamu bohong! “
    “ Tidak ,Rino! Itu sudah dua puluh lima tahun yang lalu. “

    Aku menggelengkan kepala. Benar-benar pusing. Kemudian Dio mengajakku ke luar dan mendudukkan aku di kursi.

    “ Lihat kalender itu! “ Dio menunjukkan kepadaku sebuah kalender dan membuat aku terlonjak! Tahun 2034. Bagaimana mungkin aku bisa melompati waku 25 tahun. Tadi siang tahun 2009 dan sekarang 2034 ?

    Kemudian Dio memberiku surat kabar. Ya, tahun 2034! Televisi yang menyiarkan berita pun menyatakan hal yang sama.

    “ Dio, bisakah kau menceritakan hal yang terjadi?”
    “ Ya, kamu terlempar ke masa depan. Inilah hidupmu. Lihat keadaanmu! “
    “Aku jadi pengemis, padahal orang tuaku sangat kaya. Dimana mereka? Bagaimana nasib ayah dan ibuku? “
    “ Orang tuamu masih hidup. Mereka jatuh miskin dan sakit-sakitan.”
    “Mengapa? “
    “Bacalah kisah ini!”

    Kubaca majalah yang disodorkan Dio. Di majalah itu dikisahkan riwayat seorang pengusaha kaya yang jatuh miskin karena ulah anaknya. Rupanya ketika berusia 25 tahun aku diminta ayahku untuk memimpin perusahaan. Ayahku sudah tua, ibu sakit-sakitan. Aku anak tunggal. Aku tumpuan hidup satu-satunya.

    Dengan setengah hati aku menerima tugas dari ayahku. Namun karena aku bodoh perusahaan yang kupimpin bangkrut. Aku malas bekerja. Hidupku hanya untuk berfoya-foya. Kemudian ayahku jatuh miskin.

    Aku menyesal dan malu. Aku lari dari rumah. Karena tidak memiliki kepandaian dan ketrampilan akhirnya tidak ada orang yang menerimaku bekerja. Akhirnya aku menjadi pengemis.

    Inikah hidupku? Tidak! Aku tidak mau seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Aku tahu. Aku harus kembali ke tahun 2009. Aku harus merubah hidupku.

    Aku ingat sesuatu! Aku segera lari ke gudang bawah tanah. Cermin! Ya,aku harus ke cermin. Cermin itulah yang menyedotku ketika aku di gudang tadi siang. Cermin itu yang melontarkanku ke tahun 2034. Bersyukurlah aku cermin itu masih ada.

    Segera kudekati. Kedua telapak tanganku kuletakkan di atasnya. Aku berdoa kepada Tuhan .Mohon ampun atas kenakalan yang kulakukan. Aku juga berjanji akan memperbaiki hidupku. Aku akan rajin belajar dan patuh pada nasehat orang tuaku. Aku juga akan menjadi anak yang baik.

    Selesai aku berdoa, aku merasakan kekuatan yang dasyat menarikku. Memutar-mutar tubuhku, melewati lorong yang sangat panjang. Dan..Brak! Aku terlontar dan jatuh di belakang rumahku.

    “ Rino,kamu kemana saja? Dari tadi aku mencarimu! “ Odi menanyaiku.
    “Tidur di gudang “ kataku . Aku senang telah kembali ke masa kanak-kanakku.

    Aku segera berlari .” Rino, tunggu, mau kemana?”

    “ Ke rumah Dio. Aku mau berterimakasih kepadanya.”
    “ Buat apa menemui anak bloon itu? “
    “ Ceritanya panjang kamu pasti tidak percaya.”

    Odi terus mengejarku,” Rencana kita jadi kan malam ini? Itu pesta rambutan dari pohon Pak Sukri?”

    “ Batal!”
    “ Nggembosin sepeda Pak Udin?’
    “ Batal! “

    Aku terus berlari. Aku mengejar waktu. Banyak hal yang harus kulakukan hari ini. Yang pasti mulai sekarang tidak akan kusia-siakan hidupku. Hidup dan waktuku adalah untuk belajar, berbuat baik dan menyengangkan orang tuaku dengan prestasi dan perbuatanku. Mampukah aku? Doakan aku ya, teman-teman!

    Marmini Estiningsih

  • Ikan dan Burung

    Di sebuah hutan hiduplah dua binatang yang saling bersahabat. Binatang itu adalah burung dan ikan. Keduanya sangat dekat dan selalu saling membantu. Kedekatan keduanya ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu kejadian yang mengubah mereka. Waktu itu ikan sedang beristirahat di pinggiran sungai. Ia memandangi biji-bijian di pohon tepat di atasnya.

    “Kelihatannya biji-bijian itu enak dimakan” kata ikan dalam hati.

    Ia lalu berusaha meloncat setinggi-tingginya untuk mendapatkannya. Berkali-kali ia meloncat, namun tidak berhasil mencapai biji-bijian itu. Ia hanya bisa memandangi biji-bijian itu. Saat sedang memandangi biji-bijian itu, perhatiannya teralihkan oleh seekor burung yang berterbangan ke sana-kemari.

    “Tuhan, kenapa Engkau tidak memberiku sayap untuk terbang agar aku bisa meraih biji-bijian itu?” Kata si ikan dalam hati.

    Kita tinggalkan si ikan dan beralih ke burung.
    Setelah beterbangan, burung lalu hinggap di salah satu dahan pohon di pinggir sungai untuk beristirahat. Saat itu ia melihat ke air. Di dasar air sungai itu ia melihat banyak sekali cacing bergeliatan.

    “Kelihatannya cacing-cacing itu enak dimakan.” Kata burung dalam hati.

    Ia lalu berusaha masuk ke dalam air untuk menyelam dan menangkap cacing-cacing itu. Namun, ia tidak berhasil karena ia tidak bisa berenang. Ia lalu hanya bisa memandangi cacing itu dari atas pohon. Saat sedang memandangi cacing-cacing di dalam air, perhatiannya teralihkan pada ikan yang sedang berenang di dalam air.

    “Tuhan, kenapa Engkau tidak memberiku ekor dan sirip untuk berenang agar aku bisa meraih cacing-cacing dalam air itu?” kata si burung dalam hati.

    Akhirnya ikan dan burung saling tahu kesulitan masing-masing. Berkali-kali si ikan melihat burung menyelam ke air untuk mendapatkan cacing. Demikian pun si burung berkali-kali melihat ikan meloncat-loncat untuk mendapatkan biji-bijian. Lalu mereka berkenalan.

    “Hei ikan, apakah kau menginginkan biji-bijian ini? kata burung.
    “Benar, tapi aku tidak punya sayap sepertimu sehingga tidak bisa terbang mendapatkan biji-bijian itu.” jawab si ikan.
    “Aku juga menginginkan cacing di dasar sungai, tapi aku idak punya sirip sepertimu sehingga tidak bisa mendapatkan cacing-cacing itu.” balas si burung.
    “Gimana jika kau membantuku mengambil biji-bijian itu dan aku akan membantumu mendapatkan cacing-cacing di dasar sungai.” Ajak si ikan.
    “Wow ide bagus, aku setuju.” Sahut si burung.

    Akhirnya ikan dan burung menjadi sahabat dan saling membantu.

    Yunarvian [yuyun.fr86 @gmail.com]
    Edited by Kak Jito

  • Namanya Toti

    Pada suatu siang, di tengah hari yang terik, tampaklah seorang anak kecil berjalan gontai. Bajunya kusut, basah dimana-mana karena peluh yang menetes deras dari sekujur tubuhnya. Napasnya agak terengah – engah. Sesekali kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan, tetapi kepala itu lebih sering menunduk, seolah-olah dia sedang menghitung jumlah kerikil di jalan yang sedang dia lewati. Ketika berjalan tangannya agak terayun sedikit, kedua tangan itu menggantung agak lunglai, tidak membawa apa-apa, seolah-olah tangan yang sudah kosong itupun sudah berat untuk dibawa kemana-mana.

    Di pundak kanannya menggantung seutas tali, tali sebuah tas sekolah. Tas sekolahnya diselempangkan dari pundak kanan ke pinggang kiri. Tas itu bergoyang-goyang seiring dengan langkahnya, langkah yang terbebani oleh beban tas sekolah yang berat.

    Jalan yang sedang dia lewati saat itu berdebu, kering kerontang, pohon yang ada di pinggir jalan sedang meranggas. Sungai kecil yang ada di samping jalanpun tidak ada airnya. Sudah satu jam yang lalu
    dia keluar dari halaman sekolahnya, tetapi langkahnya belum juga sampai ke rumahnya. Rumahnya masih jauh, masih diperlukan setengah jam lagi untuk sampai.

    Air minum yang dibawanya sudah habis, dia habiskan saat istirahat kedua tadi. Menyesal rasanya, mengapa dia tadi menghabiskan air minumnya. Soalnya tadi dia haus berat, mau membeli minum tetapi uang sakunya sudah habis untuk membeli kue saat istirahat pertama tadi. Dia tadi sebenarnya sudah sadar untuk menghemat air minum, tetapi saat istirahat kedua tadi, cuaca sedang menuju mendung, langit sedang berjuang untuk menumpuk awan gelap. Tetapi ketika bel sekolah berbunyi tanda pulang, awan yang bertumpuk-tumpuk tadi sedang menghilang perlahan-lahan, terbang tersapu angin. Perkiraannya meleset, cuaca tidak jadi hujan bahkan mendungpun tidak, malah sebaliknya, panas terik.

    Jarak dari rumah ke sekolahnya lumayan jauh, sekitar enam kilometer. Jarak sepanjang itu biasanya bisa ditempuh dalam satu jam bila berjalan dengan cepat. Tetapi siang itu terik, dan rasa haus serta lapar menderanya sehingga tidak mungkin bagi dia untuk berjalan cepat. Menyesal rasanya, mengapa rumahnya jauh dari sekolah.

    Biasanya dia pulang dan pergi ke sekolah berjalan bersama-sama dengan teman sekampung, tetapi sekarang teman-temannya itu sudah mendahului pulang. Kalaulah tahu akan sendirian dan kehausan begini, maka menyesallah dia mengapa hari Minggu kemarin dia hanya bermain-main lupa belajar. Kalau hari Minngu itu dia mau belajar, maka dia tidak akan sengsara seperti sekarang ini. Kepanasan, kehausan dan jalan sendirian tiada teman.

    Mala-petaka itu dimulai tadi saat jam pelajaran terakhir. Pak Toto, guru matematika kelas lima, sedang bersiap-siap untuk mengakhiri pelajaran hari itu. Dan beginilah pak Toto mengawali bencana itu;

    ”Anak-anak, ulangan yang hari Senin kemarin sudah bapak periksa. Ada yang bagus ada yang kurang bagus nilainya. Bagi anak-anak yang kurang bagus, bapak memberi kesempatan untuk memperbaiki nilai. Tetapi minggu depan kita sudah menghadapi ulangan semesteran, dan nilai ulangan harian sudah harus disetor sebelum ulangan semester berlangsung. Jadi ulangan perbaikan nilai harus segera dilaksanakan dalam minggu ini.”

    ”Tetapi sayangnya, mulai besok sampai minggu depan bapak tidak ada di sekolah, karena bapak akan mengikuti penataran di ibukota kabupaten. Jadi, ulangan perbaikan nilainya akan bapak laksanakan sekarang, setelah jam sekolah. Saya tahu kalian sudah lelah, tetapi nanti supaya kalian yang ikut ulangan bisa cepat pulang maka akan bapak beri soal yang tidak terlalu banyak.”

    ”Yang namanya akan bapak sebut berikut ini, adalah anak yang mendapat nilai bagus dan tidak perlu untuk memperbaiki nilai, oleh sebab itu boleh pulang. Jadi bagi yang bapak panggil namanya, boleh langsung berkemas dan pulang.”
    ”Agung, Arum, Awang, Bagus Pur, Bagus W, …”

    Pak Toto sudah menyebut belasan nama, dan sepertinya pak Toto sudah hampir habis membaca daftar nama itu, tetapi nama Toti belum juga disebut.

    ”Baiklah anak-anak, kalian yang tinggal di dalam kelas ini ialah yang harus melaksanakan ulangan perbaikan nilai. Sekarang sambil menunggu maka siapkan kertas kosong untuk ulangan, dan masukkan buku-buku kalian ke dalam tas.“

    Benarlah, sampai dengan soal ulangan dibagikan, nama Toti tidak termasuk yang dipanggil untuk boleh pulang. Sedangkan Awang, Tari, Jono, ialah teman sekampungnya yang namanya dipanggil pak Toto.
    Yang mengikuti ulangan perbaikan ada dua-belas orang. Dari kedua-belas orang itu, tidak ada satupun yang tinggal sekampung dengan Toti.

    Tiba-tiba lamunannya buyar karena saat itu kaki Toti tertantuk batu. ”Aduuh! Dasar batu seenaknya sendiri saja tiduran di jalan!” Hati Toti dongkol bukan main. ”Sudah kepanasan, capek, lapar, haus, masih kesandung batu lagi,” gumam Toti.

    Biasanya kalau sedang kepanasan saat pulang sekolah seperti saat itu, dia dan teman-temannya akan berteduh sebentar dibawah pohon. Tetapi sekarang tidak ada tempat untuk berteduh barang sejenak, tidak ada pohon yang merimbun daunnya. Semua pohon meranggas, tidak ada cukup tempat untuk berteduh dari panas terik matahari. Saat itu hujan sudah lima bulan tidak datang.

    Setelah rasa sakit karena terantuk batunya hilang, Toti melanjutkan lamunannya lagi. ”Ah coba aku punya sepeda, pasti aku sudah sampai rumah sekarang. Ahh.. tidak-tidak, sepeda kurang cepat, masih harus dikayuh, bisa-bisa kelaparan juga aku.” ”Atau punya sepeda motor saja. Wah keren, tinggal putar gas. Ngeng..ngeng motorku kabur lewat jalan berdebu ini, He..he debunya beterbangan. Ngeng….. sampai rumah, langsung makan. Wah asyik. Tapi aku kan masih kecil, mana boleh naik sepeda motor?”

    ”Atau mobil, siapa yang akan nyetir ya? Hik..hik.. seperti si Nanang itu yang diantar jemput pakai mobil. Tapi dia kan anak pak Lurah. Lha bapakku? Sepeda saja tidak punya.” ”wah coba aku bisa bikin roket. Aku akan bikin pesawat sendiri, untuk pulang pergi ke sekolah. Naik roket, wuzz.. wuzz..ziiingngggg. Roketku melesat cepat. Cuma lima menit sudah sampai sekolah. Wuzz.. wuzz.. ziiinggg, lima menit sampai rumah lagi. Kalau istirahat pulang ke rumah, wuzz..wuzz..ziingg, sampai rumah ambil minum, makan, dan balik ke sekolah lagi. Wah asyiik….”

    ”Aduoohhh!!”
    Tiba-tiba Toti mengaduh dengan keras. Dia memegang-megang jempol kakinya. Kakinya kesakitan. Dia mengerang-erang sambil terduduk di tepi jalan. Kakinya terantuk batu lagi.


    Semoga cerita diatas bermanfaat.
    Cerita diatas saya tulis dengan maksud dan bertujuan untuk membangkitkan imajinasi bagi pembacanya. Anak-anak sekarang perlu dilatih imajinasinya, supaya dapat berpikir cerdas, karena anak jaman sekarang setiap hari disuguhi informasi media audio visual yang menyebabkan tidak ada ruang bagi otak si anak untuk berimajinasi.

    salam,
    Henrycus

    Henrycus @gmail .com
    17 May 2009

  • Lukisan Anggrek

    Sore berangsur petang di pantai Kuta.

    “Santi, sudah petang, ayo kita kembali ke penginapan.” ajak Papa.

    “Lihat, Tante Lusi sudah duluan ke mobil.” imbuh Mama di belakang Papa.

    “Iya.., iya.., sebentar Pa… Santi mau cetak pasir sekali lagi. Boleh ya Pa..?” rengek Santi. “Pa! Papa!” teriak Santi ketika melihat Papa dan Mama menyusul Tante Lusi.

    Sampai di penginapan, wajah Santi masih cemberut. Santi masih ingin berlama-lama di pantai. Tahun lalu Santi bermain pasir bersama Sinta, adik perempuannya. Namun kini Sinta telah meninggalkan Santi selamanya karena sakit keras.

    “Besuk kita ke pasar Sukawati kan Pa. Mama mau beli beberapa lukisan.” Mama duduk di samping Papa yang tengah menonton TV.

    “Lukisan Mama sudah banyak, mau ditaruh di mana lagi?” Tangan Papa sibuk memilih program TV.

    “Di kamar Santi belum ada lukisan, ya kan Santi?” Mama menoleh ke arah Santi. “Di teras depan juga mau Mama taruh lukisan.” lanjut Mama setelah melihat Santi tak menjawab.

    “Santi tidak butuh lukisan.” sahut Santi tiba-tiba, dan tanpa berkata-kata lagi, ia masuk kamar.

    “Ada apa anak manis?” Tante Lusi menutup majalahnya. “Tadi udah janji loh, gak akan marahan lagi.., gak akan manja lagi. Ada apa sayang?” ulang Tante Lusi dengan hati-hati.

    “Gak ada. Santi mau tidur!”

    “Ooh…, cuma mau tidur, ya udah mau tidur sama Tante apa sama Mama?”

    “Sama Tante!”

    “Oke dech, selamat tidur. Mimpi bagus ya, jangan lupa berdoa. Udah pamit sama Mama Papa?”

    Santi tak menjawab. Ia menelungkupkan badannya ke bawah bantal.

    Pagi setelah sarapan, Santi dan keluarganya bersiap pergi ke pasar Sukawati. Tiba-tiba mobil kijang Papa mogok. Sambil menunggu mobil diperbaiki, Santi berjalan-jalan di sekitar penginapan bersama Tante Lusi. Di depan pintu gerbang penginapan, rupanya banyak pedagang berkerumun. Mereka langsung menyerbu ketika melihat Santi dan Tante Lusi.

    “Ibuk, beli pathungnya Buk… Murah-murah saja, unthuk penglaris ya Buuk..”

    “Beli sarung panthainya ya Buk. Ini warnanya manis-manis. Murah..”

    “Baju barongnya Buk. Nih bagus-bagus. Ada baju panjang juga…”

    Wah, semua pedagang menyodorkan barang dagangannya.

    “Beli lukisannya yaa…?” celetuk bocah perempuan, seusia Santi.

    “Ehm….” Santi hanya bergumam. Dicarinya Tante Lusi tapi sudah jauh di sana.

    “Bagus-bagus. Boleh dilihat-lihat…” tangan kurusnya menyodorkan lukisan ke arah Santi. “Saya sendiri yang melukis.” tambah gadis kecil itu bangga.

    “Oh ya?” Santi tak bisa menyembunyikan kekaguman pada lukisan yang dipegangnya.


    Santi duduk di jok tengah dengan Tante Lusi. Mama duduk di depan menemani Papa. Mobil kijang telah sampai di pelabuhan gilimanuk. Semua turun dari mobil kemudian menuju ruang penumpang kapal. Santi memilih tempat duduk dekat jendela. Ia tatap sebuah pulau, makin lama makin jauh. Dan ketika kapal mulai menepi di pelabuhan ketapang, terasa susuatu yang hanyat di kedua matanya yang bulat.

    Mobil terus melaju meninggalkan pelabuhan ketapang.

    “Kok diam aja San, capek ya. Sebentar lagi sampai.” kata Papa ketika berhenti mengisi bahan bakar.

    “Jam berapa sampai di Malang Pa?” Santi menguap menahan kantuk.

    “Kira-kira jam lima sore nanti kita udah di rumah.” jawab Papa.

    “Bener Pa?” Santi sudah tak sabar.

    Dan, ketika mobil memasuki pekarangan, Santi langsung berlari ke dalam rumah. Di tangannya ada bungkusan kertas warna coklat. Santi melepas sepatu dan jaket merah mudanya. Setelah mencuci kaki dan tangan, ia mengunci kamarnya dari dalam.

    Santi makin tak sabar membuka bungkusan. Ternyata sebuah surat dengan tulisan tangan.

    Untuk sahabat baruku yang manis, Santi Diah Permata.

    Santi, senang sekali berkenalan denganmu. Sayangnya kita hanya sebentar bertemu ya. Kamu harus segera pulang ke Malang. Saat kamu baca surat ini, mungkin aku masih berjualan. Dan lusa aku juga mulai masuk sekolah setelah libur panjang. Biasanya, pulang dari sekolah aku terus melukis.

    Santi, sejak Bapak meningga,l aku rajin membantu Ibu. Ibuku…, kamu masih ingat seorang Ibu yang menjual baju barong? Dia itu ibuku, Santi. Ibu menjual baju barong milik orang lain. Nanti Ibu akan mendapatkan upah.

    Santi, aku masih ingat, betapa kamu terkejut saat kubilang aku sendiri yang melukis ini. Iya Santi, dari kecil aku sudah pandai melukis. Bapak dulu seorang pelukis. Bapak juga yang mengajari aku melukis. Oh ya Santi, terimakasih sudah membeli lukisanku. Dan ini kuberikan lukisan bunga anggrek putih, sebagai tanda persahabatan kita. Tolong dibingkai sendiri yaa…

    Selesai membaca surat ini, cepat balas ya. Aku tak sabar menunggu suratmu dan jangan lupa sertakan foto kamu beserta adikmu, almarhumah Sinta. Aku tak sabar ingin melihat fotonya, yang kamu bilang sangat mirip denganku.

    Udah dulu ya Santi….

    Sahabat barumu

    (Putu Eka Cahyani)

    Santi menghela nafas panjang. Tangannya melipat kertas dan pandangannya tertuju pada luar jendela. Ketika matanya menatap bunga putih di pot gantung, tiba-tiba ada sejuk dalam hatinya. Dan kini mata Santi nampak berkaca-kaca. Bunga anggrek putih di luar itu, sama cantiknya dengan lukisan di tangannya.

    Bahkan sama bentuk bunga dan daunnya….

    Pekanbaru, Januari 2010

    Santi Nuur P
    trinoersanti @yahoo .co .id

  • 5 Sekawan yang Tidak Pernah Terlupakan

    Alkisah, pada saat agresi Belanda ke Indonesia, ada 5 sekawan, mereka adalah Udin, Agus, Asep, Wawan dan Made, mereka adalah para pejuang pada saat itu hingga pada suatu saat

    “De, siapkan senjata dan surat yang akan dikirim ke Jendral Sudirman” Udin berkata kepada Made “Siap!”

    Agus, Asep dan Wawan yang tengah berjaga-jaga di depan persembunyian 5 sekawan, tiba-tiba diserang oleh pasukan Belanda, mereka langsung balas menyerang, tapi jumlah Belanda terlalu banyak jadi membuat mereka masuk ke dalam persembunyian

    “Ayo semua, amankan semua barang-barang yang dianggap penting, kita diserang oleh Belanda!” Wawan berkata kepada semua 5 sekawan tersebut, lalu Udin berkata “Lekas pergi sobat, tempat sudah tidak aman!” dibalas oleh semua 5 sekawan “5 sekawan, Pergi!”

    Setelah mereka meninggalkan persembunyian, mereka melanjutkan perjalan dengan menyusuri hutan, disana Udin menerangkan kepada 5 sekawan bahwa mereka akan mengantarkan surat kepada Jendral Sudirman “5 sekawan, kita akan mengantarkan surat ini kepada Jendral Sudirman, jika sesuatu menimpa kita harus berpencar dan surat ini harus ada yang memegang, jika berhasil kita akan bertemu di kota Solo, tapi jika salah seorang atau beberapa orang tidak berhasil . . . . ” Asep menjawab ” Biar saya saja yang pegang, saya tahu persis seluk beluk hutan Jawa” Udin pun memberikan surat itu kepada Asep

    Beberapa hari melangkah, mereka pun ditemukan oleh pasukan Belanda dan melakukan instruksi dari Udin dengan cepat hingga Belanda tidak bisa menyerang mereka.

    Beberapa minggu kemudian, mereka tiba di kota Solo, Udin, Wawan, Made dan Agus menunggu kedatangan Asep, ketika Asep datang, Asep kelihatan bermandikan darah “Sep, kamu kenapa !?” Wawan bertanya sambil menekan darah yang mengalir dari tubuhnya “Aku tak kenapa-napa, cepat berikan surat uhuk-uhuk kepada Jendral, !!!” Wawan mengambil dan memberinya kepada Udin

    “Cepat, bawa Asep ke ruang perawatan!” kata Wawan, sementara itu, surat diberikan kepada Jendral Sudirman , ia berkata “Aku ingin bertemu prajurit itu” tiba-tiba Wawan menghampiri Jendral Sudirman dan berkata “Asep sudah wafat”

    Setelah 40 tahun kemudian, 5 sekawan berkumpul di sebuah kuburan di Solo “Dia sudah mengorbankan nyawanya untuk kita semua dan surat itu, jika surat itu tidak sampai kepada Jendral, pertahanan kita pasti sudah hancur” Udin berkata, mereka pun mendoakan Asep agar arwahnya tenang di sisi-Nya

    Tamat

    Deda Chandra

    deda_chandra @yahoo .com

  • Memangnya Kenapa Kalau REJOICE

    Rejoice namanya. Seringkali, ia digodain teman-temannya. Karena apa? Karena namanya adalah Rejoice! Lengkapnya Rejoice Khairunnisa, tapi teman temannya sering mengatakan “Eh sampo rejoice!” karena namanya adalah nama salah satu produk sampo. Rejoice diam saja, ya, ia selalu diam saat temannya meledeknya.

    Rejoice ingin curhat. Dia curhat pada Mama. “Ma, kenapa sih Mama kasih aku nama ‘Rejoice’ nama sampo yang terkenal, aku jadi suka diejek Ma…” Keluh Rejoice. “Sayang, nama adalah do’a…kamu harus bangga dengan namamu…” Jawab Mama. “Kenapa harus bangga? kenapa Mama memberiku nama itu…??” Lagi-lagi Rejoice mengeluh.

    “Dulu, Mama sangat senang pelajaran bahasa inggris. Saat itu, belum ada produk rejoice. Mama kan liat di kamus ‘rejoice’ wih bagus tuh…artinya adalah menyenangkan. Tepat saat mama memikirkan pemberian nama pada kamu saat masih bayi mama teringat sama ‘rejoice’ artinya bagus. Rejoice yang solehah, nama adalah do’a, kenapa harus malu dengan namamu.” Jelas Mama Panjang lebar. “Oh, begitu Ma. Maafin Rejoice ya ma, Rejoice nggak tau…..ternyata arti nama Rejoice itu menyenangkan ya….ooh jadi mama mau aku jadi anak yang menyenangkan…terus khairunnisa itu apa ma?” Rejoice tanya lagi. “Nah, kalau khairunnisa itu artinya sebaik-baik wanita…mama menginginkan kamu menjadi sebaik-baik wanita sayang…” Jelas Mama.

    Sekarang Rejoice memberitahukan pada teman-temannya jika mengejeknya. Jangan suka mengejek nama temanmu!

    Nah, kalau nama kamu artinya apa?

    kaksyifa96 @gmail .com