Author: Bayu

  • My Super Dad!

    Bangun pukul 05.00, sarapan pagi pukul 06.00, berangkat sekolah pukul 06.15. Huh, semua pasti harus tepat waktu. Jika terlambat sedikit pun, Dira bisa mendapat hukuman dari sang Papa. Ini itu harus di penuhi. “Seperti robot saja,” batin Dira. Apalagi saat pulang sekolah, ada berpuluh-puluh panggilan masuk dari Papa di ponsel Dira. Dira hanya mengeluh, “Ya, ampun!”. Papa selalu menanyakan keadaan Dira setiap menit, bahkan setiap detik tiap kali Dira bernapas.

    Dira menghempaskan badannya ke tempat tidur sambil menghela napas, “Huh, sebel!Kenapa Mama pakai acara tugas ke Bali satu bulan!” jerit Dira. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui Dira sedang kesal, karena tidak ada siapa-siapa di rumah Dira. Hanya Dira seorang.

    Sudah dua minggu Dira berdua di rumah bersama Papa dan dua minggu pula Dira mendapat latihan militer dari Papa. Saatnya makan malam, Papa yang memasak sendiri untuk Dira. Tetapi, hati Dira juga luluh saat Papa membuatkan masakan untuknya. Padahal Papa dulu tidak pernah kursus memasak. Tapi, sebelum tidur Dira pasti di paksa Papa untuk mendengarkan cerita masa kanak-kanak Papa yang bila di ceritakan tidak akan selesai semalam. Dira berdoa agar secepatnya tidur malam dan Mama cepatlah pulang! bisik Dira dalam hati.

    Minggu pagi, Dira di bangunkan Papa tepat pukul 5 pagi. Dira menurut saja, mereka shalat berjama’ah dan jogging mengitari taman kota. Cukup setengah jam, mereka sudah kembali ke rumah. Dira tampak kelaparan, Papa langsung mengerti, “Ayo, kita memasak nasi goreng spesial!” ajak Papa. Dira hanya terbengong-bengong sambil mengikuti Papa dari belakang. Dalam hati Dira menggerutu terus.

    Dira kebagian membuat telur orak-arik. Dira hanya meringis. Lalu, Papa mengajarkan Dira memcah telur yang benar. “Ambil sendok, pukulkan ke dasar telur, cepat-cepat masukan ke dalam wajan!Mengerti?” tanya Papa.

    Dira mengangguk cepat. “Hebat juga Papa!” puji Dira dalam hati. Ugh, tapi…enggak jadi hebat suka marah-marah. Hihihi… Akhirnya selesai, saat duduk di meja makan Papa bercerita tentang masa kanak-kanaknya. Papa di tinggal nenek bekerja jadi Papa sering di rumah sendiri sehingga juga sering masak dan di latih kakek keras agar menjadi anak yang disiplin. Dira mengangguk-angguk, “My Super Dad!” ucap Dira. Papa tertawa sambil mengusap kepala Dira gemas.

    Rahmadani Dewi S [cuii_noxxy@ yahoo .co .id]

  • Dompet Ibu Fatiani

    Fia ibu sedang sakit kepala tolong kamu belikan telur dan ikan serta daging kata ibu ajak juga Fito adikmu. Kata ibunya Fia. Baiklah bu akhirnya Fia serta Fito pun pergi ke pasar untuk membeli barang itu. Saat dia di jalan dia pulang dangan menaiki sepada terus Fito berkata, kak itu ada dompet. Akhirnya mereka membuka dompetnya dan melihat KTP yang ada di dalam dompet itu, Dan itu ternyata adalah dompet ibu Fatiani akhirnya mereka mengembalikan dompet itu ke bu Fatiani. Bu Fatiani ini dompet ibu kami menemukannya di pasar. Dan akhirnya Ibu Fatiani pun berterima kasih, akhirnya Fito dan Fia diberi Barbeque dan Popcorn.

    Nama : Alika Cynthia Clarissa

    Sekolah : BPK PENABUR

    Umur : 7

    Kelas : 2B

    alikacynthia_c @yahoo .com

  • Ayahku

    Ayahku bekerja di pertambangan emas, di Bombana, Sulawesi Tenggara. Ayahku pulang setiap 2 bulan sekali dan di rumah selama 2 minggu. Kalau ayah pulang aku selalu diantar dan dijemput sekolah oleh ayah. Aku sayang sekali pada ayah. Kalau ayah di rumah aku selalu dicium, dipeluk waktu tidur, dinyanyikan lagu sebelum aku tidur, dan selalu diajak jalan-jalan.

    Saat libur ayah telah habis dan ayah kembali bekerja dan berangkat ke Sulawesi lagi aku mengantar ayah ke bandara. Sungguh aku sangat sedih bila ayah berangkat bekerja lagi. Aku sering menangis karena teringat pada ayahku. Tapi tak apa, karena ayah selalu menelponku dan mengirimiku SMS. Aku tau ayah bekerja untuk membelikanku buku, mainan, dan membayar uang sekolahku. Semoga ayah selalu sehat. Muach……untuk ayah.

    Lintang Zahra’ Maharaniy
    kelas : 2 SDI Nurul Qomar Semarang

    lintangzm @yahoo.co.id

  • Rekreasi Yang Tertunda

    Pada waktu aku berlibur di rumah nenekku, aku hendak diajak ayahku pergi ke Pantai Ria Kenjeran yang ada di Surabaya. Ayahku sudah melihat peta dan aku, adik, dan ibuku sudah bersiap-siap baju untuk berenang.

    Akan tetapi saat berganti baju, tiba-tiba badan adikku panas dan aku bilang ibu badan adik panas. Oh..! Malang nasibku sudah bergembira, tapi malah sedih lagi jadinya tidak jadi deh…! Ternyata adik kena penyakit cacar. Lalu adikku disuruh tidur agar cepat sembuh.

    Oh…! Hari itu sungguh mengecewakan. Eh, sudah ya teman-teman. Aku mau menemani adikku dulu ya…!

    Oleh :

    Putri Nur Azizah

    Karangan, Trenggalek, Jawa Timur

    31 Oktober 2010

    nurishaq88 @gmail .com

  • Aku Bangga Pada Ayahku

    Ayahku adalah seorang polisi kehutanan. Ayahku tempat kerjanya di Bandung. Kalau ayah pulang aku suka dibawakan oleh-oleh. Ayahku pulangnya suka malam-malam. Ayahku orangnya baik. Kalau mau kerja ayahku suka mencium aku dan adikku. Kalau aku mau sekolah aku selalu dikasih uang jajan. Waktu aku ulang tahun yang ke 6 ayahku membelikan sepeda baru untuk aku. Aku bangga kepada ayahku.

    Oleh: Pradipta Banu P Putra

    lia_halu @yahoo .co.id

  • Adikku Yang Baik

    Pada suatu hari, di hari Minggu pagi, keluargaku membersihkan rumah. Adikku, Zaki masih tidur, akupun merasa iri dengan adik. Karena kenapa adikku tidak dibangunkan, sedangkan aku dibangunkan. Akupun berpikir apakah orang tuaku pilih kasih? tanyaku dalam hati.
    Di siang harinya ayah dan ibuku pergi belanja ke pasar swalayan. Akupun diberi tugas menjaga adikku yang masih umur 3 tahun.
    Adikku mengajakku bermain sepeda keliling kompleks Perum Purwa Alam Asri. Tiba-tiba aku terjatuh karena tersandung batu. Adikku pun menolongku “kak Aya, situ aja. Nanti aki* aya cakit** kalo jayan* ” kata adikku dengan celat. Aku haya mengangguk. Adikku pergi entah kemana. Tiba-tiba “kak Aya !!! , ini obat melah**nya”seru adikku.
    Aku mengambilnya dari tangan adikku lalu mengolesnya pada luka yang berdarah. Aku sadar ternyata adikku sangat baik dan sayang kepadaku….
    I LOVE YOU YOUNG BROTHER !!!!!!!!!!!!……………

    NB:*: kaki , **: sakit , *** : jalan , **** : merah .

    Nama : Ayra Noor Khalida
    Sekolah: SD MUHAMMADIYAH PAKEM
    Umur: 9 th
    Kelas: 3B
    email: ayranice @yahoo .co.id

  • Usman dan Hasan

    Disebuah desa kecil, terdapat keluarga yang sangat bahagia. Di rumah tersebut dihuni oleh seorang Ayah, Ibu dan seorang anak laki-laki yang bernama Hasan. Hasan termasuk anak yang pintar disekolahnya. Selain pintar, Ia juga anak yang baik. Hasan selalu membantu orang tua dan juga teman-temannya sehingga Ia mempunyai banyak teman. Hasan beumur 8 tahun dan kini Ia duduk dibangku kelas 3, di SD Negeri Neglasari.

    Salah satu teman Hasan bernama Usman. Usman sangat berbeda dengan Hasan. Ia anak yang kurang pandai di sekolah dan Ia sangat nakal, sehingga Ia tidak mempunyai teman. Usman satu kelas dengan Hasan yaitu di SD Negeri Neglasari.

    Di sekolah Hasan berteman dengan siapa saja. Hasan tidak pernah memilih-milih teman, sehingga Ia mempunyai banyak teman. Akan tetapi, berbeda dengan Usman.
    Usman tidak mau berteman dengan orang yang tidak disukainya. Ia selalu memilih teman yang pintar saja, sehingga Ia tidak mempunyai teman seperti Hasan.

    Hasan selalu menjadi juara kelas disekolahnya karena Ia selalu belajar dan berdoa kepada Allah agar semua cita-citanya tercapai dan Ia tidak pernah sombong. Hasan selalu membantu temannya jika ada yang kesulitan dalam pelajaran.

    Berbeda dengan Hasan, Usman kurang pandai di sekolah. Ia tidak pernah mendapat nilai yang bagus, karena Ia tidak pernah belajar dan Ia elalu lupa untuk berdoa kepada Allah. Usman tidak pernah bertanya kepada guru atapun teman apabila mengalalami kesulitan dalam pelajaran, sehingga Ia tidak pernah berprestasi seperti Hasan.

    Suatu hari, Ibu Guru memberikan tugas menggambar peta Indonesia untuk pelajaran Ilmu Pengethuan Sosial. Tugas itu dikerjakan berkelompok. Dan kebetulan Usman dan Hasan satu kelompok. Usman dan Hasan sepakat untuk kerja kelompok di rumah Hasan seusai pulang sekolah. Setelah usai sekolah Usman pulang terlebih dahulu ke rumahnya untuk meminta izin kepada orang tuanya.

    Sesampainya dirumah, Usman langsung membuka pintu tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu dan Ia tidak langsung mengganti seragam sekolahnya. Usman langsung meminta izin kepada orang tuanya untuk kerja kelompok dirumah Hasan. Kebetulan jarak rumah Usman dan Hasan tiak terlalu jauh, jadi orang tuanya mengizinkan.Berbeda dengan Usman. Sesampainya Di rumah, Hasan tidak pernah lupa mengucapkan salam dan langsung mencuim tangan orang tuanya. Setelah itu Ia mengganti seragam sekolahnya dan meminta izin kepada orang tuanya untuk bekerja kelompok dirumahnnya.

    Sesampainya di rumah Hasan, Usman bukan mengerjakan tugas tetapi malah bermain-main. Usman memainkan mobil-mobilan milik Hasan. Mobil-mobilan itu sangat bagus, sehingga Ia ingin memiliki mobil-mobilan itu. Lalu usman mencuri mobil-moobilan itu dan Ia langsung pulang dengan tergesa-gesa tanpa mengerjakan tugas terlebih dahulu. Buku Usman tertinggal di rumah Hasan, karena Usman pulang sangat tergesa-gesa. Lalu Hasan mengantarkan buku milik Usman itu ke rumahnya.

    Sesampainya dirumah Usman, Hasan melihat mobil-mobilannya sedang dimainkan oleh Usman. Kemudian Hasan bertanya kepada Usman, apakah mobil-mobilan itu milik Hasan?. Dan Ia tidak mengaku bahwa mainan itu milik Hasan. Tiba-tiba Usman berlari keluar rumah dengan sangat cepat sambil membawa mobil-mobilan itu. Ketika sedang berlari, Usman terjatuh sampai kakinya berdarah. Ia tidak kuat menahan tangis karena kakinya luar bisasa sakit, sampai-sampai Ia tidak bisa berjalan sendiri. Namun Hasan tetap menolong Usman, walaupun Usman sudah mencuri mobil-mobilan milik Hasan.

    Pada keesokan harinya Usman tidak masuk sekolah karena kakinya masih sakit. Ia mendapat hukuman dari Tuhan akibat kenakalannya. Sedangkan Hasan mendapat kebahagiaan dari Tuhan karena Hasan anak yang baik. Hasan mendapatkan hadiah mobil-mobilan yang baru dari Ibu Guru karena gambar peta Indonesia buatan Hasan paling bagus.

    Karya: Nenden Rizky Amelia

  • Superman Kecil

    Sehabis belajar Septian duduk-duduk di beranda rumah ditemani nenek, berdua mereka asyik ngobrol dan bercanda bersuka ria. Sementara papa di ruang kerja entah menyelesaikan pekerjaan kantor. Sedangkan mama asyik di dapur bersih – bersih segala peralatan dapur yang kotor.

    Sungguh asyik benar mereka berdua entah apa yang dibicarakan. Kadang – kadang nenek tertawa perpingkal – pingkal melihat ulah Septian. Kadang pula giliran Septian yang tertawa melihat kelucuan neneknya itu.

    “ Nek, aku kemarin melihat Harry Potter bisa terbang naik sapu. Itu sapunya beli di mana .Nek ? “ pinta Septian merengak minta dibelian sapu yang bisa terbang.

    “ Yan, sapu seperti itu tidak di jual di toko, itu hanya ada di film saja, sebenarnya nggak ada sapu bisa terbang, cucuku ! “ jawab Nenek dengan lembut sambil mengusap rambut Septian.

    “ Tapi temen – temen rencananya mau ngajak bapak dan ibunya mau beli sapu itu, Nek ? “

    Septian masih belum puas dengan jawabanya Nenek tadi. Makanya dia terus mendesak agar Neneknya mau mengantar membeli sapu itu.

    “ Ya, sudah, besok kamu tanya teman kamu, belinya di mana. Kalau tahu tempatnya biar Nenek nanti belikan ”

    ” Harus sekarang, Nek !. Yayan pengin segera naik sapu itu . Yayan pengin terbang kaya Superman”

    ” Yayan sayang, in i kan sudah malam, lagian sebentar lagi mau hujan. Tuh lihat langitnya sudah gelap, kamu nanti kehujanan bisa masuk angin ”

    ” Nggak apa – apa Nek, yang penting Yayan bisa terbang dengan sapu itu sekarang ”

    ” Lho kalau sekarang terbang, kamu akan tersesat nggak bisa pulang. Malam hari begini langitnya sangat gelap , lagian sapunya kan nggak ada lampunya. Kamu bisa nabrak pohon. Sudahlah sekarang tidur ditemani nenek, ya sayangku !. Besok nenek tak nyari, dimana yang jual sapu itu ”

    ” Besok ya Nek, bener lho. Aku pengen jadi Superman. Horeee. . akulah Superman ”. Septian melonjak-lonjak gembira, karena dia yakin betul besok dia akan bisa terbang mengelilingi rumah dan sekolahnya.

    Mereka berduapun kini sudah berada di atas tempat tidur. Septian sudah gosok gigi dan cuci kaki dan tangan. Sementara Neneknyapun sudah tidur disebelahnya.

    ” Nek, bener lho besok aku dibelikan sapu Superman ya ! , nanti Nenek tak boncengin, pegangan yang kuat ya Nek !, biar nggak jatuh ” rayu Septian kepada Neneknya,

    ” Jangan kuatir Yan, besok pasti Nenek bonceng. Sekarang tidur dulu. Besok kamu harus bangun pagi biar tidak terlambat sekolah ” jawab Nenek. Septianpun tidak mendengarkan jawaban Neneknya itu, karena dia sudah memejamkan matanya dan tertidur pulas.

    Tidak beberapa lama kemudian

    ” Yan, yayan sayangku, ini sapunya Nenek sudah belikan. Terbanglah ke angkasa sesukamu seperti Gatotkaca atau Superman.

    ” Oh, , ,Sungguh Nek ?, Aku bisa terbang ?. Aku nggak percaya ?. Lantas bagaimana cara mengendalikannya, Nek ? ”.

    ” Sapu ajaib ini akan menuruti kata hatimu. Sehingga untuk mengendarainya tidak sulit.

    ” Bawa sini Nek, aku sudah nggak sabar ”

    ” Hati – hati cucuku, jangan buru-buru. Meskipun sapu ajaib ini akan menuruti perintah hatimu, namun kalau tidak tenang hatimu sapu ini bisa menjatuhkanmu dan pesan Nenek sapu ini jangan digunakan untuk hal- hal yang jahat cucuku ”

    ” Baik Nek akan aku ingat terus pesan Nenek ”

    Tanpa menunda waktu lagi, Septian segera menaiki sapu itu, yang dijepit diantara kedua kakinya sambil berteriak ” terbang ”.

    Maka melesatlah sapu itu ke atas secepat kilat. Padahal Septian tidak siaga sebelumnya, sehingga terpelantinglah dia dan jatuh terjerambab.

    ” Septian !. kamu nggak apa – apa sayangku ? ” teriak Nenek, sambil membangunkan Septian yang baru saja jatuh bergulingan.

    ” Aku nggak apa – apa Nek ! ”

    ” Itulah kan tadi Nenek bilang jangan buru – buru mengendarai sapu ajaib ini. Gunakan pikiranmu dengan tenang maka sapu ini akan menjadi sahabatmu pergi kemana saja . Sekali lagi Nenek pesan jangan digunakan untuk tujuan jahat”

    ” Baik Nek akan kucoba lagi ”. Tutur Septian dan terbanglah dia kini dengan sapu ajaib yang naik ke atas dengan perlahan. Sehingga kini, baik Nenek atau rumahnyapun sudah nggak kelihatan lagi. Yang terlihat hanyalah permadani berwarna hijau dan gumpalan awan.

    Sesekali Septian terbang rendah dan melesat ke kanan – kiri menghindari pepohonan, kadang pula melesat naik ke atas menembus awan. Kadang pula dia turun sambil beristirahat melepas lelah.

    Saat melepas lelah itu terlihatlah pohon durian yang persis ada di depannya, dan di perhatikan semua buah-buahnya yang sudah masak. Dia sempat menelan ludah melihat buah durian yang sudah merekah dan berbau sangat menusuk hidungnya.

    Tanpa pikir panjang Septian mengambil sapu ajaibnya dan dengan perlahan dia terbang mendekati buah yang sudah masak, Alangkah nikmatnya buah durian ini . aku bisa merasakan dari baunya yang harum. Oh alangkah nikmatnya. Aku bisa menghabiskan satu buah sendirian.

    Tangan kanannya segera menarik buah itu dari tangkainya sedangkan tangan kirinya tetap memegangi sapu ajaib itu. Setelah ditarik sekuat tenaga, buah durian akhirnya lepas dari tangkainya dan meluncurlah ke bawah.

    Namun tanpa diduga Septian sebelumnya, sapu ajaib itupun turut meluncur bersamaan dengan buah durian tadi. Maka Septianpun menjadi kaget bukan kepalang dan tangannya berusaha memegang apa saja agar dia tidak jatuh ke bawah.

    ” Toloooong, toloooong. .. .tolong aku Nek ! ” teriak Septian.

    Teriakan Septian tadi terdengar cukup keras, hingga mambangunakan Nenek, bahkan Papa dan mama nya pun juga ikut terbangun. Mereka segera menuju ke kamar Septian untuk mengetahui kejadia apa yang melanda putra kesayangannya.

    Akhirnya Septianpun cerita kepada kedua orang tuanya tentang mimpinya itu. Sehingga akhirnya Papa dan Mama nya pun merasa lega karena Septian tidak mengalami satu kejadian apapun, ternyata semua itu hanya mimpi saja.

    ” Makanya Septian,, kalau minta sesuatu sama Nenek, Papamu atau Mamamu jangan yang macam – macam. Sapu terbangkan hanya ada di flm Harry Potter. Ya sudah sekarang tidur lagi besok kamu sekolah ” tutur papanya.

    Septianpun tidak menjawabnya, dia segera memejamkan matanya dan kinipun terlelap tidur.

    Yang jelas mulai esok hari dia tidak akan manja lagi terhadap Papa dan Mama serta Nenek.

    Ir. BAMBANG SUKMADJI
    bangsuk51 @gmail .com

  • Si Jago Marah

    Ibu memiliki dua belas ekor ayam betina dan satu ekor ayam jantan yang tubuhnya cukup besar dan biasa dipanggil Si Jago. Semua ayam ibu tadi dibuatkan kandang di belakang rumah, sehingga kalau malam mereka tidak tidur di sembarang tempat.

    Pagi – pagi benar sebelum Ibu memasak untuk sarapan, semua ayamnya diberi makanan berupa nasi dan sayur sisa. Meskipun makanan itu semuanya sisa tadi malam, namun ayam –ayam tadi mau makan dengan lahapnya. Maka tidak mengherankan, bila semua ayamnya Ibu gemuk dan sehat.

    Beberapa ayam betina sekarang sudah mulai bertelur, sementara ayam betina lainnya sudah mulai mengerami telurnya. Perasaan Ibupun menjadi senang melihat ayam piaraanya bertelur dan mengerami. Setiap hari tak lupa Si Jago selalu menjaga mereka, sehingga telur – telur yang ada di kandang tidak di makan tikus.

    Namun Si Jago akan membiarkan saja bila Ibu mengambil salah satu telur mereka untuk digoreng. Tetapi bila ada hewan lain yang mendekati kandang-kandang ayam betina Si Jago pun akan marah dan segera menerjang dan mematuknya. Ibupun sangat sayang dengan ulah Si Jago ini.

    Berbeda jauh dengan Amran yang sama sekali tidak suka dengan ayam-ayam ini. Jangankan memberi makan, dekat dengan ayam –ayam ini saja dia tidak mau, bahkan dia sering mengejar ayam ayam itu dan kadang kadang melempar dengan benda apa saja. Makanya semua ayamnya Ibu sangat ketakutan bila dekat dengan Amran.

    Suatu hari saat Amran jalan kaki bersama teman – temannya pulang dari sekolah, dia bertemu dengan Ibu Siti pemilik warung makan, yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya.

    ” Amran, coba kamu tanya ibumu, berapa harga telur ayam kampung. Bu Siti tiap hari butuh untuk dimasak. Nanti coba tanyakan, ya ” pinta Bu Siti.

    ” Ya Bu, nanti segera aku tanyakan sama Ibu , Bu Siti butuh telur berapa ? ” jawab Amran.

    ” Sebanyak – banyaknya, nanti aku tunggu kamu di warung , ya ! ”

    ” Ya, bu ! “.

    Menjumpai tawaran Bu Siti tadi, timbulah niat jahat Amran untuk mencuri telur – telur ayam milik Ibunya. Niat Amran bertambah kuat, setelah rencana jahatnya itu didukung oleh teman karibnya, yaitu Leo dan Joko. Maka tanpa pikir panjangpun Amran segera membulatkan tekadnya. Bahkan kini dia telah punya rencana, setelah makan siang nanti dia akan berpura-pura belajar mengerjakan soal – soal di LKS.

    Amran tahu betul setiap selesai dia makan siang, Ibunya langsung pergi tidur siang dan kadang kadang dia diajak Ibunya untuk bareng tidur siang. Namun kali ini dia beralasan tidak menemani tidur siang Ibunya, karena banyak PR di LKS, yang harus dia dikerjakan. Sementara itu sejak dia makan siang tadi, hingga kini beberapa kali sempat dia dengar kokok ayam betina pertanda baru saja mereka bertelur.

    Hati Amran bergembira tiada terkira, setelah dia mendapatkan 5 telur yang masih baru. Maka kini tanpa menunggu waktu lagi, dia bergegas menyerahkan telur itu pada Ibu Siti dan Amranpun menerima uang dari Ibu Siti sebesar lima ribu rupiah dan kini dia pun bergabung dengan Leo dan Joko untuk main play – station di ruko depan sekolah mereka.

    Demikian seterusnya hari demi hari ulah Amran tiada pernah berhenti, sampai suatu hari Ibunya kaget bukan kepalang. Lantaran telur ayam – ayamnya diluar dugaan sekarang berkurang banyak. Maka dia pun segera mengadu ke Bapaknya Amran tentang hilangnya telur – telur yang harusnya dierami oleh ayam mereka. Bapaknya Amranpun segera meneliti hilangnya telur – telur tersebut.

    ” Ini mungkin dimakan tikus apa kucing, Bu ? ” jawab Bapaknya Amran setelah meneliti kandang ayam mereka.

    ” Tapi Si Jago kok diam Pak, biasanya kalau ada tikus. Si Jago langsung berkokok ”

    ” Mungkin sudah, tapi Ibu yang nggak dengar ”

    ” Ya sudah, makanya kalau siang hari jangan sering tidur. Nanti di atas kandang Bapak pasang lampu. Sehingga kalau malam tikus tidak berani menyerang dan untuk kandangnya biar Bapak lapisi dengan anyaman kawat ”

    Hari itu seharian Bapaknya Amran sibuk memperbaiki kandang ayam mereka sekaligus memasang lampu penerangan. Kegiatan ini sudah barang tentu membuat hati Amran dan kedua temanya bersedih. Lantaran ketiganya hari ini tidak bisa bermain play – station.

    Barangkali hanya perasaan ayam – ayam tersebut dan Si Jago tentunya yang merasa marah dengan ulah Amran. Hanya saja mereka tidak mampu mengadukan kepada kita semua, barangkali saja rasa marah dari ayam – ayam itu sudah memuncak, lantaran telur mereka sering di ambil Amran. Merekapun akan membuat perhitungan bila ulah si Amran dilakukan lagi.

    Benar saja ternyata rencana mereka tidak hanya omong kosong belaka. Kala Amran sudah mengantongi 5 buah telur di saku bajunya, semua ayam betina kontan bersamaan berkokok sekeras – kerasnya. Hal ini tentu saja membuat Amran kaget bukan kepalang. Ditambah lagi tanpa diduga sebelumnya Si Jago langsung ,menerjang dia dengan cara melompat ke arah muka Amran sambil mencakar wajahnya.

    Serangan Si Jago ini akhirnya membuat Amran terjatuh karena kehilangan keseimbangannya dan mengakibatkan telur – telur yang ada di kantongnya pecah membasahi bajunya. Sudah barang tentu kegaduhan ini membuat Ibunya Amran terbangun dari tidur siangnya dan menjadi kaget melihat Amran menangis dan berdarah di pipinya. Perasaan Ibunya menjadi bertambah kaget ketika melihat bajunya Amran dibasahi telur yang pecah.

    ” Oh jadi kamu Amran !, yang mengambil telur. Perbuatanmu itu tidak baik, Anakku ! ” Seru Ibunya sambil menarik telinga Amran

    ” Ampun Bu, betul Bu, Amran yang ambil ”

    ” Baik, nanti Ibu adukan perbuatanmu pada Bapakmu, biar nanti Bapak yang menghukum kamu ” ancaman Ibunya itu membuat Amran takut setengah mati.

    ” Jangan Bu, Amran kapok, betul Bu ”

    ” Kalau kamu takut sama Bapak kamu, Ibu ingin kamu berjanji di depan Ibu tidak akan mengulangi perbuatanmu ! ”

    Amranpun berjanji di depan Ibunya tidak akan berbuat jahat lagi.

    Ir. BAMBANG SUKMADJI
    bangsuk51 @gmail .com

  • Hasan dan Kucing Hitam

    Pada sebuah desa, tinggallah sebuah keluarga, keluarga Pak Rahmat namanya. Pak Rahmat mempunyai tiga orang anak, yaitu Nida, Hasan, dan Husein. Semua putra pak Rahmat sudah bersekolah. Nida kelas 4 SD, Hasan kelas 2 SD, dan Husein kelas 1 SD. Dari ketiga bersaudara tersebut Hasan mempunyai sifat yang cukup berbeda dari dua saudaranya. Ia suka berbuat usil. Ia mempunyai kebiasaan mengganggu hewan peliharaan tetangga. Setiap kali ia lewat atau berjalan-jalan , dan menemui hewan selalu menggertak dan mengusirnya. “Heyya…! Huss…! Pergi kalian! Jagoan mau lewat!” teriakan Hasan membuat hewan-hewan yang didekatnya lari ketakutan. Saat sedang bermain ia juga suka mengganggu hewan-hewan seperti, kucing atau ayam. Semua hewan di sekitar rumahnya takut dengannya. Hasan pernah dijewer mbok Pinah gara-gara ayam mbok Pinah mati karena jatuh kedalam sumur setelah dikejar-kejar Hasan.

    Beberapa hari kemudian, pak Rahmat mengawasi anaknya yang bermain. Hasan bermain di halaman rumah pak Sholeh bersama teman-temannya yaitu Budi, Dodi, dan Tono. Mereka sedang bermain sepakbola. Suara mereka bising, sehingga menganggu tetangga di sekitar rumah pak Sholeh. Ketika sedang bermain, seekor kucing hitam datang melintas di dekat mereka. Tanpa pikir panjang, Hasan segera mengincarnya. Ia menendang bola dengan sekuat tenaga diarahkan ke kucing hitam tersebut.

    “Buk!” suara bola sangat keras mengenai kucing hitam tersebut.

    “Meoong!” kucing hitam menjerit terkena bola tendangan Hasan. Suaranya melengking kesakitan, dan jatuh terpental berguling-guling di tanah.

    “Ha..ha..ha..!Horee..! ” Hasan tertawa merasa puas dengan yang dilakukannya.

    Dari jauh pak Rahmat menyaksikan kelakuan anaknya, menggeleng-gelengkan kepala. Akibat ulahnya banyak tanaman yang berada di sekitar rumah pak Sholeh rusak. Bahkan suatu ketika tendangan bolanya mengenai gerobak penjual bakso yang berakibat nampan, beberapa mangkuk pecah berantakan jatuh ke tanah. Hasan dan teman-temannya langsung lari sekencang-kencangnya tanpa memperdulikan teriakan penjual bakso.

    “Ya Allah, berikan kesabaran padaku, dan berikan hidayah pada anak-anak tersebut. Amin!” gumam penjual bakso dalam hati. Begitulah sifat dan kelakuan Hasan setiap hari. Meskipun kedua orang tuanya selalu menasehati, tidak juga ia jera. Ia selau mengganggu semua hewan yang ia jumpai.

    Hari itu, hari Jum’at. Seperti biasanya setelah pulang sekolah Hasan bermain bersama teman-temannya. Kebiasaan Hasan menggaggu hewan masih terus berlanjut setiap hari. Hari itu Hasan bermain cukup lama hampir menjelang maghrib ia baru pulang. Sampai di rumah ia langsung mandi kemudian persiapan shalat maghrib. Tidak seperti biasanya, setelah shalat maghrib biasanya ia berdzikir dan berdo’a tapi kali ini Hasan langsung pergi ke kamar. Menjelang Isya’ Husein mencari kakaknya tersebut untuk diajak shalat. Ia menuju kamar kakaknya tersebut.

    “Kak, ayo shalat!” panggil Husein.

    “Ya, kakak sudah tidur !” gumam Husein yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan kakaknya yang sudah tidur.

    “Bu, kak Hasan sudah tidur!” lapor Husein.

    “Ya sudah, biar nanti ibu yang membangunkan untuk shalat, mungkin ia kecapean main seharian!” jawab ibu.

    Dalam tidurnya, Hasan bermimpi menjadi seorang pemburu. Ia membayangkan dirinya menjadi seorang jagoan yang tidak terkalahkan. Semua hewan penghuni hutan dapat ia taklukkan. Saat ia berburu, tanpa sengaja salah satu anak panahnya mengenai seekor ular naga yang sangat besar dan ganas. Ular naga tersebut sangat marah dan menoleh ke arah Hasan. Ular naga membuka mulutnya lebar-lebardan menyemburkan hawa panas. Tiba-tiba tubuh Hasan terasa ringan dan tersedot masuk kedalam mulut ular naga tersebut. Hasan berusaha keras untuk melepaskan diri namun selalu gagal.

    “Tolong …tolong…!” Hasan berteriak ketakutan. Teriakan Hasan sampai terdengar pak Rahmat. Pak Rahmat bergegas ke kamar Hasan dan membangunkannya.

    “Hasan…Hasan…bangun!” “Kamu mimpi buruk ya!” Coba sekarang kamu ingat, apa kamu pernah melakukan kesalahan sehingga kamu mimpi buruk.

    “Hasan tadi juga belum shalat isya kan!” “Ayo shalat dulu, nanti tidur lagi!” ajak ayahnya. Hasan masih duduk termenung dan masih teringat mimpi yang tadi ia alami.

    Siang itu, ketika keluar kamar, Hasan melihat seekor kucing hitam. Tanpa pikir panjang sifat usilnya langsung keluar. Ia mengambil bola dan menendangnya ke arah kucing tersebut. Kucing terpental dan menabrak guci hingga pecah. Bolanya terus melayang dan mengenai jendela sampai pecah. Hasan ketakutan dan lari keluar rumah. Tanpa ia sengaja, Hasan menginjak seekor kucing hitam yang berada di depan pintu. “Meoong…!” Kucing langsung mencakar dan menggigit kaki Hasan. Hasan terjatuh kaget dan tidak dapat menahan kesimbangan.

    “Tolong…tolong…!” teriak Hasan. Kaki Hasan luka dan mengucurkan darah. Ibu yang berada di belakang segera mendatanginya. Hasan kemudian dibawa ke rumah sakit.

    “Ayah …Ibu…, badan Hasan sakit semua!” rintih Hasan.

    “Hasan bersyukurlah, lukamu tidak terlalu parah. Makanya jangan suka usil lagi. Jangan suka mengganggu hewan dan menakalinya!” Pak Rahmat menasehati putranya.

    “Ya ayah, maafkan Hasan. Hasan berjanji tidak akan usil lagi dan mengganggu hewan-hewan lagi!”

    “Alhamdulillah, semoga Allah selalu menyayangi kita semua. Amin.

    Nama : Syarifudin

    Alamat : SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta

    syarif.abdurrahman @yahoo .co .id