Author: Bayu

  • Menemani Adik Bayi

    Pagi ini adikku bangun pagi. Adikku masih bayi. aku disuruh Ibu untuk Menemani menemani adikku karena Ibu akan pergi ke pasar untuk membeli bumbu.

    “Nabila, tolong temani adikmu dulu sebentar, ibu akan pergi ke pasar dulu”.

    Kata Ibu

    “Ya bu, aku akan menemani adik”. Jawab Nabila

    Ketika Ibu pulang dan aku tanya, “Kok sudah pulang bu”.

    Bumbu yang ibu cari tidak ada nak sudah habis “ Kata Ibu

    Ibu senang aku menemani adikku. Adikku dan aku senang sekali ibu sudah pulang.

    Ibu senang sekali dan bangga kepadaku karena aku mau membantu ibu untuk menjaga adik selama ibu pergi ke pasar.

    “Terima kasih nabila karena sudah membantu ibu menemani adikmu”. Kata Ibu

    “Sama-sama bu”. Jawab Nabila

    Ibuku adalah ibu yang baik dan cantik. Kata ibu aku dan adikku juga cantik.

    Aku sayang Ibu

    Aku dan adikku dan Ibuku selalu hidup bahagia.

    NABILA NUR ALHARISA [nurishaq88 @gmail.com]
    Edited by Kak Jito

  • Jissy Sang Penulis

    Sudah beberapa bulan ini, Jissy menulis kumpulan ceritanya yang sangat menarik. Namun, Jissy selalu saja malu untuk mengirimkan naskah ceritanya. Padahal, kakaknya, Jessie, yang juga seorang penulis, menyuruh Jissy untuk mengirimkan naskah-naskah ceritanya.

    Suatu hari, Jissy membuka sebuah website. Ternyata, itu adalah kumpulan cerita anak. Cerita itu bisa dikirimkan melalui e-mail. Jissy coba-coba aja kirim ceritanya ke website itu. Dia segera membuka e-mailnya. Lalu, ia mulai menulis cerita-nya itu. Setelah selesai, ia mengirimkannya ke e-mail yang ada di website yang tadi dibukanya.


    Seminggu kemudian, Jissy membuka website kumpulan cerita anak yang waktu itu. Betapa senangnya dia begitu mengetahui namanya tertampang jelas di website itu bersama judul ceritanya, “Memetik Buah.” Ahhhhh!

    Jissy langsung bilang-bilang pada Kak Jessie, Mama, dan Papa. Jissy senang …… banget! Kini, Jissy tidak malu lagi untuk mengirimkan ceritanya.


    15 tahun kemudian…
    Kini, Jissy sudah menjadi penulis profesional. Kira-kira, sudah 35 buku yang dibuat Jissy dan semuanya sudah terbit. Juga, dari 35 bukunya, ada 15 buku yang best seller International, 2 buku yang dijadikan film, dan 8 buku best seller. Sungguh hasil yang tak terbayangkan oleh Jissy.

    Fauziah Salsabila [fauziahsalsa @gmail.com]

  • Hantu di Genteng

    Jam 5 subuh Rara sudah bangun. Ia sholat di Masjid. Saat ia pulang, Yuyuk adeknya yang bernama Rara sedang sholat, saat Yuyuk selesai sholat ia berencana untuk menakut-nakuti Rara. Pada saat itu kak Vaya juga sudah bangun. Yuyuk berbisik dengan kak Vaya.

    Yuyuk berkata “kakak Vaya gimana kalau kita takut-takuti Kak Rara hihihi”

    “Boleh-boleh juga tapi kakak sholat dulu ya Oke” jawab kak Vaya sambil ketawa.

    Saat ini menunjukan jam 9 pagi

    “Asyik……. makan bola-bola tahu isi kentang bikinan ibuku” kata Yuyuk bangga

    Mereka menghabiskan waktu 2 jam untuk makan. Sesudah selesai makan Yuyuk dan kak Vaya masuk masuk kamar Yuyuk, lalu memakai baju putih tipis , wig panjang dan sendal jepit. Tidak lupa mereka berdandan seperti hantu.

    Tiba-tiba Kak Vaya naik ke atas genteng dan membunyikan suara drum yang sangat keras. Rara kaget lalu berteriak “ha..ha..ha..haaaaaaaaaaaaantu”

    Kak Vaya akhirnya membuka masker hitam lalu berkata “Rara ini kak Vaya” “Uuuhhhhhhhhhhh! kakak bikin Rara kaget aja” jawab Rara keras.

    Kini giliran Yuyuk yang manakuti-nakuti. Yuyuk pergi ke kolam ikan dimana Rara sedang duduk di tepi kolam.

    Rara duduk di tepi kolam, tiba- tiba ada titik putih yang mendekat

    “Hantuuuuuu………”Rara Ketakutan.

    “Kak ini Yuyuk….. ha ha ha (sambil tertawa )

    “Maaf ya kak, Yuyuk hanya bercanda” seru Yuyuk.

    Akhirnya keluarga ketiga saudara itu tertawa bahagia.

    Karangan : Rivanya Z.Y (Vanya)
    [rivanya.zahrashaumi @yahoo.co.id
    Edited by Kak Jito

  • Cita-citaku Dokter

    Sejak kecil aku sering merasa kasihan pada orang yang sedang sakit, tapi tidak pernah mendapatkan perawatan yang lebih baik. Itu disebabkan mereka tidak mampu membiayai.

    Aku ingin menolong mereka, aku ingi menjadi dokter. Aku harus belajar dengan giat untuk mencapai cita-citaku. Aku juga berdoa kepada Tuhan, semoga apa yang aku cita-citakan dapat tercapai.

    Ayah dan Ibuku selalu memberi dukungan agar aku tidak putus asa, apabila mendapatkan kesulitan. Mereka selalu berusaha membantu mencari jalan keluar apabila aku mengalami kesulitan.

    Cerita Anak: juara III lomba mengarang “Berkarya Melalui Internet” dng tema “Cita-citaku”

    “ Cita-citaku Dokter ”
    Karya : Anhesta
    Kelas 5
    SD Pleburan 4 Semarang
    Dikirim oleh Ponco Harsono

  • Bencana Banjir di Desa

    Di suatu tempat, ada sebuah desa yang sangat asri. Desa itu bernama Desa Permai. Di sana keadaannya tidak terlalu ramai. Rumah-rumah masih sederhana, sawah dan ladang membentang luas, burung-burung berkicauan tiada henti, hutan-hutan masih tersebar luas di desa itu. Ah, sungguh permai desa ini.

    Di Desa Permai, para penduduknya kebanyakan bekerja sebagai petani. Hampir semua keluarga disana memiliki sawah dan ladang. Penduduk disana juga ramah.

    Suatu hari, para penduduk merasa terkejut. Mereka melihat sebuah mobil mewah melintas. Para penduduk mulai berbisik, “Siapa dia? Mengapa dia berada di sini?”

    Tak lama, mobil itu berhenti di kantor desa. Ternyata, dia seorang pejabat kaya. Ia bermaksud tinggal di desa itu. Ia sangat ramah dan suka menolong. Para penduduk senang, dan mengizinkan ia tinggal di desa.

    Memang, mulanya ia sangat ramah. Tetapi, lama kelamaan si pejabat kaya mulai berbuat jahat. Ia memaksa penduduk memberi lahan mereka kepadanya. Hutan-hutan juga ditebangi, hanya sekedar untuk membuat pabrik untuk dirinya sendiri. Para penduduk merasa kesal. Mereka bermaksud mengusirnya. Tapi, bapak kepala desa mencegah mereka. “Biarkan saja, agar dia tahu akibatnya nanti”, kata bapak kepala desa.

    Esok harinya, hujan turun dengan deras. Petir menggelegar dengan kerasnya. Hujan turun sangat lama, seakan-akan hujan turun tiada henti. Air mulai naik setinggi tumit. Para penduduk merasa khawatir dan panik. Mereka menyelamatkan barang-barang mereka, dan pergi mengungsi bersama bapak kepala desa. Mereka meninggalkan si pejabat kaya yang tamak itu. Kini Desa Permai sunyi senyap. Tinggal si pejabat kaya yang masih menetap di desa. Ia masih bingung dengan hartanya, padahal air sudah mulai naik setinggi paha. Saat akan pergi mengungsi, ia sudah lebih dulu tenggelam, karena air sudah naik setinggi dada. Akhirnya, si pejabat kaya yang tamak itu mati tenggelam.

    SEKIAN….

    Nama : Ayunda Aura Salsabil
    Kelas : 7 A
    Sekolah : SMPN 3 Kepanjen – Malang, Jawa Timur 65163
    Email : ayunda.pisces @yahoo.com

  • The Miser

    A miser sold everything he had and bought a lump of gold. Then, he buried it in a hole in the ground by the side of an old wall. He went to look at his buried gold daily.

    One of his workmen observed his frequent visits to the spot and decided to take a look. He discovered the hidden treasure and stole it. On his next visit, the Miser found that his gold is gone and he began to tear his hair and cry hysterically.

    One of his neighbors saw him overcome with grief and learning the cause. Then, the neighbor said “Don’t be sad. Just take a stone and burry it there as if it is your gold. It will be just the same because when your gold was there, you did not make the slightest use of it.”

    • Pelajaran dari cerita ini: Nilai sebuah barang yang kita miliki sebenarnya dinilai dari manfaat yang kita dapatkan dari barang itu. Walaupun harganya mahal, jika kita sama sekali tidak menikmati manfaatnya, maka itu sia-sia.
    • The Miser adalah cerita pendek dari Aesop. Cerita ini bahasanya telah kami ubah supaya lebih mudah untuk dimengerti oleh anak-anak.

    Adaptasi dalam bahasa Indonesia : Emas dan Batu

  • Kue-kue Lisy

    Aku punya teman sekelas namanya Lisy. Dia anak yang manis dan ceria. Setiap hari, Lisy membawa kue-kue buatannya dan membagikannya ke tiap anak di kelas. Kalau kuenya enak sih, nggak masalah. Tapi, kue Lisy itu tidak enak sama sekali. Rasanya pahit, gosong, dan kadang asin. Karena takut Lisy marah, kami sekelas tak pernah protes padanya dan pasrah saja tiap hari memakan kue Lisy yang bikin mual.

    Suatu hari, kelas kami kedatangan murid baru. Ryn namanya. Dia cantik sekali! Dia juga ramah. Kami semua menyukainya. Kami langsung panik saat Lisy mengeluarkan kotak bekalnya. Isinya? Tentu kue-kue Lisy! Oh tidak, bagaimana jika Ryn mencicipinya dan memuntahkan kue itu? Tentu Lisy akan marah.

    “Ryn, mau coba kue buatanku? Gratis, lho!” kata Lisy senang. Ryn mengangguk tanpa melihat isyaratku agar jangan memakan kue itu. Dia mengambil sepotong kue berbentuk hati warna coklat muda dan memasukkan kue itu ke mulutnya. Kami semua kecuali Lisy menahan nafas saat Ryn mengunyah kue itu. Sejenak, wajahnya tampak menahan rasa tak enak.

    “Enak, kan?” tanya Lisy bangga. Ryn tak menjawab, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kotak bekal! Dengan ramah Ryn memberikan kami masing-masing sepotong kue berbentuk bulat warna krem. Kami memakannya. Wah … LEZAT SEKALI! Coba kue Lisy seperti ini. Nyam…nyam ….

    “Wah, enak banget!” puji kami senang. Ryn tersenyum lalu memandang Lisy.
    “Kamu pernah makan kue buatanmu sendiri?” tanya nya pada Lisy.
    “Tidak. Aku sudah yakin akan rasanya, lagipula aku takut ada yang tak kebagian jika kue ini kumakan” jawab Lisy.
    “Cobalah kuemu!” pinta Ryn. Lisy menurut dan memakan kuenya. Baru dua kali mengunyah, dia langsung memuntahkan kue itu.

    “Hoeks! Kenapa kueku asin sekali?” seru Lisy kesal. Ryn tersenyum membuat Lisy malu.
    “Maaf semuanya. Aku membuat kalian tersiksa. Mulai sekarang aku akan belajar bikin kue pada Ryn” ucap Lisy. Kami senang sekali. Terima kasih Ryn. Tak akan ada lagi kue pahit, asin, dan gosong di kelas. Yang ada adalah kue Ryn yang ENAK!

    Yanti Olivepad [yanti.olivepad @gmail.com]

  • Kucingku Yang Manis

    Namaku Siska. Saat pulang sekolah tadi, jam 12.00, aku berjalan ke rumah. Lalu, aku dan temanku, Shafa, melihat kucing yang malang. Ia hampir mati kedinginan. Tiba-tiba, aku ingat kucing itu milik siapa! Tante Salma! Ia pindah ke Sidoarjo 1 bulan lalu. Mungkin ia lupa kucingnya. Aku mengambil kucing itu. Lalu kubawa dia pulang bersamaku untuk dipelihara. Sampai dirumah, benar saja dugaanku. Mama geli dengan kucing yang kutemukan di dekat tong sampah itu.”Ma! kagak usah takut donk! Ini kucingnya Tante Salma! Mungkin aja Tante Salma lupa bawa!” jelasku. Yup, Mamaku suka sama kucing Tante Salma, tetangga lamaku.”Eh, kucing kotor ini Hana?????????” Mamaku masih nggak ngerti. “Oh….. Kita pelihara aja Siska! Lagian….. Dugaan Mama, Hana ikut Tante Salma… Tapi, ternyata lupa,” lanjut Mama. Senangnya Mama bisa ngerti perasaanku. Lalu, aku memandikan kucing manis yang bernama Hana itu. Jadi, setiap saat aku kesepian, aku akan selalu memeluk kucingku itu dengan penuh kasih………. Tamat

    Karya: Rihhadatul ‘Aisy
    Kelas: 3 SD
    Sekolah: SDN 12 Pangkalpinang
    Email: aisyndayat12 @gmail.com

  • Indahnya Berbagi

    Pada suatu sore, aku membeli permen karet. Permennya ada 10 buah. Sampai di rumah aku makan satu. Adikku, zaky melihat aku mengantongi permen karet itu. “Mbak, aku minta permennya…” pinta adikku. “Eh, udah udah habis” kataku berbohong. “Itu apa”kata adikku sambil menunjuk kantong celanaku. Ternyata permen karet itu menonjol keluar saku. “Eh… ini…” kataku kehabisan akal. “ayo, bohong dosa lho…” desak adikku. “Eng enggak kok, aku nggak bohong” kataku menyangkal. Ya sudah, aku keluarkan saja. Lalu aku makan satu lagi. Adikku menjilat bibir dan ikut menggerakkan mulutnya seperti aku. Aku langsung masuk rumah dengan kesal, adikku pun ikut. “Ngapain sih?, kamu ngikutin aku?” tanyaku membentaknya. Adikku menangis sesenggukan lalu masuk kamar dan menangis di sana. Aku tersenyum puas.

    Lalu aku melihat acara televisi “nggak ada yang asyik” kataku. Aku berhenti memencet tombol di remote saat ku dengar siaran radio dakwah bertema ‘Indahnya Berbagi’ ku dengar dengan seksama. Aku tersadar, aku itu pelit. Adikku keluar dengan mata sembap. “Mbak lagi ngapain? kok tivinya nggak dilihat?” tanyanya sopan. Aku berpikir ‘aku pelit sama adik, tapi adik baik sama aku…’ pikirku. Tanpa menunggu lama lagi, aku meminta maaf dan memberi empat permenku supaya adil, karena aku memiliki delapan permen dan di bagi dua menjadi empat. Oh benar, BERBAGI MEMANG INDAH.

    Nama : Ayra Noor Khalida
    Kelas : 4B
    Sekolah : SD Muh Pakem
    ayranice @yahoo.co.id

  • Clara dan Sasha Mau UN

    Nama mereka berdua itu Clara Nuridah dan Sasha Milanda. Mereka adalah 2 sahabat sejati yang selalu bersama-sama dalam suka maupun duka. Tiada yang mereka bisa lakukan tanpa bersama-sama. Keduanya bahkan adalah kakak-adik. Jadi, dirumah mereka bisa bersama-sama setiap hari. Mereka juga kembar. Adik laki-laki mereka pun sama kembar. Namanya Romi Zakio dan Tio Puspito. Ke-4nya selalu main bersama. Terkadang, kedua adik mereka selalu sibuk apa saja. Misalnya yang gak penting. Bisa saja nonton TV, atau main game online.

    Tapi, sayangnya, Clara dan Sasha akan masuk SMP karena sebentar lagi UN (Ujian Nasional). Sebelum Mama mereka pergi ke Perth, Australia, ia pernah berkata, “Nak, kalau kalian mau ujian, telpon Mama. Nanti Mama doain. Mama bakal tinggal disitu selama 1 tahun penuh. Jadi, jaga diri kalian baik-baik. Kalau ada yang sakit parah, kalian bisa sms, telpon, atau kirim e-mail sama Mama. Ingat pesan Mama ya!”

    Clara segera mengambil HP BlackBerrynya dan menelpon mama. “Halo, ini Clara ya? Apa kabar sayang? Ada masalah apa?” “Anu, besok Clara dan Sasha besok mau UN. Jadi, Mama bisa doain gak?” “Pasti sayang….” “Oh ya, kabar kami ber-4 baik Ma, pasti Mama juga baik. Dada ya ma, aku sama Sasha mau belajar dulu buat besok. Sampai jumpa besok Ma, I love you!” “Ya, Mama baik. Dada juga!” Clara mematikan telpon. “Mama doain juga Sha,” kata Clara gembira. Sasha mengangguk. Benar juga dugaannya. “Kita belajar yuk…” potong Sasha. “…Sama-sama,” sambung Clara. Kedua kakak-beradik itupun tertawa.

    Rihhadatul ‘Aisy
    Kls 3 SD Negeri 12 Pangkalpinang
    e-mail: aisyndayat12 @gmail.com