Author: Bayu

  • Aku Pasti Bisa

    Vina namanya, orangnya cantik dan cerdas, hobinya adalah memasak, berkebun dan belajar, dirumahnya, banyak sekali ada kebun, malah ia mempunyai kebun yang luas dirumah neneknya.
    Kebun milik Vina ada berbagai macam sayur-sayuran dan buah-buahan seperti terong, bayam, wortel, apel, jeruk dan lain-lainnya.

    Suatu hari ia mencoba memasak sayur kangkung untuk neneknya di desa.
    “Bunda, bagaimana cara memasak sayur kangkung?” tanya Vina pada bundanya.
    “Ehmm, kangkungnya dimasak dulu, setelah itu, kamu membuat sambal tomat, dan masukkan kangkungnya pada sambal tomatnya, lalu selesailah! Maaf nak, kali ini bunda tidak bisa menemani kamu memasak, bunda akan ke supermarket membeli tofu,” ujar bundanya.

    “Ya, sudah! Terima kasih, ya, bunda!” balas Vina pada bundanya.
    Vina pun mencoba membuat sayur kangkung itu, dengan perlahan-lahan ia mengulak cabai dan tomatnya, agar menjadi sambal tomat.
    Taraaa! Jadilah sayur kangkung buatan Vina, ia memanggil Vani, adik perempuannya untuk mencicipi sayur buatannya.
    “Dik Vani, cicipin sayur buatan kakak dong!” tawar Vina.
    “Oke, deh!”

    Vani pun mencicipi sayur itu, namun apa hasilnya…
    “Uwekk, maaf kak! Sayurnya hambar, kalau mau tahu lagi, tanya sama ayah ya!” jawab Vani yang terlihat tidak senang.
    Huhh, kenapa tidak enak, ya? Gerutu Vina dalam hati.
    Vina pun mencari ayahnya, dan ayahnya pun mencicipi.
    “Ehmm, maaf nak! Sayurnya terasa sangat hambar, mungkin kamu bisa mencoba lain kali! Maaf telah mengecewakan kamu, nak” ujar ayah pada Vina.

    Vina yang wajahnya muram pun, pergi ke dapur, dan menaruh sayurnya dan langsung lari menuju kamarnya.
    Kamarnya pun dikunci dengan rapat, mungkin karena hal tadi ia menangis.
    “Hiks, hiks! Kenapa aku ini selalu gagal?!” ujar Vina sambil menangis.
    “Aku menyerah! Aku ingin nenek bangga pada masakan ku kali ini!” kata Vina lagi-lagi mengeluh.
    Setelah beberapa menit, akhirnya bunda pulang dari supermarket, dan menemui Vina.
    “Vina, ayo keluar! Jangan menangis lagi, ya!” sahut bunda pada Vina.
    “Hiks hiks, bunda bisa membantuku untuk memasak sayur lagi?” tanya Vina dari kamarnya pada bunda.
    “Tentu bisa, sayang! Ayo keluar!” balas bundanya.

    Vina pun keluar dari kamarnya, lalu menuju kebun belakangnya.
    “Ayo, Vin! Kita ambil jamur dan bayam, mungkin kita akan membuat mie ayam jamur,” ujar bunda pada Vina saat di kebun.
    “Baikklah, bun!” jawab Vina menuruti.
    Setelah mereka sampai didapur, segera mereka membuat mie ayam jamur.
    “Hemm, caranya bagaimana?” tanya Vina pada bunda.
    “Begini,…”

    Dan seterusnya, hingga akhirnya mie ayam jamur pun selesai, hemm, sepertinya lezat.
    Vina, Vani, ayah dan bunda mencicipi, dan dikatakan bahwa rasanya sangat enak, berarti Vina sudah bisa memasak, memang selama ini Vina sering memasak, tapi hanya memasak pasta, telur dadar, spagetthi dan pai.

    Vina pun memberikan mie ayam jamur, puding coklat dan pai anggur untuk neneknya yang tercinta.
    “Nenek, ini aku berikan tiga jumlah makanan! Semoga nenek merasa senang,” ujar Vina kepada neneknya.
    “Ehmm, sepertinya enak!” balas nenek. “Siapa yang membuat?”
    “Pastinya, Vina Melodian, nek!” jawab Vina.
    “Masa’ kamu yang membuat? Nenek bangga sekali, sayang,”

    Vina pun merasa senang dan bangga atas karyanya, dan ia tidak pernah putus asa, malah setiap hari ia memasak berbagai macam makanan yang lezat, mulai dari breakfast, lunch dan dinner.

    Karya : Agis Santhika
    Umur : 10 tahun
    Asal : Denpasar, Bali
    Wagiswari Agis [agis0204 @yahoo.com]

  • Gitar Kesayangan

    Ada seorang gadis yang bernama Leila, ia suka memainkan gitar, malah ia pernah mendapat juara satu saat lomba gitar.

    Pada suatu hari, Leila diajak berkemah oleh teman sekelasnya, Leila pun menerima ajakan itu, namun wali kelas berkata, “Anak-anak! Jangan membawa barang-barang yang berharga, kalau hilang, bu guru tidak akan mau bertanggung jawab, jadi tolong jangan membawa barang berharga,” kata wali kelasnya.

    “Tapi,… kalau gitar bolehkan, bu?” tanya Leila.

    “Tidak boleh, gitar itu ada yang sampai jutaan rupiah, tolong tahan memainkan gitarmu, Leila!” jawab bu guru.

    “Tapi,… ya, sudahlah!” ujar Leila.

    Sesampainya dirumah, Leila segera memberitahukan perihal itu, kepada ibunya.

    “Ibu, aku diajak berkemah bersama teman sekelasku dan bu guru, tapi tidak boleh bawa barang berharga, berarti aku tidak boleh bawa gitar, dong?” ujar Leila pada ibunya.

    “Iya, kamu tidak boleh membawa gitar! Ayah membelikan gitar itu jutaan rupiah, kalau hilang kita yang rugi,” balas ibunya.

    “Ya, sudah!” jawab Leila yang raut wajahnya sedih.

    Leila pun mengurungkan dirinya di kamarnya yang berwarna biru itu, dan memainkan gitarnya yang berwarna biru. Hingga akhirnya, Leila tertidur lelap.

    Keesokan harinya, setelah sampai disekolah, ia bertanya pada bu guru.

    “Bu, besok apa saja yang dibawa?” tanya Leila.

    “Nanti sampai dikelas ibu beritahukan!” balas bu guru.

    Setelah semuanya berada dikelas, bu guru pun menuliskan barang-barang yang akan dibawa untuk kemah, dan inilah yang ditulis oleh bu guru di papan tulis :

    BARANG-BARANG YANG HARUS DIBAWA:

    • SELIMUT
    • BANTAL
    • BEKAL (APA SAJA BOLEH)
    • PAKAIAN

    NANTI ANAK-ANAK HARUS DITINGGAL OLEH ORANGTUA DAN KITA AKAN BERKEMAH SELAMA TIGA HARI.

    Itulah yang ditulis oleh bu guru, dan bu guru berkata, “Anak-anak, nanti ada yang membawa kayu bakar, korek api, panci dan alat penggorengan! Siapa yang mau membawa kayu bakar, siapa yang mau membawa korek api, siapa yang mau membawa panci dan siapa yang mau membawa alat penggorengan?”

    Setelah beberapa menit, ibu guru telah mengumumkan siapa yang membawa barang itu, lalu semua siswa akhirnya pulang bersama.

    Saatnya hari untuk kemah, Leila dan teman-temannya sudah siap semua, lalu membuat tenda dan menyalakan api unggun.

    “Wahh, seru ya! Aku senang berkemah!” ujar Vania, sahabat Leila.

    “Aku juga! Kapan-kapan kalau liburan kita kemah yuk!” balas Leila.

    Menyanyi bersama dan melingkari api unggun sangat menyenangkan.

    Setelah selesai berkemah, Leila pulang dan ia langsung menuju kamarnya dan mencari gitar kesayangannya.

    “Ibu, dimana gitarku?” tanya Leila.

    “Ibu tidak tahu, nak! Coba dicari!” balas ibu.

    Setelah lama dicari, Leila tidak menemukan, Leila pun menangis, dan mengadu kepada ibunya.

    “Ibu,… gitarnya tidak ada…” ujar Leila.

    “Ya,… bagaimana lagi! Ya, sudah! Ayo makan siang dulu!” ajak ibu mengalihkan pembicaraan.

    “Aku tidak mau makan, sebelum gitar itu kutemukan!” balas Leila sambil menangis.

    Leila pun tidak mau keluar dari kamarnya sebelum gitar itu ditemukan, namun setelah beberapa jam, datanglah ayah yang sedang membawa gitar kesayangan Leila.

    “Ayah,… ayah bawa kemana gitarku?” tanya Leila, “Aku sedih jika gitar itu tidak kutemukan!”

    “Ohh, gitar ini! Gitar ini ayah pinjam untuk membuat yel-yel di kantor ayah! Maafkan ayah, kalau ayah meminjam gitarmu tanpa setahumu, ayah juga lupa bilang dengan ibu! Kalau ibu tahu, pasti ibu akan beritahukan kamu,” jawab ayah.

    “Ya, sudah! Lain kali jangan begitu, ya! I LOVE MY GUITAR,…”

    Leila pun menjaga gitar itu dengan baik agar tetap bagus, ia pun berkata, “ I LOVE MY GUITAR… “

    Karya : Agis Santika
    Umur : 10 tahun
    Asal : Denpasar, Bali.

  • Teman Baru Cobi

    Disebuah hutan, tinggallah seekor anak ular cobra bernama Cobi. Cobi sangat kesepian dihutan itu karena tak ada satu hewan pun yang mau berteman dengannya. Para ibu melarang anak-anaknya berteman dengan Cobi karena Cobi memiliki racun yang membahayakan. Oleh karena itu mereka takut anak-anaknya terkena racun dari tubuh Cobi.

    Suatu hari saat Cobi sedang berjalan-jalan dihutan, ia bertemu dengan anak-anak monyet yang sedang bermain. “Halo… bolehkah aku bergabung?” sapa Cobi pada salah satu monyet yang ia dekati. “Tidak boleh, kau dapat membahayakan kami, pergi sana” bentak monyet itu. “Aku tidak akan menyakiti kalian, aku hanya ingin bermain, lagipula aku ular yang baik, kok” kata Cobi memelas. “Tidak, kau pasti bohong, dimana-mana ular cobra pasti jahat, kalian adalah hewan pembunuh, kami tidak sudi berteman dengan kamu” bentak monyet itu lagi. Mereka pun pergi meninggalkan cobi. Cobi pergi dari tempat itu tanpa berkata apa-apa.

    Tak jauh dari tempat itu, Cobi bertemu dengan seekor anak kura-kura. “Hai siapa namamu? Bolehkah aku berteman denganmu?” sapa Cobi. Kura-kura itu terus berjalan tanpa menanggapi Cobi. “Namaku Cobi, aku ular yang baik hati, aku janji tidak akan menyakitimu” kata Cobi lagi. Namun, si kura-kura tidak mau mendengarkan Cobi, ia terus berjalan tanpa berhenti. Dengan perasaan kecewa, Cobi pun pergi lagi.

    Keesokan harinya, saat Cobi sedang melakukan kebiasaannya berjalan-jalan dihutan, Cobi melihat dua ekor anak singa sedang mengganggu anak-anak monyet yang sedang bermain. Tanpa pikir panjang, Cobi langsung menyerang kedua singa itu dengan racunnya hingga keduanya pingsan tanpa sempat menyerang Cobi. “Terima kasih ya, kamu sudah menyelamatkan kami, maafkan kami karena kami sudah mengusirmu kemarin,” kata salah satu monyet.” “Sama-sama, kita kan harus saling menolong terutama orang yang sedang kesusahan,” balas Cobi ramah.” “Kamu memang ular yang baik hati, sekali lagi maafkan kami karena telah salah menilaimu.”

    Akhirnya, mereka bersahabat. Bukan hanya dengan para monyet, hewan-hewan lain juga mau menjadi sahabat Cobi. Teman Cobi pun semakin banyak. Para ibu tidak melarang anak-anaknya berteman dengan Cobi. Mereka bersahabat dengan indah dan mereka berjanji akan menjalin persahabatan selamanya.

    Karya Alifana Siti Ken Des Silvana [alifanasilvana @yahoo.co.id] yang dikirimkan ke ceritaanak.org

  • Dongeng Asal Mula Duabelas Shio Binatang

    Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang dewa. Pada tanggal 31 Desember pagi sebelum tahun baru, Sang Dewa menulis surat kepada binatang2 diseluruh negeri. Angin lalu menyebarkan surat-surat itu ke seluruh negeri.

    Dalam sekejap, para binatang menerima surat2 itu, yang isinya seperti ini:

    “Besok pagi di Tahun Baru, aku akan memilih binatang yang paling dahulu datang kesini, dari nomor satu sampai dengan nomor duabelas. Lalu, setiap tahun aku akan mengangkat satu-persatu dari mereka sebagai Jenderal berdasarkan urutan”. Tertanda, Dewa.

    Para bintang sangat bersemangat dan tertarik dengan hal itu. Mereka sangat ingin menjadi Jenderal. Tetapi, ada seekor binatang yang tidak membaca surat semacam ini, yaitu Kucing yang suka bersantai dan tidur. Ia hanya mendengar berita ini dari Tikus. Tikus yang licik menipunya dan memberitahu bahwa mereka harus berkumpul di tempat Dewa lusa tanggal 2 Januari, padahal seharusnya mereka berkumpul besok pagi tanggal 1 Januari.

    Semua binatang bersemangat dan memikirkan tentang kemenangan, dan mereka semua tidur cepat. Hanya Sapi yang langsung berangkat malam itu juga, karena ia sadar bahwa ia hanya dapat berjalan lambat. Tikus yang licik melihatnya lalu meloncat dan menumpang di punggung Sapi, tapi Sapi tidak menyadari hal itu.

    Pagi harinya, saat hari masih gelap, Anjing, Monyet, Babi Hutan, Harimau, Naga, Ular, Kelinci, Ayam, Domba dan Kuda semuanya berangkat berlari menuju ketempat Sang Dewa.

    Saat matahari mulai terbit, yang pertama kali sampai di tampat tinggal Dewa adalah…Sapi. Tapi kemudian Tikus melompat kedepan dan mendarat tepat dihadapan Dewa. Maka Tikus pun menjadi yang pertama.

    Selamat Tahun Baru Dewa…kata Tikus kepada Dewa.

    Sapi pun menangis karena kecewa menjadi urutan ke dua.

    Di belakang mereka, tibalah Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi Hutan datang berurutan. Dengan demikian mereka ditetapkan sebagai pemenang satu sampai dengan duabelas sesuai dengan urutan kedatangannya.

    Duabelas ekor binatang ini kemudian disebut dengan 12 Shio Bintang.

    Para binatang itu merayakan kemenangan dan berpesta pora sambil mengelilingi Sang Dewa. Lalu, kucing datang dengan wajah yang sangat marah. Ia mencari Tikus yang telah menipunya sehingga ia datang terlambat. Kucing pun berlari mengejar Tikus kesana kemari.

    Sejak itu mulailah era Duabelas Shio Binatang, dimulai dari yang pertama tahun Tikus, lalu Sapi, kemudian Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi Hutan.

    Kucing yang tidak berhasil masuk kedalam Dua belas Shio Binatang sampai sekarang masih mengejar Tikus kesana kemari karena telah ditipu.

    *Cerita Anak tentang duabelas shio binatang, disadur dari berbagai sumber.

  • Asal Usul Nama Desa Kemingking Dalam

    Pada zaman dahulu kala di suatu kerajaan yag bernama Kerajaan Paliang Jati tersebutlah seorang raja yang arif, bijaksana, dan dermawan yang bernama Raja “Ramanda Sultan Jati”. Selama kepemimpinan Sang Raja tidak seorangpun rakyatnya yang hidup sengsara atau menderita. Maka dari itu rakyat sangat menghormati Sang Raja dan mereka juga tidak segan-segan mempertaruhkan nyawa mereka demi Sang Raja.


    Raja Ramanda Sultan Jati mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita yang selalu menemaninya di saat susah maupun senang. Karena kecantikannya itulah Sang Permaisuru digelari sebagai “Permaisuri Ayu” oleh rakyatnya. Tidak berapa lama setelah pernikahan mereka yang indah dan bahagia, Raja Ramanda Sultan Jati dan Permaisuri Ayu kemudian dikaruniai seorang putra yang mereka beri nama “Kamanda Sultan Jati” dan seorang putri yang bernama “Ayunda”.

    Sejalan dengan perjalanan waktu, Kamanda Sultan Jati pun tumbuh dewasa dan tampan. Namun Kamanda Sultan Jati memiliki kepribadian yang sangat berbeda jauh dengan ayahandanya. Tingkah lakunya tidak layak disebut sebagai putra mahkota karena tidak sekalipun ia peduli terhadap kepentingan dan kesejahteraan rakyat dan kerajaannya. Tidak seperti ayahnya yang arif, bijaksana, dan darmawan Kamanda Sultan Jati tidak lebih dari seorang yang tamak dan semena-mena kepada rakyatnya.

    Raja Ramanda Sultan Jati sudah mencapai usia lanjut dan hendak beristirahat dengan meletakkan tampuk kepemimpinan kepada putra satu-satunya Kamanda Sultan Jati. Sejak saat itu, tak suatu haripun berlalu tanpa penyesalan dari Yang Mulia Ramanda Sultan Jati. Karena sejak berada di bawah kepemimpinan putranya, Kerajaan Paliang Jati yang dulu merupakan kerajaan yang makmur merata hingga seluruh penjuru negeri, kini hanyalah sebuah daerah dengan kekacauan di mana-mana dan kemiskinan mewarnai setiap sudut wilayah kecuali tentu saja istana kerajaan dan sekitarnya.

    Pada suatu hari raja baru ini memaksa ibundanya agar menikah dengannya. Melihat kejadian tersebut, Ramanda Sultan Jati terkejut tak kuasa menahan kesedihannya lebih jauh lagi. Sehingga Ramanda Sultan Jati kembali kepada Sang Pencipta dalam kesedihan yang luar biasa. Permaisuri Ayu pun tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut hingga tidak lama kemudian Ia menyusul kepergian suaminya

    Tingkah laku Kamanda Sultan Jati semakin menjadi-jadi setelah kepergian kedua orangtuanya. Rakyatnya semakin miskin dan menderita karena kemiskinan yang semakin parah dan angka kriminalitas yang terus meninggi. Namun, Kamanda Sultan Jati tetap saja tidak melakukan apapun untuk memperbaiki keadaan. Ia justru menjadi semakin keterlaluan dengan memaksa adiknya Putri Ayunda untuk menikahinya. Dari pernikahan terlarang tersebut Permaisuri Ayunda memiliki seorang putra yang bernama “Dimitri Sultan Jati”.

    Dimitri Sultan Jati tumbuh besar di bawah asuhan ibundanya tercinta. Semakin dewasa, Dimitri semakin mirip dengan kakeknya Sang Raja terdahulu. Baik rupa maupun sifatnya selalu mengingatkan Permaisuri Ayunda akan rupa dan sifat ayahandanya. Tidak hanya baik hati dan rupawan, Dimitri juga memiliki rasa keadilan dan keberanian yang begitu tinggi. Hal ini ia tunjukkan dengan selalu menentang kelakuan dan kebijakan ayahnya, terutama ketika ayahnya membuat peraturan-peraturan yang menyengsarakan rakyatnya seperti:

    • semua hasil perkebunan rakyat harus diserahkan pada kerajaan
    • 50% tanah rakyat adalah milik kerajaan
    • Setiap anak lelaki yang lahir harus dibunuh karena Kamanda Sultan Jati takut akan ada yang melakukan perlawanan dan mengalahkannya
    • Setiap anak perempuan yang lahir harus dirawat dan dijaga baik-baik dan ketika dewasa akan dijadikan selirnya
    • dll

    Melihat kelakuan ayahnya yang keterlaluan, Dimitri menentangnya secara terang-terangan. Hal ini tentu saja membuat Sang Raja lalim marah besar. “Dimitri! Kamu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Jika kau menentang ayah lebih jauh lagi, ayah tidak segan-segan mengusirmu dari istana ini ke tempat kau tidak akan bisa kembali melihat matahari terbit lagi.” Ancam Kamanda Sultan Jati.
    “Ayahanda, ananda lebih baik pergi dari istana ini daripada hidup dengan orang yang tidak manusiawi seperti ayah. Sungguh sedih hatiku tidak dapat melakukan suatu apapun untuk memperbaiki tabiat ayah.” Jawab Dimitri.

    Kamanda Sultan Jati hanya tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban anaknya yang segera beralalu meninggalkannya. Sebelum pergi Dimitri hendak membawa serta ibunya. Tetapi Permaisuri Ayunda menolak untuk pergi bersama Dimitri karena ia merasa tidak dapat meninggalkan rakyatnya menderita begitu saja dan kondisinya yang sedang hamil tua tidak memungkinkannya untuk bepergian jauh.

    Belum lama setelah kepergian Dimitri istana tampak ramai dengan perayaan kelahiran tiga putra kembar Sang Raja dan Permaisuri. Karena bahagianya, Sang Raja menggelar suatu pesta besar sehingga seluruh istana penuh dengan hias-hiasan, tari-tarian, makanan-minuman, dan para bangsawan. Ketika sedang mengantar salah seorang tamu kayanya pulang, datanglah seorang pengemis tua menghampiri Sang Raja dan Permaisuri yang masih berdiri di depan pintu menunggu tamunya menghilang dari pandangan.

    “Wahai Raja Yang Mulia, bolehkah saya meminta sesuap nasi di istanamu yang megah ini?” Tanya pengemis tua yang menyadarkan tubuh rentanya pada sebatang tongkat itu. Namun, bukannya memberikan sedikit makanan dari limpahan sajian dari istananya, Sang Raja justru menjadi sangat murka dan marah melihat pengemis tua ini begitu lancang berdiri dan meminta di hadapannya.

    “Dasar pengemis renta! Tidak ada sebutir nasipun untuk orang yang menjijikan sepertimu. Pergi dari sini sebelum bau menjijikkanmu itu mengotori istanaku ini dan menghilangkan selera makan tamu-tamuku.” Usir Kamanda Sultan Jati sambil berlalu pergi. “Wahai Raja Yang Mulia, sesungguhnya kamu harus tahu bahwa kesombonganmulah yang akan menghancurkan kepemimpinanmu. Dan sesungguhnya tidak akan bisa mati dirimu kecuali keempat putramu memotong empat bagian tubuhmu dan melemparkannya ke empat penjuru mata angin.”

    Mendengar pernyataan yang dianggapnya sangat lancang, Sang Raja berpaling dan telah memutuskan untuk menggantung pengemis tua itu. Tetapi betapa terkejutnya ia ketika melihat tidak ada seorangpun di tempat pengemis tua tadi berdiri. Ia melihat ke sekeliling tetapi tetap saja pengemis tua itu tidak terlihat. Kamanda Sultan Jati tidak mengerti bagaimana seseorang yang sudah tua renta bisa dapat pergi secepat itu. Tetapi ia dengan segera memutuskan untuk kembali menikmati pestanya yang meriah dan melupakan sang pengemis sama sekali.

    Beberapa masa telah berlalu sejak peristiwa itu ketika Sang Raja menderita penyakit yang sangat aneh. Tubuh Sang Raja tidak bisa digerakkan, seluruh tubuhnya menjadi kaku dan ia telihat seperti mayat hidup. Semua tabib telah didatangkan dari seluruh penjuru negeri, namun tidak ada seorangpun yang dapat menyembuhkannya. Bahkan membuat kondisi Sang Raja sedikit lebih baikpun para tabib itu tidak kuasa. Mereka hanya dapat berkata bahwa penyakit yang menyerang Sang Raja adalah penyakit yang teramat aneh dan tidak pernah mereka jumpai sebelumnya apalagi obatnya.

    Bertahun-tahun telah berlalu sejak Sang Raja menderita penyakit aneh. Tetapi penilaian dan pendapat para tabib tetap sama dan kondisi Raja tidak berubah membaik. Di tengah keputusasaannya, Sang Permaisuri teringat akan kata-kata pengemis tua yang di masa lalu telah diusir oleh Kamanda Sultan Jati. Untuk mengakhiri penderitaan suaminya, Permaisuri kemudian menyuruh ketiga putra kembarnya untuk memotong empat bagian tubuh Kamanda Sultan Jati. Tetapi usaha itu ternyata sia-sia karena sebelum empat bagian tubuh itu di bawa ke empat penjuru mata angin, tubuh Raja kembali seperti semula.

    Sang Permaisuri menjadi kecewa karena ternyata hal itu tidak dapat dilakukan tanpa kehadiran putra sulungnya, Dimitri Sultan Jati. Sedangkan dirinya sama sekali tidak mengetahui keberadaan Dimitri sekarang. Beberapa tahun lagi berlalu dengan tujuan utama pasukan Kerajaan Paliang Jati adalah mencari Putra Mahkota yang menghilang. Meski segala upaya telah dilakukan dan setiap tempat telah didatangi tetapi tetap saja keberadaan Dimitri Sultan Jati adalah misteri. Hingga suatu hari seorang prajurit berhasil memasuki istana Kerajaan Paliang Jati dan menerobos bagian tengah yang merupakan tempat khusus bagi Raja dan Permaisurinya. Sang Permaisuri yang melihat prajurit ini menegur dan memarahinya karena telah lancang memasuki kamar Raja terlebih Sang Raja kini sedang sakit.

    Tetapi Permaisuri Ayunda terkejut karena prajurit itu tidak pergi seperti yang ia perintahkan namun justru duduk bersimpuh di hadapan Sang Permaisuri, lalu membuka penutup wajahnya.
    “Ibunda” ujar prajurit yang ternyata adalah Dimitri Sultan Jati yang menyamar. “Di… Dimitri… Anakku!” Permaisuri Ayunda tiba-tiba merasakan emosi yang bercampur antara sedih, bahagia, dan rindu sehingga ia tak kuasa menahan airmatanya sembari memeluk putra sulungnya yang tercinta.

    “Iya Ibunda, yang kini ada di hadapanmu adalah putramu yang selama ini Ibunda cari. Bagaimana keadaan Ayahanda? Mengapa Ayahanda menjadi sedemikian buruk keadaannya?” Tanya Dimitri penuh rasa ingin tahu.

    Kemudian Permaisuri menceritakan segala yang telah dilakukan oleh Sang Raja setelah kepergian Dimitri. Ia pun bercerita kepada Dimitri tentang adik-adiknya dan pengemis tua itu, tentang bagaimana buruknya perlakuan Sang Raja dan kutukan yang diberikan oleh pengemis tua itu. Dimitri tertegun mendengar penuturan ibunya dan akhirnya mengerti ketika ibunya menceritakan tentang usaha yang dilakukan oleh saudara-saudaranya tidak berhasil sehingga tubuh ayahnya tetap utuh hingga kini.


    Dimitri begitu sedih dan terenyuh ketika pada akhirnya ia menemui ayahnya yang kini tidak dapat melakukan apapun selain terbaring kaku tanpa dapat menggerakkan tubuh sedikitpun.
    “Ayahanda…. Mengapa keadaan Ayahnda menjadi sedemikian buruk?” Dimitri tak kuasa menahan kesedihannya melihat sang ayah yang terlihat begitu tua, kurus, dan tak bertenaga, sangat jauh berbeda dengan ayahnya pada terakhir kali mereka bertemu. Sang Raja yang menyadari kehadiran putra sulungnya hanya dapat mengalirkan airmata tanpa dapat berekspresi sedikitpun.
    “Ibunda, tidak ada suatu apapun yang dapat saya lakukan berkaitan dengan kondisi Ayahanda saat ini. Bahkan tabib yang paling paling hebat pun tidak dapat meringankan penderitaan Ayahanda, terlebih lagi Ananda yang tidak lebih dari seorang anak yang tak berguna. Tetapi bagaimanapun sikap dan sifat Ayahanda dulu, Kamanda Sultan Jati adalah Ayahandaku. Dan Ananada akan selalu menyayangi dan menghormati Ayahanda.

    “Jika ada satu hal yang dapat Ananda lakukan untuk Ayahanda, hal itu adalah mengakhiri penderitaan Ayahanda. Tetapi tahukah Ibunda, bahwa hal itu akan sangat menyakiti hatiku? Ananda tidak sanggup memotong bagian tubuh Ayahanda, Ibunda.”
    “Oh, Dimitri putraku sayang. Ibunda tahu betapa hal itu akan sangat menyakiti hatimu. Tetapi coba pikirkan penderitaan yang telah dan akan diderita oleh Ayahandamu apabila engkau tetap berpegang teguh pada lembut hatimu. Seringkali rasa cinta adalah melakukan yang terbaik bagi orang yang kita kasihi, bukan yang terbaik bagi kita meskipun hal itu akan sangat menyakitkan bagi kita.”

    Setelah berpikir mendalam dan melihat kondisi ayahnya dengan mata kepalanya sendiri, Dimitri menyadari bahwa akan lebih menyiksa bagi ayahnya jika ia tetap pada lembut hatinya. Hingga suatu hari telah bulatlah tekad Dimitri hingga ia memanggil ketiga adik dan ibunya untuk menyampaikan keputusannya pada mereka semua, kemudian bersama-samalah mereka menemui Sang Raja di kediamannya.

    “Ayahanda, sungguh sedih hatiku karena harus menjadi orang yang melakukan hal ini kepada Ayahanda yang sesungguhnya sangat aku hormati dan sayangi. Tetapi hatiku jauh lebih sakit lagi jika terus melihat Ayahanda berada dalam penderitaan yang tak terkira ini. Segala yang Ananda dan adik-adik lakukan hanyalah demi kebaikan Ayahanda semata. Oleh karena itu, kami hanya akan memotong jari kelingking Ayahnda. Semoga dengan kebaikan Tuhan, Ayahanda mendapatkan yang terbaik.”
    Mendengar perkataan anaknya Sang Raja hanya dapat mengedipkan matanya yang basah oleh airmata sebagai tanda persetujuan, ungkapan maaf, terima kasih dan campuran emosi lainnya yang tidak sanggup ia tunjukkan. Setelah berkata demikian, Dimitri pun memotong kelingking Sang Raja dan dilanjutkan oleh ketiga adiknya terhadap kelingking ayah mereka yang lain. Selanjutnya, kelingking-kelingking itupun mereka bawa masing-masing ke arah empat penjuru mata angin dan dijatukan di empat tempat yang berbeda.

    Dari keempat tempat yang menjadi tempat jatuhnya kelingking Sang Raja, jika dihubungkan maka terbentuklah sebuah daerah yang subur dan kemudian dihuni oleh banyak orang. Lokasi ini kemudian terus berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan sejahtera. Berdasarkan asal usulnya desa ini seharusnya bernama desa Kelingking, tetapi karena masyarakat daerah ini memiliki kesulitan dalam melafalkan “L” maka desa ini berkembang menjadi desa Kemingking yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Desa Kemingking Luar dan Desa Kemingking Dalam yang sekarang merupakan bagian dari kecamatan Taman Rajo, kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

    Dikutip dari cerita rakyat masyarakat sekitar Desa Kemingking dengan perubahan dan gubahan seperlunya
    kontribusi dari Prawitri Thalib [pwi_fansclub @yahoo.com]

  • Saudagar Jerami

    Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa. “Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan”. “Tolonglah aku agar hidup senang”. Sejak saat itu setiap selesai bekerja, Taro pergi ke kuil. Suatu malam, sesuatu yang aneh membangunkan Taro. Di sekitarnya menjadi bercahaya, lalu muncul suara. “Taro, dengar baik-baik. Peliharalah baik-baik benda yang pertama kali kau dapatkan esok hari. Itu akan membuatmu bahagia.”

    Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil, Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang menggenggam sebatang jerami. “Oh, jadi yang dimaksud Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan kebahagiaan…?”, pikir Taro. Walaupun agak kecewa dengan benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil membawa jerami. Di tengah jalan ia menangkap dan mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut terbang berputar-putar pada jerami yang sudah diikatkan pada sebatang ranting. “Wah menarik ya”, ujar Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal. Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil memperhatikan lalat Taro. “Aku ingin mainan itu.” Seorang pengawal datang menghampiri Taro dan meminta mainan itu. “Silakan ambil”, ujar Taro. Ibu anak tersebut memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro.

    “Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk”, ujar Taro dalam hati. Ketika meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat kehausan. “Maaf, adakah tempat di dekat sini mata air ?”, tanya wanita tadi. “Ada dikuil, tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku”, kata Taro sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu. “Terima kasih, berkat engkau, aku menjadi sehat dan segar kembali”. Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro, kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi. “Aduh, padahal kita sedang terburu-buru.” Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu. Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu. Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2 gulung kain yang tersisa.

    Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu dan melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kudanya.

    Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan barang-barang. “Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat,” pikir Taro. Kemudian taro masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik rumah berkata,”Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak mempunyai uang. Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?”. “Baik, uang kalau dipakai segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau ditukar”, kata Taro.

    “Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau tinggal disini untuk menjaganya ?”, Tanya si pemilik rumah. “Baik, Terima kasih Tuan”. Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya yang sangat banyak.

    Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia diberi julukan “Saudagar Jerami”. Para tetangganya yang kaya datang kepada Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.

    Kontribusi dari : Nisa (Setiazuriatinidamai_99 @yahoo. co.id)

  • Rajawali Yang Cerdik

    Di Suatu hari yang panas seekor rajawali sangat haus dan ingin minum. Sungai amat jauh dan sangat melelahkan jika terbang ke sana untuk minum. Ia tidak melihat kolam air di mana pun. Ia terbang berputar-putar. Akhirnya ia melihat sebuah buyung di luar rumah. Rajawali terbang turun ke buyung itu. Di sana ada sedikit air di dasar buyung. Rajawali memasukkan kepalanya ke dalam buyung tetapi ia tidak menggapai air itu. Ia memanjat ke atas buyung. Ia memasukkan lagi kepalanya ke dalam buyung tetapi paruhnya tidak bisa mencapai air itu.

    Kemudian ia mencari akal.
    Rajawali itu terbang tinggi dan kemudian turun menuju ke buyung untuk memecahkannya dengan paruhnya tetapi buyung itu amat kuat. Ia tidak dapat memecahkannya. Rajawali itu keluar terbang kearah buyung kemudian ia menabrakkan sayapnya. Ia mencoba memecahkannya, agar airnya akan keluar membasahi lantai. Tetapi buyung itu amat kuat. Rajawali itu amat letih bila harus terbang lebih jauh lagi. Ia berpikir ia akan mati kehausan.

    Rajawali itu duduk termenung di sarangnya. Ia berpikir terus menerus Ia tidak mau mati karena kehausan. Ia melihat banyak batu-batu kecil di tanah. Ia mendapatkan ide. Ia mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam buyung. Ia memasukkan dan memasukkan terus. Air itu naik lebih tinggi setiap kali batu jatuh ke dalam buyung. Buyung itu hampir penuh dengan batu. Air telah naik sampai ke permukaan. Rajawali yang pintar itu memasukkan paruhnya dan ia mendapatkan air. Pepatah mengatakan bahwa “ Jika ada kemauan pasti ada jalan. “ Rajawali itu telah membuktikannya.

    Terjemahan dari Stories From Aesop : Yohanes Muryadi [Yohanes.Muryadi @yahoo .com]

  • Kucing Yang Terlupakan

    Di sebuah perumahan, hiduplah seekor kucing berwarna hitam. Nama kucing itu Molly. Ia tinggal di rumah keluarga Jones. Molly selalu memburu dan memakan tikus-tikus yang suka mencuri makanan di dapur keluarga Jones.

    Molly memang seekor kucing yang lucu dan menggemaskan. Matanya berwarna hijau dan kumisnya panjang berwarna putih. Ia suka mendengkur dan sangat senang bila tubuhnya dibelai.

    Namun, tidak seorang pun di keluarga Jones suka membelai Molly. Kedua anak di keluarga Jones kurang menyukai binatang, sedang nyonya Jones sering membentak Molly jika ia mengeong waktu nyonya Jones sedang memasak ikan.

    Di samping rumah keluarga Jones, hiduplah seorang anak bernama Billy. Billy adalah anak yang baik dan sangat menyayangi binatang. Karena itu ia juga sangat menyayangi Molly. Setiap sore Molly melompat dari pagar keluarga Jones untuk mencari Billy dan minta dibelai.

    “Alangkah senangnya aku jika Molly ini kucingku,” kata Billy kepada ibunya. “Aku ingin memelihara kucing juga, bu!” Tetapi ibu Billy tidak ingin memelihara binatang di rumahnya, walaupun sebenarnya ia juga suka kepada Molly.

    Pada suatu hari kuarga Jones pergi ke luar kota. Saat hendak berangkat, anak-anak keluarga Jones berpamitan kepada Billy. Rupanya mereka hendak pergi berlibur selama sebulan.

    Setelah memasukkan semua barang ke dalam taksi, keluarga Jones berangkat. “Molly pasti diajak juga,” pikir Billy. Namun ia keliru. Ia sangat terkejut saat melihat Molly masih ada di halaman rumah keluarga Jones. Billy lalu menceritakan hal itu kepada ibunya. “Pasti ada orang yang diberi tugas untuk merawat dan memberi makan Molly setiap hari,” kata ibu Billy.

    Molly bertanya-tanya ke mana tuannya pergi. Setelah lama menunggu ia menggaruk-garuk pintu dapur dengan cakarnya berharap dibukakan pintu. Tetapi tampaknya tidak ada orang di dalam rumah. Molly lalu memeriksa kalau-kalau ada jendela yang terbuka sehingga ia bisa masuk, tapi ternyata semua jendela terkunci rapat.

    Molly merasa kesepian. Tetapi ia berharap tuannya akan pulang nanti sore. Tetapi setelah lama menunggu tuannya tidak juga pulang. Molly mulai merasa kelaparan. Ia juga kedinginan karena harus tidur di luar. Walaupun bersembunyi di dalam semak-semak, ia tetap basah karena kehujanan. Molly mulai sakit.

    Dua hari telah berlalu. Karena kelaparan Molly memakan tulang kering yang ditemukannya dan juga daun-daun kering yang ada disekitar rumah. Penyakitnya juga semakin parah. Ia bersin-bersin dan lemas.

    Pada hari keempat Molly sudah menjadi sangat kurus. Ia bahkan hampir tidak bisa berjalan karena sangat lemah. Ia lalu teringat kepada Billy, anak yang tinggal di rumah sebelah. Siapa tahu Billy bisa memberinya makanan.

    Ia lalu berjalan pelan menuju rumah Billy. Saat melihat Molly, Billy hampir tidak mengenalinya lagi. “Astaga!, kaukah itu Molly?” seru Billy terkejut. Ia berlutut dan membelai Molly. “Oh kasihan, kau sangat kurus, pasti kau kelaparan. Apakah tidak ada orang yang diberi tugas untuk memberimu makan?”

    Billy segera mengambilkan ikan dan susu untuk Molly. “Oh kasihan,” kata ibu Billy. Untuk sementara biar saja ia tidur di dapur kita.”

    Molly sangat senang. Setelah makan dengan lahap, ia lalu tidur dengan nyenyak di dapur ibu Billy. Billy bahkan memberinya tempat tidur dari kotak kayu. Billy juga membersihkan badannya yang kotor karena beberapa hari tidur di semak-semak.

    Malamnya, Molly benar-benar terkejut. Ternyata dapur ibu Billy banyak sekali tikusnya. Maka ia pun menangkap tikus-tikus itu, karena ia ingin membalas kebaikan Billy dan ibunya.

    Keesokan harinya ibu Billy terkejut karena melihat banyak sekali tikus yang telah ditangkap oleh Molly. Ibu Billy sangat senang. Molly pun menjadi semakin disayang di keluarga itu.

    Sebulan kemudian, keluarga Jones pulang dari berlibur. Dengan berat hari Billy mengantar Molly pulang ke rumah keluarga Jones. Tapi, setiap diantar pulang, Molly selalu melarikan diri dan kembali ke rumah Billy. Molly tahu bahwa Billy dan ibunya sangat menyayanginya, tidak seperti keluarga Jones yang tega menelantarkannya.

    Karena keluarga Jones tidak terlalu memperdulikan Molly akhirnya mereka pun memberikan kucing itu kepada Billy. Akhirnya Molly pun tinggal bersama Billy dan ibunya. Ia sangat bahagia karena selalu disayang dan dibelai. Ibu Billy pun senang karena dapurnya menjadi bebas dari gangguan tikus.

    Disadur dari berbagai sumber. Kiriman dwi_jogja_1982 @yahoo.co.id.

  • Emas dan Batu

    Berkat kerja keras dan selalu menabung, petani itu akhirnya kaya raya. Karena tak ingin tetangganya tahu mengenai kekayaannya, seluruh tabungannya dibelikan emas dan dikuburnya emas itu di sebuah lubang di belakang rumahnya. Seminggu sekali digalinya lubang itu, dikeluarkan emasnya, dan diciuminya dengan penuh kebanggaan. Setelah puas, ia kembali mengubur emasnya.

    Pada suatu hari, seorang penjahat melihat perbuatan petani itu. Malam harinya, penjahat itu mencuri seluruh emas si petani.

    Esok harinya petani itu menangis meraung-raung sehingga seluruh tetangga mengetahui apa yang terjadi. Tak seorang tetangga pun tahu siapa yang mencuri emasnya. Jangankan soal pencurian, tentang lubang berisi emas itu saja mereka baru tahu hari itu. Kalau tidak ada pencurian, tak ada yang tahu bahwa petani itu memiliki emas yang dikubur di belakang rumahnya. Sebagian orang ikut bersedih atas pencurian itu, sebagian yang lain mengejek dan menganggap petani itu bodoh.

    “Salah sendiri menyimpan emas di rumah. Mengapa tidak dijual saja dan uangnya dipakai untuk membangun rumah. Biar rumahnya lebih bagus, tidak reot seperti sekarang. Itulah ganjaran orang kikir. Kalau dimintai sumbangan, selalu saja jawabannya tidak punya. Sekarang, rasakan sendiri!”

    Tetapi tak seorang pun yang berani terus terang mengejek atau mengumpat petani yang ditimpa kemalangan itu. Semua ejekan dan umpatan hanya diucapkan di antara sesama mereka saja, tidak di hadapan si petani. Hanya seorang lelaki tua miskin yang berani bersikap jujur kepada petani itu. Lelaki tua itu tinggal tak jauh dari rumah si petani.

    “Sudahlah, begini saja. Di lubang bekas emas itu kuburkanlah sebongkah batu atau apa saja dan berlakulah seperti sebelum kau kecurian.”

    Mendengar itu, si petani marah.

    “Apa maksudmu? Kau mengejekku, ya? Yang hilang itu emas, bukan batu. Kau sungguh tetangga yang jahat. Kau memang orang miskin yang cuma bisa mengubur batu. Aku bisa mengubur emas atau apa saja semauku. Kini aku kehilangan emas dan kau enak saja menyuruhku mengubur batu. Kau pikir batu sama dengan emas?!”

    Suasana pun gaduh. Orang-orang melerai.

    Dengan tenang lelaki tua itu menjawab:

    “Apa bedanya emas dan batu? Kalau kau bisa mengubur emas, seharusnya kau juga bisa mengubur batu. Tahukah kau, dengan mengubur emas berarti kau telah menjadikan logam mulia itu sebagai barang yang tidak berharga. Lalu, apa salahnya kau mengubur batu dan berkhayal yang kau kubur itu adalah emas.”

    (Diceritakan kembali oleh: Prih Suharto. Sumber: Sketches for a Portrait of Vietnamese Culture) prih_suharto @ yahoo . com

  • Asal Nama Singapura

    Ratusan tahun yang lalu hiduplah Sang Nila Utama, Raja Sriwijaya. Pada suatu hari, ditemani beberapa pengawal setianya, Raja pergi berlayar. Di perjalanan angin topan datang. Para pengawal mengusulkan agar Raja membatalkan niatnya.

    “Paduka, sungguh berbahaya meneruskan perjalanan pada saat seperti ini. Lebih baik kita singgah dulu ke tempat yang aman. Kalau hamba tak keliru, tempat terdekat dari sini adalah Pulau Tumasik. Bagaimana kalau kita ke sana sambil menunggu keadaan tenang,” kata kapten kapal.

    Raja setuju. Perahu mereka pun merapat ke Pulau Tumasik.

    Setelah mendarat, Raja meninggalkan kapal dan berkeliling melihat-lihat pulau itu. Ketika berkeliling itulah tiba-tiba seekor binatang berkelebat tak jauh darinya. Raja terkejut dan terpukau. Binatang itu begitu besar, berwarna keemasan, dan tampak gagah.

    “Mahluk apakah itu?”

    “Kalau hamba tak salah, orang-orang menyebutnya singa, Yang Mulia,” jawab salah seorang pengawal.

    “Apa?”

    “Singa.”

    Raja lalu minta keterangan lebh banyak tentang biantang yang baru pertama kali dilihatnya itu. Dengan penuh perhatian Raja mendengarkan penjelasan pengawalnya.

    “Kalau begitu, kita beri nama tempat ini Singapura. Artinya: Kota Singa”.

    Sejak itulah kota itu bernama Singapura.

    (Dari ASEAN Folk Literature, diceritakan kembali oleh Prih Suharto, prih_suharto @yahoo. com)