Category: Cerita Karya Anak

  • Kera Jadi Raja

    Sang Raja hutan “Singa” ditembak pemburu, penghuni hutan rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. Tak berapa seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih Raja yang baru. Pertama yang dicalonkan adalah Macan Tutul, tetapi macan tutul menolak. “Jangan, melihat manusia saja aku sudah lari tunggang langgang,” ujarnya. “Kalau gitu Badak saja, kau kan amat kuat,” kata binatang lain. “Tidak-tidak, penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali.” “Oh…mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..”, ujar binatang-binatang lain. “Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat,” sahut gajah.

    Binatang-binatang menjadi bingung, mereka belum menemukan raja pengganti. Ketika hendak bubar, tiba-tiba kera berteriak, “Manusia saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah membunuh Singa”. “Tidak mungkin,” jawab tupai. “Coba kalian semua perhatikan aku…, aku mirip dengan manusia bukan ?, maka akulah yang cocok menjadi raja,” ujar kera. Setelah melalui perundingan, penghuni hutan sepakat Kera menjadi raja yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama sekali tidak seperti Raja. Kerjanya hanya bermalas-malasan sambil menyantap makanan yang lezat-lezat.

    Penghuni binatang menjadi kesal, terutama serigala. Serigala berpikir, “bagaimana si kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak”. Serigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. “Tuanku, saya menemukan makanan yang amat lezar, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu,” ujar serigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama serigala. Di tengah hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia. “Tolong…tolong,” teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari perangkap.

    “Hahahaha! Tak pernah kubayangkan, seorang raja bisa berlaku bodoh, terjebak dalam perangkap yang dipasang manusia, Raja seperti kera mana bisa melindungi rakyatnya,” ujar serigala dan binatang lainnya. Tak berapa lama setelah binatang-binatang meninggalkan kera, seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa tangkapannya ke rumah.

    Dwiyasti Fachrunnisa Suherman

  • Sassy dan Boneka Gembala

    Lagi-lagi Sassy ngambek. Apa penyebabnya? Dua hari lalu, Sassy merengek kepada Mamanya untuk di belikan Boneka Lucu. Tetapi, Mama Sassy tidak mengizinkannya sebab Mama ingin Sassy supaya menghargai semua barangnya. “Aduh, Ma, bonekanya lucu, banget!” rengek Sassy. Papa Sassy hanya bisa mengelengkan kepala.

    Sassy menuju kamarnya dengan wajah cemberut. “Huh, Mama pelit!” batin Sassy. Ia mengurung dirinya di dalam kamar terkunci. Di pandangnya semua tumpukan boneka. Sassy lalu mengambil sebuah boneka barbie yang sudah acak-acakan. “Ihhhhh,” seru Sassy dan membuang boneka itu di lantai. “Aku tidak butuh kalian, hanya memenuhi kamarku,” dengus kesal Sassy kepada bonekanya.

    Tanggal 20 Mei, Sassy berulang tahun, Papa dan Mama sengaja tidak merayakan hari ulang tahunnya. Sebab Mama akan membelikan boneka yang di idam-idamakan Sassy sejak satu minggu lalu. Lalu, Mama meletakannya di depan pintu kamar Sassy. Tiba-tiba Sassy membuka pintu kamarnya dan ia berseru. “Hore, makasih Ma,Pa!”ucap Sassy manis.

    Satu bulan berlalu, Sassy mulai merengek kepada Mama. “ Ma, mainan itu lucu sekali,aku ingin!” rengek Sassy. Mama hanya mengelengkan kepala. “Kamu kan masih mempunyai boneka cantik itu!” ucap Mama. “Tapi,Ma…” kata Sassy lalu di potong Mama, “Tidak ada tapi-tapian!” ucap Mama lembut.

    Sassy mengurung diri di kamarnya dan tertidur. Tepat jam dua belas malam, kaca jendela kamar Sassy berdecit. Tiba-tiba ada sesosok bayangan, kecil, bertopi dengan rambut keriting ikat dua, memakai sweater dan rok tambal-tambal. Boneka Gembala!!!!. “Sassy jangan kau pukuli aku dan kau buang aku sia-sia di lantai!” ucap Boneka Gembala. “Sassy, sayangilah boneka-bonekamu, mereka juga mempunyai hati!” kata Boneka Gembala lirih. Sassy terbangun dan kaget. “Siapa kamu?” tanya Sassy. “Aku Boneka Gembala!”. “Tidak mungkin!Tolong!!!!!” teriak Sassy. Boneka Gembala diam.

    Sejak kejadian itu Sassy selalu merawat bonekanya. Jika berlubang akan dia jahit dengan benang wol dan kain yang bagus. Dan sejak malam itu, Boneka Gembala selalu tersenyum dalam dekapan Sassy.

    Rahmadani Dewi S

    cuii_noxxy @yahoo .co .id

  • Poci si Kurcaci Yang Tersesat

    Poci adalah anak dari keluarga sederhana di negeri Kurcaci.

    Ayahnya bernama Albert dan ibunya bernama miss Pott. Poci adalah anak yang suka berkhayal tentang dunia yang penuh dengan magic, petualangan, bahkan monster- monster yang menyeramkan.

    Dia sering sekali menceritakan khayalannya pada teman-temannya. Akan tetapi sering kali ia hanya ditertawakan oleh teman-temannya. Hal itu membuat Poci marah kepada teman-temanya. Akibatnya sekarang tidak ada yang mau mendekati Poci, karena cerita khayalannya itu .

    Pada suatu hari timbul niat untuk pergi berpetualang dan mendapatkan bukti agar teman-temannya percaya kepadanya.

    Pada suatu malam ketika semua penghuni rumah sedang tidur, diam – diam Poci menyelinap pergi dari rumah.

    Ia pergi sendiri ke sebuah Hutan. Walaupun agak takut Poci tetap memberanikan dirinya. Keesokan harinya ketika miss Pott mau membangunkan Poci, Poci sudah tidak ada di kamarnya. Saking paniknya mis Pott sampai menabrak tembok ketika ia hendak ke kamar Albert untuk membangunkan suaminya yang masih tidur dengan lelap.

    Sementara orang di rumah panik, Poci yang ada di dalam hutan sedang kelaparan. Karena ia benar-benar kehabisan makanan, akhirnya Poci terpaksa makan buah-buahan yang ada didalam hutan namun ia harus berhati-hati karena didalam hutan banyak sekali buah yang beracun. Ia memilihnya satu persatu dengan cermat sebelum ia memakannya.

    Ada buah yang bisa mengakibatkan gatal-gatal, sakit perut, juga bintik-bintik hijau di sekujur tubuh. Waktu berkalan dengan cepatnya.

    Malam pun tiba Poci kebingungan mencari tempat untuk tidur. Sementara langit tampak mendung, hujanpun turun sangat deras terpaksa Poci berteduh di bawah pohon.

    Tiba-tiba terdengar sura ular mendesis. ternyata ular itu ada di belakang Poci dan bersiap untuk memangsanya. Dengan sekuat tenaga Poci melarikan diri. Ia seakan-akan pergi berlari mengelilingi hutan.

    Ular itu pun berhenti mengejarnya, akhirnya Poci pun berhasil meloloskan diri. Kali ini Poci berteduh di dalam gua. Dari dalam gua terdengar suara raungan Beruang .

    Ternyata beruang itu marah kapada Poci yang berda didalam guanya. Karena Poci sangat takut akhirnya ia pun melarikan diri lagi dan berhasil meloloskan diri dari ancaman beruang yang ingin memangsanya.

    Sekarang ia berteduh di bawah pohon beringin. Ia basah kuyup dan menggigil kedinginan. Tiba-tiba saja ia menangis karena ia lapar, kedinginan, dan rindu kedua orangtuanya. Ia menyesali perbuatannya yang menyelinap kehutan. Ia sadar betapa berbahayanya mahkluk kecil masuk ke hutan belantara yang begitu luasnya.

    Poci menangis sampai pagi dan akhirnya tertidur. Kini matahari telah terbit ,ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Akan tetapi, ia sadar sekarang ia sudah terlanjur tersesat di pedalaman hutan entah dimana .

    Setelah menyadari hal itu, Ia kembali menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba disampingnya ada seorang kurcaci yang seumuran dengannya bertanya “Kamu kenapa menangis?” . “A..aku tersesat di hutan ini.“ jawabnya sambil mengusap air mata nya .

    “Tenang ayo ikut kerumahku “ jawabnya sambil tersenyum.

    Lalu Poci pergi kerumahnya. Sesampainya disana Poci disuguhi segelas coklat panas . “Ini minumlah untuk menghangatkan tubuhmu” katanya. “Terimakasih” jawab Poci.

    “Bolehkah aku bertanya?” tanya poci. “Mau bertanya apa?” jawabnya. “Siapa namamu? dan kenapa rumahmu di hutan belantara mengapa bukan di negeri kurcaci” tanya Poci. “Namaku Pecola” jawabnya. Lalu seketika Poci tertawa mengakak-ngakak.

    “Aku sudah tahu pasti kamu akan menertawaiku karena namaku yang seperti anak perempuan iya kan.” “ I…iya “ jawab Poci sambil tertawa. “Poci dengarkan aku, aku dulu adalah anak keluarga sederhana di lembah kurcaci bagian timur. Aku, bisa tinggal disini karena 3 tahun yang lalu orangtuaku meninggal di hutan ini saat mendaki gunung bersamaku mereka dimakan oleh ular yang ganas sehinga tubuh kedua orangtuaku terluka parah hingga tak dapat diselamatkan nyawanya.

    “Aku mendirikan rumah tempatku tinggal sekarang ini, dengan kedua tanganku sedangkan aku mengubur jasad ayah dan ibuku di belakang rumah ini. Ayah dan ibuku yatim piatu sehingga aku yang ditinggal sendirian kini tak memiliki keluarga untuk menumpang tinggal. Lagipula akupun tak tahu cara keluar dari hutan ini. Seandainya aku dapat keluar dari hutan ini pun di negeri kurcaci aku tetap tinggal sendirian dan tidak mempunyai tempat untuk bernaung oleh karena itu aku memutuskan tinggal sendirian di hutan ini. Mencari makan pun aku selalu sendirian. Nah Begitulah kisah hidupku.”

    Poci yang mendengar kisah hidup Pecola pun merasa sedih sampai akhirnya ia menangis tersedu-sedu. “Poci tenanglah pasti kedua orang tuamu sedang mencarimu” kata Pecola. “Terimakasih Pecola” jawab Poci dengan suara lirih.

    “Mulai sekarang tinggal lah dulu di rumahku“ kata Pecola. “Baik” jawab Poci. 3 minggu telah berlalu Poci dan Pecola tinggal bersama. Setiap sore, Poci membantu Pecola mencari makanan untuk makan malam. Kini mereka bagaikan dua bersaudara yang tak dapat dipisahkan.

    Minggu ini minggu ke4. Saat Poci dan Pecola sedang bersenda gurau, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu rumah Pecola. “ Halo ada orang disini?” gumamnya. “ Iya tunggu sebentar,“ jawab Pecola. Saat Pecola membuka pintu tiba – tiba Poci langsung menyambar dan memeluk kedua orang itu. Ternyata, kedua orang itu orang itu dalah orang tua Poci. Setelah beberapa jam menjelaskan kepergiannya dari rumah dan meminta maaf, orang tua Poci tiba-tiba mengajak Pecola menjadi anak angkatnya. Mendengar itu Poci dan Pecola sangat senang karena mereka tidak harus berpisah dan menjadi satu keluarga.

    By: Eka Ferdiana
    Kelas: 7.9
    SMPN 13 TANGERANG SELATAN
    [eka_ferdiana97 @yahoo .com]
    Friday, 16 July 2010

  • Nessa dan Peri Salju

    Syuut…!! Peri Salju turun ke bumi untuk melaksanakan tugasnya sebagai Peri Salju atas perintah Ratu Bidadari. Peri Salju adalah peri yang manis dan baik hati. Dari tongkatnya yang berbentuk bintang bisa mengeluarkan apa saja.Terbuat dari perak. Semua peri memiliki tongkat seperti itu. Yang lebih istimewa adalah tongkat Ratu Bidadari, terbuat dari campuran batu mulia seprti : emas, intan, perak, berlian, platina, dll.

    Peri Salju yang mungil terbang ke Negeri Hazel untuk menurunkan salju. Sambil mengayunkan tongkatnya, ia berkata, “Turunlah salju… turunlah salju..”. Tongkat ajaib itu langsung bersinar dan turunlah salju yang lebat! Seketika cuaca di negeri Hazel menjadi sangat dingin.

    “Nah, sekarang tugasku telah selesai. Aku mau pulang ke negeri awan kembali!”. Katanya. Baru saja ia mulai mengepakkan sayapnya, tiba-tiba ia mendengar suara tangis gadis kecil yang halus. Peri Salju menghentikan kepakkan sayapnya. Ia menghampiri gadis itu.

    “Siapa namamu? Mengapa kamu menangis?” Tanyanya.
    “Aku Nessa. Aku menangis karena kedinginan. Hiks..hiks..”Jawab Nessa sambi melingkarkan tangannya ke kakinya. Badannya yang kecil hanya memakai kaus dan rok berkain tipis.

    “Mengapa kamu tidak pulang ke rumahmu dan mengganti bajumu yang tipis itu dengan sweater yang tebal?” Tanya Peri Salju.

    “Aku anak miskin. Aku hanya punya baju yang kupakai ini. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Aku tinggal sendirian. Aku tinggal di emperan toko..,hiks.. hiks..”

    Peri Salju tertegun mendengar penjelasan Nessa. Gadis sekecil itu sudah harus tinggal sendirian. Peri Salju iba melihatnya. Karena tak tega, Peri Salju segera mengayunkan tongkatnya. Dan… Criing! Baju Nessa yang tipis, kumuh, dan penuh tambalan itu berubah menjadi sweater tebal yang hangat, serta di belakang Nessa sudah terlihat gubuk kecil.

    “Tinggallah di gubuk itu! Di dalamnya sudah ada kulkas kecil yang berisi makanan dan minuman lezat yang tak akan pernah habis! Juga ada lemari pakaian berisi pakaian untukmu!” ucap Peri Salju sambil terbang ke atas dan sekmakin lama tidak terlihat.

    “Ah, tunggu dulu!” cegah Nessa. “Terima kasih banyak! Aku tak akan pernah melupakanmu!”

    Suha Azka Sabila

    suha.azka@yahoo .co .id

  • My Super Dad!

    Bangun pukul 05.00, sarapan pagi pukul 06.00, berangkat sekolah pukul 06.15. Huh, semua pasti harus tepat waktu. Jika terlambat sedikit pun, Dira bisa mendapat hukuman dari sang Papa. Ini itu harus di penuhi. “Seperti robot saja,” batin Dira. Apalagi saat pulang sekolah, ada berpuluh-puluh panggilan masuk dari Papa di ponsel Dira. Dira hanya mengeluh, “Ya, ampun!”. Papa selalu menanyakan keadaan Dira setiap menit, bahkan setiap detik tiap kali Dira bernapas.

    Dira menghempaskan badannya ke tempat tidur sambil menghela napas, “Huh, sebel!Kenapa Mama pakai acara tugas ke Bali satu bulan!” jerit Dira. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui Dira sedang kesal, karena tidak ada siapa-siapa di rumah Dira. Hanya Dira seorang.

    Sudah dua minggu Dira berdua di rumah bersama Papa dan dua minggu pula Dira mendapat latihan militer dari Papa. Saatnya makan malam, Papa yang memasak sendiri untuk Dira. Tetapi, hati Dira juga luluh saat Papa membuatkan masakan untuknya. Padahal Papa dulu tidak pernah kursus memasak. Tapi, sebelum tidur Dira pasti di paksa Papa untuk mendengarkan cerita masa kanak-kanak Papa yang bila di ceritakan tidak akan selesai semalam. Dira berdoa agar secepatnya tidur malam dan Mama cepatlah pulang! bisik Dira dalam hati.

    Minggu pagi, Dira di bangunkan Papa tepat pukul 5 pagi. Dira menurut saja, mereka shalat berjama’ah dan jogging mengitari taman kota. Cukup setengah jam, mereka sudah kembali ke rumah. Dira tampak kelaparan, Papa langsung mengerti, “Ayo, kita memasak nasi goreng spesial!” ajak Papa. Dira hanya terbengong-bengong sambil mengikuti Papa dari belakang. Dalam hati Dira menggerutu terus.

    Dira kebagian membuat telur orak-arik. Dira hanya meringis. Lalu, Papa mengajarkan Dira memcah telur yang benar. “Ambil sendok, pukulkan ke dasar telur, cepat-cepat masukan ke dalam wajan!Mengerti?” tanya Papa.

    Dira mengangguk cepat. “Hebat juga Papa!” puji Dira dalam hati. Ugh, tapi…enggak jadi hebat suka marah-marah. Hihihi… Akhirnya selesai, saat duduk di meja makan Papa bercerita tentang masa kanak-kanaknya. Papa di tinggal nenek bekerja jadi Papa sering di rumah sendiri sehingga juga sering masak dan di latih kakek keras agar menjadi anak yang disiplin. Dira mengangguk-angguk, “My Super Dad!” ucap Dira. Papa tertawa sambil mengusap kepala Dira gemas.

    Rahmadani Dewi S [cuii_noxxy@ yahoo .co .id]

  • Dompet Ibu Fatiani

    Fia ibu sedang sakit kepala tolong kamu belikan telur dan ikan serta daging kata ibu ajak juga Fito adikmu. Kata ibunya Fia. Baiklah bu akhirnya Fia serta Fito pun pergi ke pasar untuk membeli barang itu. Saat dia di jalan dia pulang dangan menaiki sepada terus Fito berkata, kak itu ada dompet. Akhirnya mereka membuka dompetnya dan melihat KTP yang ada di dalam dompet itu, Dan itu ternyata adalah dompet ibu Fatiani akhirnya mereka mengembalikan dompet itu ke bu Fatiani. Bu Fatiani ini dompet ibu kami menemukannya di pasar. Dan akhirnya Ibu Fatiani pun berterima kasih, akhirnya Fito dan Fia diberi Barbeque dan Popcorn.

    Nama : Alika Cynthia Clarissa

    Sekolah : BPK PENABUR

    Umur : 7

    Kelas : 2B

    alikacynthia_c @yahoo .com

  • Ayahku

    Ayahku bekerja di pertambangan emas, di Bombana, Sulawesi Tenggara. Ayahku pulang setiap 2 bulan sekali dan di rumah selama 2 minggu. Kalau ayah pulang aku selalu diantar dan dijemput sekolah oleh ayah. Aku sayang sekali pada ayah. Kalau ayah di rumah aku selalu dicium, dipeluk waktu tidur, dinyanyikan lagu sebelum aku tidur, dan selalu diajak jalan-jalan.

    Saat libur ayah telah habis dan ayah kembali bekerja dan berangkat ke Sulawesi lagi aku mengantar ayah ke bandara. Sungguh aku sangat sedih bila ayah berangkat bekerja lagi. Aku sering menangis karena teringat pada ayahku. Tapi tak apa, karena ayah selalu menelponku dan mengirimiku SMS. Aku tau ayah bekerja untuk membelikanku buku, mainan, dan membayar uang sekolahku. Semoga ayah selalu sehat. Muach……untuk ayah.

    Lintang Zahra’ Maharaniy
    kelas : 2 SDI Nurul Qomar Semarang

    lintangzm @yahoo.co.id

  • Rekreasi Yang Tertunda

    Pada waktu aku berlibur di rumah nenekku, aku hendak diajak ayahku pergi ke Pantai Ria Kenjeran yang ada di Surabaya. Ayahku sudah melihat peta dan aku, adik, dan ibuku sudah bersiap-siap baju untuk berenang.

    Akan tetapi saat berganti baju, tiba-tiba badan adikku panas dan aku bilang ibu badan adik panas. Oh..! Malang nasibku sudah bergembira, tapi malah sedih lagi jadinya tidak jadi deh…! Ternyata adik kena penyakit cacar. Lalu adikku disuruh tidur agar cepat sembuh.

    Oh…! Hari itu sungguh mengecewakan. Eh, sudah ya teman-teman. Aku mau menemani adikku dulu ya…!

    Oleh :

    Putri Nur Azizah

    Karangan, Trenggalek, Jawa Timur

    31 Oktober 2010

    nurishaq88 @gmail .com

  • Aku Bangga Pada Ayahku

    Ayahku adalah seorang polisi kehutanan. Ayahku tempat kerjanya di Bandung. Kalau ayah pulang aku suka dibawakan oleh-oleh. Ayahku pulangnya suka malam-malam. Ayahku orangnya baik. Kalau mau kerja ayahku suka mencium aku dan adikku. Kalau aku mau sekolah aku selalu dikasih uang jajan. Waktu aku ulang tahun yang ke 6 ayahku membelikan sepeda baru untuk aku. Aku bangga kepada ayahku.

    Oleh: Pradipta Banu P Putra

    lia_halu @yahoo .co.id

  • Adikku Yang Baik

    Pada suatu hari, di hari Minggu pagi, keluargaku membersihkan rumah. Adikku, Zaki masih tidur, akupun merasa iri dengan adik. Karena kenapa adikku tidak dibangunkan, sedangkan aku dibangunkan. Akupun berpikir apakah orang tuaku pilih kasih? tanyaku dalam hati.
    Di siang harinya ayah dan ibuku pergi belanja ke pasar swalayan. Akupun diberi tugas menjaga adikku yang masih umur 3 tahun.
    Adikku mengajakku bermain sepeda keliling kompleks Perum Purwa Alam Asri. Tiba-tiba aku terjatuh karena tersandung batu. Adikku pun menolongku “kak Aya, situ aja. Nanti aki* aya cakit** kalo jayan* ” kata adikku dengan celat. Aku haya mengangguk. Adikku pergi entah kemana. Tiba-tiba “kak Aya !!! , ini obat melah**nya”seru adikku.
    Aku mengambilnya dari tangan adikku lalu mengolesnya pada luka yang berdarah. Aku sadar ternyata adikku sangat baik dan sayang kepadaku….
    I LOVE YOU YOUNG BROTHER !!!!!!!!!!!!……………

    NB:*: kaki , **: sakit , *** : jalan , **** : merah .

    Nama : Ayra Noor Khalida
    Sekolah: SD MUHAMMADIYAH PAKEM
    Umur: 9 th
    Kelas: 3B
    email: ayranice @yahoo .co.id