Category: Cerita Karya Anak

  • Bencana Banjir di Desa

    Di suatu tempat, ada sebuah desa yang sangat asri. Desa itu bernama Desa Permai. Di sana keadaannya tidak terlalu ramai. Rumah-rumah masih sederhana, sawah dan ladang membentang luas, burung-burung berkicauan tiada henti, hutan-hutan masih tersebar luas di desa itu. Ah, sungguh permai desa ini.

    Di Desa Permai, para penduduknya kebanyakan bekerja sebagai petani. Hampir semua keluarga disana memiliki sawah dan ladang. Penduduk disana juga ramah.

    Suatu hari, para penduduk merasa terkejut. Mereka melihat sebuah mobil mewah melintas. Para penduduk mulai berbisik, “Siapa dia? Mengapa dia berada di sini?”

    Tak lama, mobil itu berhenti di kantor desa. Ternyata, dia seorang pejabat kaya. Ia bermaksud tinggal di desa itu. Ia sangat ramah dan suka menolong. Para penduduk senang, dan mengizinkan ia tinggal di desa.

    Memang, mulanya ia sangat ramah. Tetapi, lama kelamaan si pejabat kaya mulai berbuat jahat. Ia memaksa penduduk memberi lahan mereka kepadanya. Hutan-hutan juga ditebangi, hanya sekedar untuk membuat pabrik untuk dirinya sendiri. Para penduduk merasa kesal. Mereka bermaksud mengusirnya. Tapi, bapak kepala desa mencegah mereka. “Biarkan saja, agar dia tahu akibatnya nanti”, kata bapak kepala desa.

    Esok harinya, hujan turun dengan deras. Petir menggelegar dengan kerasnya. Hujan turun sangat lama, seakan-akan hujan turun tiada henti. Air mulai naik setinggi tumit. Para penduduk merasa khawatir dan panik. Mereka menyelamatkan barang-barang mereka, dan pergi mengungsi bersama bapak kepala desa. Mereka meninggalkan si pejabat kaya yang tamak itu. Kini Desa Permai sunyi senyap. Tinggal si pejabat kaya yang masih menetap di desa. Ia masih bingung dengan hartanya, padahal air sudah mulai naik setinggi paha. Saat akan pergi mengungsi, ia sudah lebih dulu tenggelam, karena air sudah naik setinggi dada. Akhirnya, si pejabat kaya yang tamak itu mati tenggelam.

    SEKIAN….

    Nama : Ayunda Aura Salsabil
    Kelas : 7 A
    Sekolah : SMPN 3 Kepanjen – Malang, Jawa Timur 65163
    Email : ayunda.pisces @yahoo.com

  • Kue-kue Lisy

    Aku punya teman sekelas namanya Lisy. Dia anak yang manis dan ceria. Setiap hari, Lisy membawa kue-kue buatannya dan membagikannya ke tiap anak di kelas. Kalau kuenya enak sih, nggak masalah. Tapi, kue Lisy itu tidak enak sama sekali. Rasanya pahit, gosong, dan kadang asin. Karena takut Lisy marah, kami sekelas tak pernah protes padanya dan pasrah saja tiap hari memakan kue Lisy yang bikin mual.

    Suatu hari, kelas kami kedatangan murid baru. Ryn namanya. Dia cantik sekali! Dia juga ramah. Kami semua menyukainya. Kami langsung panik saat Lisy mengeluarkan kotak bekalnya. Isinya? Tentu kue-kue Lisy! Oh tidak, bagaimana jika Ryn mencicipinya dan memuntahkan kue itu? Tentu Lisy akan marah.

    “Ryn, mau coba kue buatanku? Gratis, lho!” kata Lisy senang. Ryn mengangguk tanpa melihat isyaratku agar jangan memakan kue itu. Dia mengambil sepotong kue berbentuk hati warna coklat muda dan memasukkan kue itu ke mulutnya. Kami semua kecuali Lisy menahan nafas saat Ryn mengunyah kue itu. Sejenak, wajahnya tampak menahan rasa tak enak.

    “Enak, kan?” tanya Lisy bangga. Ryn tak menjawab, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kotak bekal! Dengan ramah Ryn memberikan kami masing-masing sepotong kue berbentuk bulat warna krem. Kami memakannya. Wah … LEZAT SEKALI! Coba kue Lisy seperti ini. Nyam…nyam ….

    “Wah, enak banget!” puji kami senang. Ryn tersenyum lalu memandang Lisy.
    “Kamu pernah makan kue buatanmu sendiri?” tanya nya pada Lisy.
    “Tidak. Aku sudah yakin akan rasanya, lagipula aku takut ada yang tak kebagian jika kue ini kumakan” jawab Lisy.
    “Cobalah kuemu!” pinta Ryn. Lisy menurut dan memakan kuenya. Baru dua kali mengunyah, dia langsung memuntahkan kue itu.

    “Hoeks! Kenapa kueku asin sekali?” seru Lisy kesal. Ryn tersenyum membuat Lisy malu.
    “Maaf semuanya. Aku membuat kalian tersiksa. Mulai sekarang aku akan belajar bikin kue pada Ryn” ucap Lisy. Kami senang sekali. Terima kasih Ryn. Tak akan ada lagi kue pahit, asin, dan gosong di kelas. Yang ada adalah kue Ryn yang ENAK!

    Yanti Olivepad [yanti.olivepad @gmail.com]

  • Kucingku Yang Manis

    Namaku Siska. Saat pulang sekolah tadi, jam 12.00, aku berjalan ke rumah. Lalu, aku dan temanku, Shafa, melihat kucing yang malang. Ia hampir mati kedinginan. Tiba-tiba, aku ingat kucing itu milik siapa! Tante Salma! Ia pindah ke Sidoarjo 1 bulan lalu. Mungkin ia lupa kucingnya. Aku mengambil kucing itu. Lalu kubawa dia pulang bersamaku untuk dipelihara. Sampai dirumah, benar saja dugaanku. Mama geli dengan kucing yang kutemukan di dekat tong sampah itu.”Ma! kagak usah takut donk! Ini kucingnya Tante Salma! Mungkin aja Tante Salma lupa bawa!” jelasku. Yup, Mamaku suka sama kucing Tante Salma, tetangga lamaku.”Eh, kucing kotor ini Hana?????????” Mamaku masih nggak ngerti. “Oh….. Kita pelihara aja Siska! Lagian….. Dugaan Mama, Hana ikut Tante Salma… Tapi, ternyata lupa,” lanjut Mama. Senangnya Mama bisa ngerti perasaanku. Lalu, aku memandikan kucing manis yang bernama Hana itu. Jadi, setiap saat aku kesepian, aku akan selalu memeluk kucingku itu dengan penuh kasih………. Tamat

    Karya: Rihhadatul ‘Aisy
    Kelas: 3 SD
    Sekolah: SDN 12 Pangkalpinang
    Email: aisyndayat12 @gmail.com

  • Indahnya Berbagi

    Pada suatu sore, aku membeli permen karet. Permennya ada 10 buah. Sampai di rumah aku makan satu. Adikku, zaky melihat aku mengantongi permen karet itu. “Mbak, aku minta permennya…” pinta adikku. “Eh, udah udah habis” kataku berbohong. “Itu apa”kata adikku sambil menunjuk kantong celanaku. Ternyata permen karet itu menonjol keluar saku. “Eh… ini…” kataku kehabisan akal. “ayo, bohong dosa lho…” desak adikku. “Eng enggak kok, aku nggak bohong” kataku menyangkal. Ya sudah, aku keluarkan saja. Lalu aku makan satu lagi. Adikku menjilat bibir dan ikut menggerakkan mulutnya seperti aku. Aku langsung masuk rumah dengan kesal, adikku pun ikut. “Ngapain sih?, kamu ngikutin aku?” tanyaku membentaknya. Adikku menangis sesenggukan lalu masuk kamar dan menangis di sana. Aku tersenyum puas.

    Lalu aku melihat acara televisi “nggak ada yang asyik” kataku. Aku berhenti memencet tombol di remote saat ku dengar siaran radio dakwah bertema ‘Indahnya Berbagi’ ku dengar dengan seksama. Aku tersadar, aku itu pelit. Adikku keluar dengan mata sembap. “Mbak lagi ngapain? kok tivinya nggak dilihat?” tanyanya sopan. Aku berpikir ‘aku pelit sama adik, tapi adik baik sama aku…’ pikirku. Tanpa menunggu lama lagi, aku meminta maaf dan memberi empat permenku supaya adil, karena aku memiliki delapan permen dan di bagi dua menjadi empat. Oh benar, BERBAGI MEMANG INDAH.

    Nama : Ayra Noor Khalida
    Kelas : 4B
    Sekolah : SD Muh Pakem
    ayranice @yahoo.co.id

  • Clara dan Sasha Mau UN

    Nama mereka berdua itu Clara Nuridah dan Sasha Milanda. Mereka adalah 2 sahabat sejati yang selalu bersama-sama dalam suka maupun duka. Tiada yang mereka bisa lakukan tanpa bersama-sama. Keduanya bahkan adalah kakak-adik. Jadi, dirumah mereka bisa bersama-sama setiap hari. Mereka juga kembar. Adik laki-laki mereka pun sama kembar. Namanya Romi Zakio dan Tio Puspito. Ke-4nya selalu main bersama. Terkadang, kedua adik mereka selalu sibuk apa saja. Misalnya yang gak penting. Bisa saja nonton TV, atau main game online.

    Tapi, sayangnya, Clara dan Sasha akan masuk SMP karena sebentar lagi UN (Ujian Nasional). Sebelum Mama mereka pergi ke Perth, Australia, ia pernah berkata, “Nak, kalau kalian mau ujian, telpon Mama. Nanti Mama doain. Mama bakal tinggal disitu selama 1 tahun penuh. Jadi, jaga diri kalian baik-baik. Kalau ada yang sakit parah, kalian bisa sms, telpon, atau kirim e-mail sama Mama. Ingat pesan Mama ya!”

    Clara segera mengambil HP BlackBerrynya dan menelpon mama. “Halo, ini Clara ya? Apa kabar sayang? Ada masalah apa?” “Anu, besok Clara dan Sasha besok mau UN. Jadi, Mama bisa doain gak?” “Pasti sayang….” “Oh ya, kabar kami ber-4 baik Ma, pasti Mama juga baik. Dada ya ma, aku sama Sasha mau belajar dulu buat besok. Sampai jumpa besok Ma, I love you!” “Ya, Mama baik. Dada juga!” Clara mematikan telpon. “Mama doain juga Sha,” kata Clara gembira. Sasha mengangguk. Benar juga dugaannya. “Kita belajar yuk…” potong Sasha. “…Sama-sama,” sambung Clara. Kedua kakak-beradik itupun tertawa.

    Rihhadatul ‘Aisy
    Kls 3 SD Negeri 12 Pangkalpinang
    e-mail: aisyndayat12 @gmail.com

  • Aku Pasti Bisa

    Vina namanya, orangnya cantik dan cerdas, hobinya adalah memasak, berkebun dan belajar, dirumahnya, banyak sekali ada kebun, malah ia mempunyai kebun yang luas dirumah neneknya.
    Kebun milik Vina ada berbagai macam sayur-sayuran dan buah-buahan seperti terong, bayam, wortel, apel, jeruk dan lain-lainnya.

    Suatu hari ia mencoba memasak sayur kangkung untuk neneknya di desa.
    “Bunda, bagaimana cara memasak sayur kangkung?” tanya Vina pada bundanya.
    “Ehmm, kangkungnya dimasak dulu, setelah itu, kamu membuat sambal tomat, dan masukkan kangkungnya pada sambal tomatnya, lalu selesailah! Maaf nak, kali ini bunda tidak bisa menemani kamu memasak, bunda akan ke supermarket membeli tofu,” ujar bundanya.

    “Ya, sudah! Terima kasih, ya, bunda!” balas Vina pada bundanya.
    Vina pun mencoba membuat sayur kangkung itu, dengan perlahan-lahan ia mengulak cabai dan tomatnya, agar menjadi sambal tomat.
    Taraaa! Jadilah sayur kangkung buatan Vina, ia memanggil Vani, adik perempuannya untuk mencicipi sayur buatannya.
    “Dik Vani, cicipin sayur buatan kakak dong!” tawar Vina.
    “Oke, deh!”

    Vani pun mencicipi sayur itu, namun apa hasilnya…
    “Uwekk, maaf kak! Sayurnya hambar, kalau mau tahu lagi, tanya sama ayah ya!” jawab Vani yang terlihat tidak senang.
    Huhh, kenapa tidak enak, ya? Gerutu Vina dalam hati.
    Vina pun mencari ayahnya, dan ayahnya pun mencicipi.
    “Ehmm, maaf nak! Sayurnya terasa sangat hambar, mungkin kamu bisa mencoba lain kali! Maaf telah mengecewakan kamu, nak” ujar ayah pada Vina.

    Vina yang wajahnya muram pun, pergi ke dapur, dan menaruh sayurnya dan langsung lari menuju kamarnya.
    Kamarnya pun dikunci dengan rapat, mungkin karena hal tadi ia menangis.
    “Hiks, hiks! Kenapa aku ini selalu gagal?!” ujar Vina sambil menangis.
    “Aku menyerah! Aku ingin nenek bangga pada masakan ku kali ini!” kata Vina lagi-lagi mengeluh.
    Setelah beberapa menit, akhirnya bunda pulang dari supermarket, dan menemui Vina.
    “Vina, ayo keluar! Jangan menangis lagi, ya!” sahut bunda pada Vina.
    “Hiks hiks, bunda bisa membantuku untuk memasak sayur lagi?” tanya Vina dari kamarnya pada bunda.
    “Tentu bisa, sayang! Ayo keluar!” balas bundanya.

    Vina pun keluar dari kamarnya, lalu menuju kebun belakangnya.
    “Ayo, Vin! Kita ambil jamur dan bayam, mungkin kita akan membuat mie ayam jamur,” ujar bunda pada Vina saat di kebun.
    “Baikklah, bun!” jawab Vina menuruti.
    Setelah mereka sampai didapur, segera mereka membuat mie ayam jamur.
    “Hemm, caranya bagaimana?” tanya Vina pada bunda.
    “Begini,…”

    Dan seterusnya, hingga akhirnya mie ayam jamur pun selesai, hemm, sepertinya lezat.
    Vina, Vani, ayah dan bunda mencicipi, dan dikatakan bahwa rasanya sangat enak, berarti Vina sudah bisa memasak, memang selama ini Vina sering memasak, tapi hanya memasak pasta, telur dadar, spagetthi dan pai.

    Vina pun memberikan mie ayam jamur, puding coklat dan pai anggur untuk neneknya yang tercinta.
    “Nenek, ini aku berikan tiga jumlah makanan! Semoga nenek merasa senang,” ujar Vina kepada neneknya.
    “Ehmm, sepertinya enak!” balas nenek. “Siapa yang membuat?”
    “Pastinya, Vina Melodian, nek!” jawab Vina.
    “Masa’ kamu yang membuat? Nenek bangga sekali, sayang,”

    Vina pun merasa senang dan bangga atas karyanya, dan ia tidak pernah putus asa, malah setiap hari ia memasak berbagai macam makanan yang lezat, mulai dari breakfast, lunch dan dinner.

    Karya : Agis Santhika
    Umur : 10 tahun
    Asal : Denpasar, Bali
    Wagiswari Agis [agis0204 @yahoo.com]

  • Gitar Kesayangan

    Ada seorang gadis yang bernama Leila, ia suka memainkan gitar, malah ia pernah mendapat juara satu saat lomba gitar.

    Pada suatu hari, Leila diajak berkemah oleh teman sekelasnya, Leila pun menerima ajakan itu, namun wali kelas berkata, “Anak-anak! Jangan membawa barang-barang yang berharga, kalau hilang, bu guru tidak akan mau bertanggung jawab, jadi tolong jangan membawa barang berharga,” kata wali kelasnya.

    “Tapi,… kalau gitar bolehkan, bu?” tanya Leila.

    “Tidak boleh, gitar itu ada yang sampai jutaan rupiah, tolong tahan memainkan gitarmu, Leila!” jawab bu guru.

    “Tapi,… ya, sudahlah!” ujar Leila.

    Sesampainya dirumah, Leila segera memberitahukan perihal itu, kepada ibunya.

    “Ibu, aku diajak berkemah bersama teman sekelasku dan bu guru, tapi tidak boleh bawa barang berharga, berarti aku tidak boleh bawa gitar, dong?” ujar Leila pada ibunya.

    “Iya, kamu tidak boleh membawa gitar! Ayah membelikan gitar itu jutaan rupiah, kalau hilang kita yang rugi,” balas ibunya.

    “Ya, sudah!” jawab Leila yang raut wajahnya sedih.

    Leila pun mengurungkan dirinya di kamarnya yang berwarna biru itu, dan memainkan gitarnya yang berwarna biru. Hingga akhirnya, Leila tertidur lelap.

    Keesokan harinya, setelah sampai disekolah, ia bertanya pada bu guru.

    “Bu, besok apa saja yang dibawa?” tanya Leila.

    “Nanti sampai dikelas ibu beritahukan!” balas bu guru.

    Setelah semuanya berada dikelas, bu guru pun menuliskan barang-barang yang akan dibawa untuk kemah, dan inilah yang ditulis oleh bu guru di papan tulis :

    BARANG-BARANG YANG HARUS DIBAWA:

    • SELIMUT
    • BANTAL
    • BEKAL (APA SAJA BOLEH)
    • PAKAIAN

    NANTI ANAK-ANAK HARUS DITINGGAL OLEH ORANGTUA DAN KITA AKAN BERKEMAH SELAMA TIGA HARI.

    Itulah yang ditulis oleh bu guru, dan bu guru berkata, “Anak-anak, nanti ada yang membawa kayu bakar, korek api, panci dan alat penggorengan! Siapa yang mau membawa kayu bakar, siapa yang mau membawa korek api, siapa yang mau membawa panci dan siapa yang mau membawa alat penggorengan?”

    Setelah beberapa menit, ibu guru telah mengumumkan siapa yang membawa barang itu, lalu semua siswa akhirnya pulang bersama.

    Saatnya hari untuk kemah, Leila dan teman-temannya sudah siap semua, lalu membuat tenda dan menyalakan api unggun.

    “Wahh, seru ya! Aku senang berkemah!” ujar Vania, sahabat Leila.

    “Aku juga! Kapan-kapan kalau liburan kita kemah yuk!” balas Leila.

    Menyanyi bersama dan melingkari api unggun sangat menyenangkan.

    Setelah selesai berkemah, Leila pulang dan ia langsung menuju kamarnya dan mencari gitar kesayangannya.

    “Ibu, dimana gitarku?” tanya Leila.

    “Ibu tidak tahu, nak! Coba dicari!” balas ibu.

    Setelah lama dicari, Leila tidak menemukan, Leila pun menangis, dan mengadu kepada ibunya.

    “Ibu,… gitarnya tidak ada…” ujar Leila.

    “Ya,… bagaimana lagi! Ya, sudah! Ayo makan siang dulu!” ajak ibu mengalihkan pembicaraan.

    “Aku tidak mau makan, sebelum gitar itu kutemukan!” balas Leila sambil menangis.

    Leila pun tidak mau keluar dari kamarnya sebelum gitar itu ditemukan, namun setelah beberapa jam, datanglah ayah yang sedang membawa gitar kesayangan Leila.

    “Ayah,… ayah bawa kemana gitarku?” tanya Leila, “Aku sedih jika gitar itu tidak kutemukan!”

    “Ohh, gitar ini! Gitar ini ayah pinjam untuk membuat yel-yel di kantor ayah! Maafkan ayah, kalau ayah meminjam gitarmu tanpa setahumu, ayah juga lupa bilang dengan ibu! Kalau ibu tahu, pasti ibu akan beritahukan kamu,” jawab ayah.

    “Ya, sudah! Lain kali jangan begitu, ya! I LOVE MY GUITAR,…”

    Leila pun menjaga gitar itu dengan baik agar tetap bagus, ia pun berkata, “ I LOVE MY GUITAR… “

    Karya : Agis Santika
    Umur : 10 tahun
    Asal : Denpasar, Bali.

  • Teman Baru Cobi

    Disebuah hutan, tinggallah seekor anak ular cobra bernama Cobi. Cobi sangat kesepian dihutan itu karena tak ada satu hewan pun yang mau berteman dengannya. Para ibu melarang anak-anaknya berteman dengan Cobi karena Cobi memiliki racun yang membahayakan. Oleh karena itu mereka takut anak-anaknya terkena racun dari tubuh Cobi.

    Suatu hari saat Cobi sedang berjalan-jalan dihutan, ia bertemu dengan anak-anak monyet yang sedang bermain. “Halo… bolehkah aku bergabung?” sapa Cobi pada salah satu monyet yang ia dekati. “Tidak boleh, kau dapat membahayakan kami, pergi sana” bentak monyet itu. “Aku tidak akan menyakiti kalian, aku hanya ingin bermain, lagipula aku ular yang baik, kok” kata Cobi memelas. “Tidak, kau pasti bohong, dimana-mana ular cobra pasti jahat, kalian adalah hewan pembunuh, kami tidak sudi berteman dengan kamu” bentak monyet itu lagi. Mereka pun pergi meninggalkan cobi. Cobi pergi dari tempat itu tanpa berkata apa-apa.

    Tak jauh dari tempat itu, Cobi bertemu dengan seekor anak kura-kura. “Hai siapa namamu? Bolehkah aku berteman denganmu?” sapa Cobi. Kura-kura itu terus berjalan tanpa menanggapi Cobi. “Namaku Cobi, aku ular yang baik hati, aku janji tidak akan menyakitimu” kata Cobi lagi. Namun, si kura-kura tidak mau mendengarkan Cobi, ia terus berjalan tanpa berhenti. Dengan perasaan kecewa, Cobi pun pergi lagi.

    Keesokan harinya, saat Cobi sedang melakukan kebiasaannya berjalan-jalan dihutan, Cobi melihat dua ekor anak singa sedang mengganggu anak-anak monyet yang sedang bermain. Tanpa pikir panjang, Cobi langsung menyerang kedua singa itu dengan racunnya hingga keduanya pingsan tanpa sempat menyerang Cobi. “Terima kasih ya, kamu sudah menyelamatkan kami, maafkan kami karena kami sudah mengusirmu kemarin,” kata salah satu monyet.” “Sama-sama, kita kan harus saling menolong terutama orang yang sedang kesusahan,” balas Cobi ramah.” “Kamu memang ular yang baik hati, sekali lagi maafkan kami karena telah salah menilaimu.”

    Akhirnya, mereka bersahabat. Bukan hanya dengan para monyet, hewan-hewan lain juga mau menjadi sahabat Cobi. Teman Cobi pun semakin banyak. Para ibu tidak melarang anak-anaknya berteman dengan Cobi. Mereka bersahabat dengan indah dan mereka berjanji akan menjalin persahabatan selamanya.

    Karya Alifana Siti Ken Des Silvana [alifanasilvana @yahoo.co.id] yang dikirimkan ke ceritaanak.org