Category: Cerpen Anak

  • Maafkan aku, Sara…

    Sara dan Sari adalah sahabat karib. Keduanya berteman sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Sara berambut sebahu. Warnanya hitam legam selalu diikat. Kulitnya sawo matang dan matanya bulat.
    Rambut Sari pendek lurus. Kulitnya putih bersih. Ada tahi lalat di ujung hidungnya yang mancung. Sara hobi membaca sementara Sari gemar memasak. Keduanya sama-sama suka membantu Ibu.
    “Hari Minggu besok kita libur. Kamu mau pergi ke mana Ra?” tanya Sari sepulang sekolah. Sara menggeleng, “Gak ke mana-mana Ri. Paling-paling baca buku. Kamu?” Sara balik bertanya.
    “Sama Ra. Aku bantu Ibu bikin kue. Kamu kenal Tante Arin kan? Tetangga sebelahku. Tante Arin pesan kue. Banyak lagi…”
    “Oooo…” mulut Sara membulat.
    “Ya sudah, sampai ketemu ya.” Sari melambaikan tangan.
    “Minggu pagi kutunggu kamu ke rumah ya!” teriak Sara.
    “Yaaaa….” Sari berlari ke halaman rumahnya tanpa menoleh.
    Sara tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Ia melangkah sendirian. Sampai di pertigaan, Sara belok ke kanan dan sampailah ia di kediamannya yang terletak paling ujung.
    “Assalamu alaikum?” suara Sara muncul di muka pintu.
    “Waalaikum salam… sudah pulang Ra?” sambut Mama di muka pintu.
    Sara mencium tangan Mama dan selalu Mama membalas dengan pelukan.
    “Iya Ma. Besuk kita di rumah saja kan Ma?” Sara melepas kaos kaki.
    “Iya sayang. Kita di rumah, Papa tidak libur.” jawab Mama di ruang makan.
    Sementara Sari di rumahnya juga melakukan hal yang sama. Kadang-kadang waktu istirahat dipakai untuk mengerjakan tugas sekolah. Siang itu Sari menghabiskan waktu istirahatnya bersama Bunda. Mereka menyiapkan bahan-bahan kue. Telur ayam, tepung terigu, mentega, gula ditimbang bergantian. Tidak heran jika Sari mulai terampil memasak kue. Bahkan kadang-kadang ia bisa mengolah makanan kecil tanpa bantuan Bunda. Hebat ya…
    Bedug Maghrib baru saja berkumandang. Bunda dibantu Sari mengantar kue pesanan Tante Arin. Rumah Tante Arin cukup ramai. Rupanya banyak saudara berkumpul di sana. Setelah menyerahkan kue dan mengobrol sebentar, Bunda dan Sari berpamitan.
    Tak jauh dari tempat Sari, Sara tengah berkreasi membuat jepit dari sedotan plastik. Cantik dan imut. Cara membentuk jepit ia dapatkan dari majalah yang baru saja dibelinya. Pasti Sari suka, gumamnya dalam hati.
    Minggu pagi langit sangat bersih. Sara telah selesai sarapan dan kini ia sibuk mengemas jepit-jepit imut ke dalam kotak kecil warna merah muda. Ada 9 pasang jepit warna warni. “Yes, selesai!” Sara berkata sendiri di ruang tamu. Dahi Sara mendadak berkerut ketika menatap jarum panjang jam di dinding sudah berada di angka 12. Sara berdiri menghalau resah. Ia pandangi kotak pink di sudut meja kemudian kakinya melangkah ke luar. Belum saja tangan kanannya menyentuh daun pintu, Mama yang baru balik dari warung memanggil.
    “Sara, dapat salam dari Sari. Ia baru saja lewat sama temannya.”
    “Temannya? Siapa Ma?” Sara berlari ke arah Mama.
    “Mama juga belum kenal. Rambutnya panjang dikepang dua.” Mama dan Sara melangkah masuk.
    “Pantas saja tidak ke sini. Dia sudah janji pagi ini mau main. Sara sudah buatin jepit cantik. Sari bohong….” Sara berlari ke dalam rumah. Mama mengikuti dari belakang. Langkah Sara terhenti di ruang tamu. Ia sandarkan badan di kursi empuk warna coklat tua. Tangannya meraih bungkusan kecil dan diamat-amati kotak mirip bungkus sabun mandi itu. Lama Sara terdiam.
    “Sara, makan dulu yuk…”
    “Malas Ma, masih kenyang.” Sara masih menimang-nimang benda di tangannya.
    “Kenyang? Baru makan 1 lembar roti tawar, kenyang?” tukas Mama.
    “Nanti saja.” jawab Sara singkat.
    Mama mendekati Sara lantas mengelus punggung putrinya. Lembut…,lembut sekali.
    “Sara, barangkali Sari lupa. Kalau sudah ingat, pasti dia datang ke sini.” hibur Mama.
    “Karena ada kawan baru, Sara dilupain. Gitu kan Ma?” rutuk Sara.
    “Bukan, percayalah sama Mama. Sari pasti datang. Makan yuk..”
    Mama dan Sara sudah berada di ruang makan. Sayur asem, ayam goreng, tempe bacem, sambal terasi. Kerupuk ikan. Hmmm…
    “Alhamdulillah, makasih Ma. Enak sekali.” Sara membawa piring kotor ke dapur.
    “Alhamdulillah…” Mama tersenyum lega.
    Sore menawarkan pemandangan lain. Langit gelap disertai angin. Daun-daun kering berjatuhan. Halaman rumah yang sudah disapu penuh daun dan bunga kamboja berserakan. Langit makin gelap dan hujan mulai merintik. Di dalam kamar Sara mendengarkan musik. Lagu ketiga baru saja berhenti, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
    “Sara, ada Sari di ruang tamu.” ujar Mama setelah pintu kamar dibuka.
    Sara bermaksud menutup pintu kembali, namun tangan Mama lebih dahulu mencegatnya. “Sara, temui Sari. Gerimis begini, dia tetap datang.”
    “Biarin. Mama bilang saja Sara lagi tidur…”
    “Eits, tidak boleh begitu. Temui dia…” Mama menarik lengan Sara.
    “Gak mau. Suruh dia pulang..” Sara menolak ajakan Mama.
    “Sara, aku tidak akan pulang sebelum aku menjelaskan semuanya.” wajah cantik Sari muncul di belakang Mama.
    “Maafkan aku, Sara…” tangan kanan Sari meraih pergelangan Sara.
    Sara tak menjawab. Kedua bola matanya menatap Sari lekat-lekat.
    “Semalam waktu aku mengantar kue ke Tante Arin, aku dikenalin dengan Susi. Susi keponakan Tante Arin. Anaknya cantik tapi maaf, dia sulit mengucapkan sesuatu. Susi sangat pendiam dan susah bergaul.
    Tapi kemarin Susi menjadi periang. Aku diminta menemaninya. Besuk aku kenalin ya. Sekali lagi, maafkan aku, Sara..”
    Sara masih tak bersuara. Matanya yang bulat nampak berkaca-kaca. Ia pandangi Sari tak berkedip. Sari tersenyum. Mata dan kedua pipi Sari lebih dahulu basah.
    “Maafkan Sara juga ya…” Sara memeluk Sari.
    “Makasih bungkusan merah jambu itu.” bisik Sari.
    Sara melepas badan Sari, “Dari mana kamu tahu?” balas Sara.
    “Mama sudah jelaskan semua tadi sebelum Mama ketuk pintu kamar.” timpal Mama yang sedari tadi ikut berdiri.
    Sara memandang Mama, kemudian menatap Sari. Tak ada lagi kesal. Tak ada lagi muram. Kembali dua sahabat berpelukan. Meskipun di luar hujan makin deras, hati dua gadis kecil itu tak lagi menyimpan mendung.

    Pekanbaru, 14 Pebruari 2010
    Salam sayang untuk seluruh anak-anak di seluruh tanah air.
    Santi Nuur P
    trinoersanti @yahoo .co .id

  • Perjalanan Antar Waktu

    BRAKKK !

    Benturan yang keras membuatku pingsan. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Sepasang tangan yang kuat dan kasar membangunkanku.

    “ Hai, bangun gembel! Jangan tidur disini! “
    Aku kaget. Ketika kubuka mataku, di depanku kulihat seorang laki-laki kekar dengan wajah beringas.

    “ Bapak si…sia…pa ?”tanyaku terbata-bata. Aku ketakutan.
    “ Ha…ha…ha! Jangan berlagak pilon.Pura-pura bodoh! Bukankah aku bosmu? “
    ‘” Bos apa? Saya sama sekali tidak mengerti.”
    “ Dasar bego! Cepat berikan seluruh hasil mengemismu hari ini?!”

    Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud bapak tadi. Mengemis? Aku pengemis? Tidak mungkin. Ayahku pengusaha terkaya di kotaku.

    “Ayo,cepat! Kalau kamu tidak menyerahkan penghasilanmu hari ini, aku akan mengurungmu di ruang bawah tanah.”

    Dengan menggigil ketakutan ,kukorek-korek seluruh isi saku celanaku.
    Heran! Biasanya banyak uang di dalam sakuku. Namun, kali ini seratus rupiahpun tidak kutemukan. Aku kebingungan.

    “Maaf, Pak! Aku tidak membawa uang. Tapi, kalau Bapak ingin meminta uang mintalah pada Ayahku. Beliau pengusaha kaya di kota ini. Tapi, tolong bebaskan saya!”
    “Ha..ha…ha ! “ laki –laki itu tertawa semakin keras.
    “Jangan membodohi aku. Pengemis seperti kamu tidak mungin berasal dari keluarga yang kaya . Bohong! “laki-laki itu terus saja marah –marah. Dengan tubuhnya yang kekar ia menyeretku.

    Sampailah aku di ruang bawah tanah. Gelap, pengap dan lembab. Rasanya aku tidak asing dengan ruangan ini. Aku ingat sekarang! Bukankah ini gudang tempat aku biasa berkumpul dengan gengku? Mana Odi? Mana Theo? Ian?Aku ingat tadi siang aku bermain dengan mereka.

    Ya, ya aku ingat! Aku tadi merencanakan ide hebat bersama teman-temanku. Kami sepakat akan menggasak rambutan yang ada di pohon Pak Sukri. Kami juga berencana akan mengempesi sepeda Pak Guru. Tapi mengapa aku sendirian? Mana yang lain?

    Sepi rasanya tanpa kehadiran sahabat-sahabatku. Kami adalah tim yang kompak. Di sekolah kami ditakuti teman-teman. Mereka tidak berani menegur kami bila kami berbuat iseng kepada mereka. Kami adalah jagoan. Bagi kami, dihukum karena tidak membuat PR hal yang biasa. Dimarahi Pak guru? Cuek aja. Nilai ulangan jelek? Tidak masalah.Toh, orang tua kami kaya. Buat apa bersusah payah sekolah?

    Aku heran dengan keadaan ini. Ketika aku sedang bingung, tanpa sengaja kulihat sebuah cermin tergantung di tembok. Perlahan kudekati. Aku ingin melihat luka bekas tamparan di wajahku.

    “ Ahhhhh! “Aku menjerit sekuat-kuatnya. Wajah siapakah yang ada di cermin tadi? Dekil, kumal , kotor dan beringas.

    Sekali lagi kupandang cermin itu. Yang kulihat wajah yang sama. Dengan perasaan takut kuamati wajah dalam cermin. Seperti wajahku tetapi lebih tua. Mungkin berumur 30 tahun. Kuusap daguku, bayangan dalam cerminpun melakukan hal yang sama. Kuusap rambutku, kuucek mataku. Ya,Tuhan! Itu aku! Bagaimana mungkin aku setua itu? Umurku baru 10 tahun. Aku tadi pagi masih sekolah. Siang hari aku bermain dengan teman-temanku. Apa yang terjadi?

    Aku mulai panik. Aku berteriak. Pintu kugedor-gedor.

    “Tolong! Tolong! Bukakan pintu!! “ Brak! Brak! Brak! Dengan sekuat tenaga kugedor-gedor pintu. Tidak ada orang yang mendengarku. Tanganku sampai memerah. Aku lelah. Aku menangis. Putus asa.

    Tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Seorang laki-laki berwajah bersih menghampiriku.

    “ Kamu siapa? “ tanyaku sambil mengingat, sepertinya aku kenal dia.
    “ Rino, apakah kamu tidak mengenalku? “ katanya sambil menyodorkan minuman.
    “Aku Dio.”

    Dio. Aku ingat sekarang. Dialah yang paling sering menjadi korban keisenganku.

    “ Dio, aku malu. Aku jahat kepadamu tetapi engkau baik kepadaku.”
    “ Rino, kita sekarang sudah dewasa. Bukan kanak-kanak lagi. Umur ku sekarang 35 tahun “
    “ Tidak mungkin. Kemarin aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke sepuluh. Kamu bohong! “
    “ Tidak ,Rino! Itu sudah dua puluh lima tahun yang lalu. “

    Aku menggelengkan kepala. Benar-benar pusing. Kemudian Dio mengajakku ke luar dan mendudukkan aku di kursi.

    “ Lihat kalender itu! “ Dio menunjukkan kepadaku sebuah kalender dan membuat aku terlonjak! Tahun 2034. Bagaimana mungkin aku bisa melompati waku 25 tahun. Tadi siang tahun 2009 dan sekarang 2034 ?

    Kemudian Dio memberiku surat kabar. Ya, tahun 2034! Televisi yang menyiarkan berita pun menyatakan hal yang sama.

    “ Dio, bisakah kau menceritakan hal yang terjadi?”
    “ Ya, kamu terlempar ke masa depan. Inilah hidupmu. Lihat keadaanmu! “
    “Aku jadi pengemis, padahal orang tuaku sangat kaya. Dimana mereka? Bagaimana nasib ayah dan ibuku? “
    “ Orang tuamu masih hidup. Mereka jatuh miskin dan sakit-sakitan.”
    “Mengapa? “
    “Bacalah kisah ini!”

    Kubaca majalah yang disodorkan Dio. Di majalah itu dikisahkan riwayat seorang pengusaha kaya yang jatuh miskin karena ulah anaknya. Rupanya ketika berusia 25 tahun aku diminta ayahku untuk memimpin perusahaan. Ayahku sudah tua, ibu sakit-sakitan. Aku anak tunggal. Aku tumpuan hidup satu-satunya.

    Dengan setengah hati aku menerima tugas dari ayahku. Namun karena aku bodoh perusahaan yang kupimpin bangkrut. Aku malas bekerja. Hidupku hanya untuk berfoya-foya. Kemudian ayahku jatuh miskin.

    Aku menyesal dan malu. Aku lari dari rumah. Karena tidak memiliki kepandaian dan ketrampilan akhirnya tidak ada orang yang menerimaku bekerja. Akhirnya aku menjadi pengemis.

    Inikah hidupku? Tidak! Aku tidak mau seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Aku tahu. Aku harus kembali ke tahun 2009. Aku harus merubah hidupku.

    Aku ingat sesuatu! Aku segera lari ke gudang bawah tanah. Cermin! Ya,aku harus ke cermin. Cermin itulah yang menyedotku ketika aku di gudang tadi siang. Cermin itu yang melontarkanku ke tahun 2034. Bersyukurlah aku cermin itu masih ada.

    Segera kudekati. Kedua telapak tanganku kuletakkan di atasnya. Aku berdoa kepada Tuhan .Mohon ampun atas kenakalan yang kulakukan. Aku juga berjanji akan memperbaiki hidupku. Aku akan rajin belajar dan patuh pada nasehat orang tuaku. Aku juga akan menjadi anak yang baik.

    Selesai aku berdoa, aku merasakan kekuatan yang dasyat menarikku. Memutar-mutar tubuhku, melewati lorong yang sangat panjang. Dan..Brak! Aku terlontar dan jatuh di belakang rumahku.

    “ Rino,kamu kemana saja? Dari tadi aku mencarimu! “ Odi menanyaiku.
    “Tidur di gudang “ kataku . Aku senang telah kembali ke masa kanak-kanakku.

    Aku segera berlari .” Rino, tunggu, mau kemana?”

    “ Ke rumah Dio. Aku mau berterimakasih kepadanya.”
    “ Buat apa menemui anak bloon itu? “
    “ Ceritanya panjang kamu pasti tidak percaya.”

    Odi terus mengejarku,” Rencana kita jadi kan malam ini? Itu pesta rambutan dari pohon Pak Sukri?”

    “ Batal!”
    “ Nggembosin sepeda Pak Udin?’
    “ Batal! “

    Aku terus berlari. Aku mengejar waktu. Banyak hal yang harus kulakukan hari ini. Yang pasti mulai sekarang tidak akan kusia-siakan hidupku. Hidup dan waktuku adalah untuk belajar, berbuat baik dan menyengangkan orang tuaku dengan prestasi dan perbuatanku. Mampukah aku? Doakan aku ya, teman-teman!

    Marmini Estiningsih

  • Ikan dan Burung

    Di sebuah hutan hiduplah dua binatang yang saling bersahabat. Binatang itu adalah burung dan ikan. Keduanya sangat dekat dan selalu saling membantu. Kedekatan keduanya ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu kejadian yang mengubah mereka. Waktu itu ikan sedang beristirahat di pinggiran sungai. Ia memandangi biji-bijian di pohon tepat di atasnya.

    “Kelihatannya biji-bijian itu enak dimakan” kata ikan dalam hati.

    Ia lalu berusaha meloncat setinggi-tingginya untuk mendapatkannya. Berkali-kali ia meloncat, namun tidak berhasil mencapai biji-bijian itu. Ia hanya bisa memandangi biji-bijian itu. Saat sedang memandangi biji-bijian itu, perhatiannya teralihkan oleh seekor burung yang berterbangan ke sana-kemari.

    “Tuhan, kenapa Engkau tidak memberiku sayap untuk terbang agar aku bisa meraih biji-bijian itu?” Kata si ikan dalam hati.

    Kita tinggalkan si ikan dan beralih ke burung.
    Setelah beterbangan, burung lalu hinggap di salah satu dahan pohon di pinggir sungai untuk beristirahat. Saat itu ia melihat ke air. Di dasar air sungai itu ia melihat banyak sekali cacing bergeliatan.

    “Kelihatannya cacing-cacing itu enak dimakan.” Kata burung dalam hati.

    Ia lalu berusaha masuk ke dalam air untuk menyelam dan menangkap cacing-cacing itu. Namun, ia tidak berhasil karena ia tidak bisa berenang. Ia lalu hanya bisa memandangi cacing itu dari atas pohon. Saat sedang memandangi cacing-cacing di dalam air, perhatiannya teralihkan pada ikan yang sedang berenang di dalam air.

    “Tuhan, kenapa Engkau tidak memberiku ekor dan sirip untuk berenang agar aku bisa meraih cacing-cacing dalam air itu?” kata si burung dalam hati.

    Akhirnya ikan dan burung saling tahu kesulitan masing-masing. Berkali-kali si ikan melihat burung menyelam ke air untuk mendapatkan cacing. Demikian pun si burung berkali-kali melihat ikan meloncat-loncat untuk mendapatkan biji-bijian. Lalu mereka berkenalan.

    “Hei ikan, apakah kau menginginkan biji-bijian ini? kata burung.
    “Benar, tapi aku tidak punya sayap sepertimu sehingga tidak bisa terbang mendapatkan biji-bijian itu.” jawab si ikan.
    “Aku juga menginginkan cacing di dasar sungai, tapi aku idak punya sirip sepertimu sehingga tidak bisa mendapatkan cacing-cacing itu.” balas si burung.
    “Gimana jika kau membantuku mengambil biji-bijian itu dan aku akan membantumu mendapatkan cacing-cacing di dasar sungai.” Ajak si ikan.
    “Wow ide bagus, aku setuju.” Sahut si burung.

    Akhirnya ikan dan burung menjadi sahabat dan saling membantu.

    Yunarvian [yuyun.fr86 @gmail.com]
    Edited by Kak Jito

  • Namanya Toti

    Pada suatu siang, di tengah hari yang terik, tampaklah seorang anak kecil berjalan gontai. Bajunya kusut, basah dimana-mana karena peluh yang menetes deras dari sekujur tubuhnya. Napasnya agak terengah – engah. Sesekali kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan, tetapi kepala itu lebih sering menunduk, seolah-olah dia sedang menghitung jumlah kerikil di jalan yang sedang dia lewati. Ketika berjalan tangannya agak terayun sedikit, kedua tangan itu menggantung agak lunglai, tidak membawa apa-apa, seolah-olah tangan yang sudah kosong itupun sudah berat untuk dibawa kemana-mana.

    Di pundak kanannya menggantung seutas tali, tali sebuah tas sekolah. Tas sekolahnya diselempangkan dari pundak kanan ke pinggang kiri. Tas itu bergoyang-goyang seiring dengan langkahnya, langkah yang terbebani oleh beban tas sekolah yang berat.

    Jalan yang sedang dia lewati saat itu berdebu, kering kerontang, pohon yang ada di pinggir jalan sedang meranggas. Sungai kecil yang ada di samping jalanpun tidak ada airnya. Sudah satu jam yang lalu
    dia keluar dari halaman sekolahnya, tetapi langkahnya belum juga sampai ke rumahnya. Rumahnya masih jauh, masih diperlukan setengah jam lagi untuk sampai.

    Air minum yang dibawanya sudah habis, dia habiskan saat istirahat kedua tadi. Menyesal rasanya, mengapa dia tadi menghabiskan air minumnya. Soalnya tadi dia haus berat, mau membeli minum tetapi uang sakunya sudah habis untuk membeli kue saat istirahat pertama tadi. Dia tadi sebenarnya sudah sadar untuk menghemat air minum, tetapi saat istirahat kedua tadi, cuaca sedang menuju mendung, langit sedang berjuang untuk menumpuk awan gelap. Tetapi ketika bel sekolah berbunyi tanda pulang, awan yang bertumpuk-tumpuk tadi sedang menghilang perlahan-lahan, terbang tersapu angin. Perkiraannya meleset, cuaca tidak jadi hujan bahkan mendungpun tidak, malah sebaliknya, panas terik.

    Jarak dari rumah ke sekolahnya lumayan jauh, sekitar enam kilometer. Jarak sepanjang itu biasanya bisa ditempuh dalam satu jam bila berjalan dengan cepat. Tetapi siang itu terik, dan rasa haus serta lapar menderanya sehingga tidak mungkin bagi dia untuk berjalan cepat. Menyesal rasanya, mengapa rumahnya jauh dari sekolah.

    Biasanya dia pulang dan pergi ke sekolah berjalan bersama-sama dengan teman sekampung, tetapi sekarang teman-temannya itu sudah mendahului pulang. Kalaulah tahu akan sendirian dan kehausan begini, maka menyesallah dia mengapa hari Minggu kemarin dia hanya bermain-main lupa belajar. Kalau hari Minngu itu dia mau belajar, maka dia tidak akan sengsara seperti sekarang ini. Kepanasan, kehausan dan jalan sendirian tiada teman.

    Mala-petaka itu dimulai tadi saat jam pelajaran terakhir. Pak Toto, guru matematika kelas lima, sedang bersiap-siap untuk mengakhiri pelajaran hari itu. Dan beginilah pak Toto mengawali bencana itu;

    ”Anak-anak, ulangan yang hari Senin kemarin sudah bapak periksa. Ada yang bagus ada yang kurang bagus nilainya. Bagi anak-anak yang kurang bagus, bapak memberi kesempatan untuk memperbaiki nilai. Tetapi minggu depan kita sudah menghadapi ulangan semesteran, dan nilai ulangan harian sudah harus disetor sebelum ulangan semester berlangsung. Jadi ulangan perbaikan nilai harus segera dilaksanakan dalam minggu ini.”

    ”Tetapi sayangnya, mulai besok sampai minggu depan bapak tidak ada di sekolah, karena bapak akan mengikuti penataran di ibukota kabupaten. Jadi, ulangan perbaikan nilainya akan bapak laksanakan sekarang, setelah jam sekolah. Saya tahu kalian sudah lelah, tetapi nanti supaya kalian yang ikut ulangan bisa cepat pulang maka akan bapak beri soal yang tidak terlalu banyak.”

    ”Yang namanya akan bapak sebut berikut ini, adalah anak yang mendapat nilai bagus dan tidak perlu untuk memperbaiki nilai, oleh sebab itu boleh pulang. Jadi bagi yang bapak panggil namanya, boleh langsung berkemas dan pulang.”
    ”Agung, Arum, Awang, Bagus Pur, Bagus W, …”

    Pak Toto sudah menyebut belasan nama, dan sepertinya pak Toto sudah hampir habis membaca daftar nama itu, tetapi nama Toti belum juga disebut.

    ”Baiklah anak-anak, kalian yang tinggal di dalam kelas ini ialah yang harus melaksanakan ulangan perbaikan nilai. Sekarang sambil menunggu maka siapkan kertas kosong untuk ulangan, dan masukkan buku-buku kalian ke dalam tas.“

    Benarlah, sampai dengan soal ulangan dibagikan, nama Toti tidak termasuk yang dipanggil untuk boleh pulang. Sedangkan Awang, Tari, Jono, ialah teman sekampungnya yang namanya dipanggil pak Toto.
    Yang mengikuti ulangan perbaikan ada dua-belas orang. Dari kedua-belas orang itu, tidak ada satupun yang tinggal sekampung dengan Toti.

    Tiba-tiba lamunannya buyar karena saat itu kaki Toti tertantuk batu. ”Aduuh! Dasar batu seenaknya sendiri saja tiduran di jalan!” Hati Toti dongkol bukan main. ”Sudah kepanasan, capek, lapar, haus, masih kesandung batu lagi,” gumam Toti.

    Biasanya kalau sedang kepanasan saat pulang sekolah seperti saat itu, dia dan teman-temannya akan berteduh sebentar dibawah pohon. Tetapi sekarang tidak ada tempat untuk berteduh barang sejenak, tidak ada pohon yang merimbun daunnya. Semua pohon meranggas, tidak ada cukup tempat untuk berteduh dari panas terik matahari. Saat itu hujan sudah lima bulan tidak datang.

    Setelah rasa sakit karena terantuk batunya hilang, Toti melanjutkan lamunannya lagi. ”Ah coba aku punya sepeda, pasti aku sudah sampai rumah sekarang. Ahh.. tidak-tidak, sepeda kurang cepat, masih harus dikayuh, bisa-bisa kelaparan juga aku.” ”Atau punya sepeda motor saja. Wah keren, tinggal putar gas. Ngeng..ngeng motorku kabur lewat jalan berdebu ini, He..he debunya beterbangan. Ngeng….. sampai rumah, langsung makan. Wah asyik. Tapi aku kan masih kecil, mana boleh naik sepeda motor?”

    ”Atau mobil, siapa yang akan nyetir ya? Hik..hik.. seperti si Nanang itu yang diantar jemput pakai mobil. Tapi dia kan anak pak Lurah. Lha bapakku? Sepeda saja tidak punya.” ”wah coba aku bisa bikin roket. Aku akan bikin pesawat sendiri, untuk pulang pergi ke sekolah. Naik roket, wuzz.. wuzz..ziiingngggg. Roketku melesat cepat. Cuma lima menit sudah sampai sekolah. Wuzz.. wuzz.. ziiinggg, lima menit sampai rumah lagi. Kalau istirahat pulang ke rumah, wuzz..wuzz..ziingg, sampai rumah ambil minum, makan, dan balik ke sekolah lagi. Wah asyiik….”

    ”Aduoohhh!!”
    Tiba-tiba Toti mengaduh dengan keras. Dia memegang-megang jempol kakinya. Kakinya kesakitan. Dia mengerang-erang sambil terduduk di tepi jalan. Kakinya terantuk batu lagi.


    Semoga cerita diatas bermanfaat.
    Cerita diatas saya tulis dengan maksud dan bertujuan untuk membangkitkan imajinasi bagi pembacanya. Anak-anak sekarang perlu dilatih imajinasinya, supaya dapat berpikir cerdas, karena anak jaman sekarang setiap hari disuguhi informasi media audio visual yang menyebabkan tidak ada ruang bagi otak si anak untuk berimajinasi.

    salam,
    Henrycus

    Henrycus @gmail .com
    17 May 2009

  • Lukisan Anggrek

    Sore berangsur petang di pantai Kuta.

    “Santi, sudah petang, ayo kita kembali ke penginapan.” ajak Papa.

    “Lihat, Tante Lusi sudah duluan ke mobil.” imbuh Mama di belakang Papa.

    “Iya.., iya.., sebentar Pa… Santi mau cetak pasir sekali lagi. Boleh ya Pa..?” rengek Santi. “Pa! Papa!” teriak Santi ketika melihat Papa dan Mama menyusul Tante Lusi.

    Sampai di penginapan, wajah Santi masih cemberut. Santi masih ingin berlama-lama di pantai. Tahun lalu Santi bermain pasir bersama Sinta, adik perempuannya. Namun kini Sinta telah meninggalkan Santi selamanya karena sakit keras.

    “Besuk kita ke pasar Sukawati kan Pa. Mama mau beli beberapa lukisan.” Mama duduk di samping Papa yang tengah menonton TV.

    “Lukisan Mama sudah banyak, mau ditaruh di mana lagi?” Tangan Papa sibuk memilih program TV.

    “Di kamar Santi belum ada lukisan, ya kan Santi?” Mama menoleh ke arah Santi. “Di teras depan juga mau Mama taruh lukisan.” lanjut Mama setelah melihat Santi tak menjawab.

    “Santi tidak butuh lukisan.” sahut Santi tiba-tiba, dan tanpa berkata-kata lagi, ia masuk kamar.

    “Ada apa anak manis?” Tante Lusi menutup majalahnya. “Tadi udah janji loh, gak akan marahan lagi.., gak akan manja lagi. Ada apa sayang?” ulang Tante Lusi dengan hati-hati.

    “Gak ada. Santi mau tidur!”

    “Ooh…, cuma mau tidur, ya udah mau tidur sama Tante apa sama Mama?”

    “Sama Tante!”

    “Oke dech, selamat tidur. Mimpi bagus ya, jangan lupa berdoa. Udah pamit sama Mama Papa?”

    Santi tak menjawab. Ia menelungkupkan badannya ke bawah bantal.

    Pagi setelah sarapan, Santi dan keluarganya bersiap pergi ke pasar Sukawati. Tiba-tiba mobil kijang Papa mogok. Sambil menunggu mobil diperbaiki, Santi berjalan-jalan di sekitar penginapan bersama Tante Lusi. Di depan pintu gerbang penginapan, rupanya banyak pedagang berkerumun. Mereka langsung menyerbu ketika melihat Santi dan Tante Lusi.

    “Ibuk, beli pathungnya Buk… Murah-murah saja, unthuk penglaris ya Buuk..”

    “Beli sarung panthainya ya Buk. Ini warnanya manis-manis. Murah..”

    “Baju barongnya Buk. Nih bagus-bagus. Ada baju panjang juga…”

    Wah, semua pedagang menyodorkan barang dagangannya.

    “Beli lukisannya yaa…?” celetuk bocah perempuan, seusia Santi.

    “Ehm….” Santi hanya bergumam. Dicarinya Tante Lusi tapi sudah jauh di sana.

    “Bagus-bagus. Boleh dilihat-lihat…” tangan kurusnya menyodorkan lukisan ke arah Santi. “Saya sendiri yang melukis.” tambah gadis kecil itu bangga.

    “Oh ya?” Santi tak bisa menyembunyikan kekaguman pada lukisan yang dipegangnya.


    Santi duduk di jok tengah dengan Tante Lusi. Mama duduk di depan menemani Papa. Mobil kijang telah sampai di pelabuhan gilimanuk. Semua turun dari mobil kemudian menuju ruang penumpang kapal. Santi memilih tempat duduk dekat jendela. Ia tatap sebuah pulau, makin lama makin jauh. Dan ketika kapal mulai menepi di pelabuhan ketapang, terasa susuatu yang hanyat di kedua matanya yang bulat.

    Mobil terus melaju meninggalkan pelabuhan ketapang.

    “Kok diam aja San, capek ya. Sebentar lagi sampai.” kata Papa ketika berhenti mengisi bahan bakar.

    “Jam berapa sampai di Malang Pa?” Santi menguap menahan kantuk.

    “Kira-kira jam lima sore nanti kita udah di rumah.” jawab Papa.

    “Bener Pa?” Santi sudah tak sabar.

    Dan, ketika mobil memasuki pekarangan, Santi langsung berlari ke dalam rumah. Di tangannya ada bungkusan kertas warna coklat. Santi melepas sepatu dan jaket merah mudanya. Setelah mencuci kaki dan tangan, ia mengunci kamarnya dari dalam.

    Santi makin tak sabar membuka bungkusan. Ternyata sebuah surat dengan tulisan tangan.

    Untuk sahabat baruku yang manis, Santi Diah Permata.

    Santi, senang sekali berkenalan denganmu. Sayangnya kita hanya sebentar bertemu ya. Kamu harus segera pulang ke Malang. Saat kamu baca surat ini, mungkin aku masih berjualan. Dan lusa aku juga mulai masuk sekolah setelah libur panjang. Biasanya, pulang dari sekolah aku terus melukis.

    Santi, sejak Bapak meningga,l aku rajin membantu Ibu. Ibuku…, kamu masih ingat seorang Ibu yang menjual baju barong? Dia itu ibuku, Santi. Ibu menjual baju barong milik orang lain. Nanti Ibu akan mendapatkan upah.

    Santi, aku masih ingat, betapa kamu terkejut saat kubilang aku sendiri yang melukis ini. Iya Santi, dari kecil aku sudah pandai melukis. Bapak dulu seorang pelukis. Bapak juga yang mengajari aku melukis. Oh ya Santi, terimakasih sudah membeli lukisanku. Dan ini kuberikan lukisan bunga anggrek putih, sebagai tanda persahabatan kita. Tolong dibingkai sendiri yaa…

    Selesai membaca surat ini, cepat balas ya. Aku tak sabar menunggu suratmu dan jangan lupa sertakan foto kamu beserta adikmu, almarhumah Sinta. Aku tak sabar ingin melihat fotonya, yang kamu bilang sangat mirip denganku.

    Udah dulu ya Santi….

    Sahabat barumu

    (Putu Eka Cahyani)

    Santi menghela nafas panjang. Tangannya melipat kertas dan pandangannya tertuju pada luar jendela. Ketika matanya menatap bunga putih di pot gantung, tiba-tiba ada sejuk dalam hatinya. Dan kini mata Santi nampak berkaca-kaca. Bunga anggrek putih di luar itu, sama cantiknya dengan lukisan di tangannya.

    Bahkan sama bentuk bunga dan daunnya….

    Pekanbaru, Januari 2010

    Santi Nuur P
    trinoersanti @yahoo .co .id

  • 5 Sekawan yang Tidak Pernah Terlupakan

    Alkisah, pada saat agresi Belanda ke Indonesia, ada 5 sekawan, mereka adalah Udin, Agus, Asep, Wawan dan Made, mereka adalah para pejuang pada saat itu hingga pada suatu saat

    “De, siapkan senjata dan surat yang akan dikirim ke Jendral Sudirman” Udin berkata kepada Made “Siap!”

    Agus, Asep dan Wawan yang tengah berjaga-jaga di depan persembunyian 5 sekawan, tiba-tiba diserang oleh pasukan Belanda, mereka langsung balas menyerang, tapi jumlah Belanda terlalu banyak jadi membuat mereka masuk ke dalam persembunyian

    “Ayo semua, amankan semua barang-barang yang dianggap penting, kita diserang oleh Belanda!” Wawan berkata kepada semua 5 sekawan tersebut, lalu Udin berkata “Lekas pergi sobat, tempat sudah tidak aman!” dibalas oleh semua 5 sekawan “5 sekawan, Pergi!”

    Setelah mereka meninggalkan persembunyian, mereka melanjutkan perjalan dengan menyusuri hutan, disana Udin menerangkan kepada 5 sekawan bahwa mereka akan mengantarkan surat kepada Jendral Sudirman “5 sekawan, kita akan mengantarkan surat ini kepada Jendral Sudirman, jika sesuatu menimpa kita harus berpencar dan surat ini harus ada yang memegang, jika berhasil kita akan bertemu di kota Solo, tapi jika salah seorang atau beberapa orang tidak berhasil . . . . ” Asep menjawab ” Biar saya saja yang pegang, saya tahu persis seluk beluk hutan Jawa” Udin pun memberikan surat itu kepada Asep

    Beberapa hari melangkah, mereka pun ditemukan oleh pasukan Belanda dan melakukan instruksi dari Udin dengan cepat hingga Belanda tidak bisa menyerang mereka.

    Beberapa minggu kemudian, mereka tiba di kota Solo, Udin, Wawan, Made dan Agus menunggu kedatangan Asep, ketika Asep datang, Asep kelihatan bermandikan darah “Sep, kamu kenapa !?” Wawan bertanya sambil menekan darah yang mengalir dari tubuhnya “Aku tak kenapa-napa, cepat berikan surat uhuk-uhuk kepada Jendral, !!!” Wawan mengambil dan memberinya kepada Udin

    “Cepat, bawa Asep ke ruang perawatan!” kata Wawan, sementara itu, surat diberikan kepada Jendral Sudirman , ia berkata “Aku ingin bertemu prajurit itu” tiba-tiba Wawan menghampiri Jendral Sudirman dan berkata “Asep sudah wafat”

    Setelah 40 tahun kemudian, 5 sekawan berkumpul di sebuah kuburan di Solo “Dia sudah mengorbankan nyawanya untuk kita semua dan surat itu, jika surat itu tidak sampai kepada Jendral, pertahanan kita pasti sudah hancur” Udin berkata, mereka pun mendoakan Asep agar arwahnya tenang di sisi-Nya

    Tamat

    Deda Chandra

    deda_chandra @yahoo .com

  • Usman dan Hasan

    Disebuah desa kecil, terdapat keluarga yang sangat bahagia. Di rumah tersebut dihuni oleh seorang Ayah, Ibu dan seorang anak laki-laki yang bernama Hasan. Hasan termasuk anak yang pintar disekolahnya. Selain pintar, Ia juga anak yang baik. Hasan selalu membantu orang tua dan juga teman-temannya sehingga Ia mempunyai banyak teman. Hasan beumur 8 tahun dan kini Ia duduk dibangku kelas 3, di SD Negeri Neglasari.

    Salah satu teman Hasan bernama Usman. Usman sangat berbeda dengan Hasan. Ia anak yang kurang pandai di sekolah dan Ia sangat nakal, sehingga Ia tidak mempunyai teman. Usman satu kelas dengan Hasan yaitu di SD Negeri Neglasari.

    Di sekolah Hasan berteman dengan siapa saja. Hasan tidak pernah memilih-milih teman, sehingga Ia mempunyai banyak teman. Akan tetapi, berbeda dengan Usman.
    Usman tidak mau berteman dengan orang yang tidak disukainya. Ia selalu memilih teman yang pintar saja, sehingga Ia tidak mempunyai teman seperti Hasan.

    Hasan selalu menjadi juara kelas disekolahnya karena Ia selalu belajar dan berdoa kepada Allah agar semua cita-citanya tercapai dan Ia tidak pernah sombong. Hasan selalu membantu temannya jika ada yang kesulitan dalam pelajaran.

    Berbeda dengan Hasan, Usman kurang pandai di sekolah. Ia tidak pernah mendapat nilai yang bagus, karena Ia tidak pernah belajar dan Ia elalu lupa untuk berdoa kepada Allah. Usman tidak pernah bertanya kepada guru atapun teman apabila mengalalami kesulitan dalam pelajaran, sehingga Ia tidak pernah berprestasi seperti Hasan.

    Suatu hari, Ibu Guru memberikan tugas menggambar peta Indonesia untuk pelajaran Ilmu Pengethuan Sosial. Tugas itu dikerjakan berkelompok. Dan kebetulan Usman dan Hasan satu kelompok. Usman dan Hasan sepakat untuk kerja kelompok di rumah Hasan seusai pulang sekolah. Setelah usai sekolah Usman pulang terlebih dahulu ke rumahnya untuk meminta izin kepada orang tuanya.

    Sesampainya dirumah, Usman langsung membuka pintu tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu dan Ia tidak langsung mengganti seragam sekolahnya. Usman langsung meminta izin kepada orang tuanya untuk kerja kelompok dirumah Hasan. Kebetulan jarak rumah Usman dan Hasan tiak terlalu jauh, jadi orang tuanya mengizinkan.Berbeda dengan Usman. Sesampainya Di rumah, Hasan tidak pernah lupa mengucapkan salam dan langsung mencuim tangan orang tuanya. Setelah itu Ia mengganti seragam sekolahnya dan meminta izin kepada orang tuanya untuk bekerja kelompok dirumahnnya.

    Sesampainya di rumah Hasan, Usman bukan mengerjakan tugas tetapi malah bermain-main. Usman memainkan mobil-mobilan milik Hasan. Mobil-mobilan itu sangat bagus, sehingga Ia ingin memiliki mobil-mobilan itu. Lalu usman mencuri mobil-moobilan itu dan Ia langsung pulang dengan tergesa-gesa tanpa mengerjakan tugas terlebih dahulu. Buku Usman tertinggal di rumah Hasan, karena Usman pulang sangat tergesa-gesa. Lalu Hasan mengantarkan buku milik Usman itu ke rumahnya.

    Sesampainya dirumah Usman, Hasan melihat mobil-mobilannya sedang dimainkan oleh Usman. Kemudian Hasan bertanya kepada Usman, apakah mobil-mobilan itu milik Hasan?. Dan Ia tidak mengaku bahwa mainan itu milik Hasan. Tiba-tiba Usman berlari keluar rumah dengan sangat cepat sambil membawa mobil-mobilan itu. Ketika sedang berlari, Usman terjatuh sampai kakinya berdarah. Ia tidak kuat menahan tangis karena kakinya luar bisasa sakit, sampai-sampai Ia tidak bisa berjalan sendiri. Namun Hasan tetap menolong Usman, walaupun Usman sudah mencuri mobil-mobilan milik Hasan.

    Pada keesokan harinya Usman tidak masuk sekolah karena kakinya masih sakit. Ia mendapat hukuman dari Tuhan akibat kenakalannya. Sedangkan Hasan mendapat kebahagiaan dari Tuhan karena Hasan anak yang baik. Hasan mendapatkan hadiah mobil-mobilan yang baru dari Ibu Guru karena gambar peta Indonesia buatan Hasan paling bagus.

    Karya: Nenden Rizky Amelia

  • Superman Kecil

    Sehabis belajar Septian duduk-duduk di beranda rumah ditemani nenek, berdua mereka asyik ngobrol dan bercanda bersuka ria. Sementara papa di ruang kerja entah menyelesaikan pekerjaan kantor. Sedangkan mama asyik di dapur bersih – bersih segala peralatan dapur yang kotor.

    Sungguh asyik benar mereka berdua entah apa yang dibicarakan. Kadang – kadang nenek tertawa perpingkal – pingkal melihat ulah Septian. Kadang pula giliran Septian yang tertawa melihat kelucuan neneknya itu.

    “ Nek, aku kemarin melihat Harry Potter bisa terbang naik sapu. Itu sapunya beli di mana .Nek ? “ pinta Septian merengak minta dibelian sapu yang bisa terbang.

    “ Yan, sapu seperti itu tidak di jual di toko, itu hanya ada di film saja, sebenarnya nggak ada sapu bisa terbang, cucuku ! “ jawab Nenek dengan lembut sambil mengusap rambut Septian.

    “ Tapi temen – temen rencananya mau ngajak bapak dan ibunya mau beli sapu itu, Nek ? “

    Septian masih belum puas dengan jawabanya Nenek tadi. Makanya dia terus mendesak agar Neneknya mau mengantar membeli sapu itu.

    “ Ya, sudah, besok kamu tanya teman kamu, belinya di mana. Kalau tahu tempatnya biar Nenek nanti belikan ”

    ” Harus sekarang, Nek !. Yayan pengin segera naik sapu itu . Yayan pengin terbang kaya Superman”

    ” Yayan sayang, in i kan sudah malam, lagian sebentar lagi mau hujan. Tuh lihat langitnya sudah gelap, kamu nanti kehujanan bisa masuk angin ”

    ” Nggak apa – apa Nek, yang penting Yayan bisa terbang dengan sapu itu sekarang ”

    ” Lho kalau sekarang terbang, kamu akan tersesat nggak bisa pulang. Malam hari begini langitnya sangat gelap , lagian sapunya kan nggak ada lampunya. Kamu bisa nabrak pohon. Sudahlah sekarang tidur ditemani nenek, ya sayangku !. Besok nenek tak nyari, dimana yang jual sapu itu ”

    ” Besok ya Nek, bener lho. Aku pengen jadi Superman. Horeee. . akulah Superman ”. Septian melonjak-lonjak gembira, karena dia yakin betul besok dia akan bisa terbang mengelilingi rumah dan sekolahnya.

    Mereka berduapun kini sudah berada di atas tempat tidur. Septian sudah gosok gigi dan cuci kaki dan tangan. Sementara Neneknyapun sudah tidur disebelahnya.

    ” Nek, bener lho besok aku dibelikan sapu Superman ya ! , nanti Nenek tak boncengin, pegangan yang kuat ya Nek !, biar nggak jatuh ” rayu Septian kepada Neneknya,

    ” Jangan kuatir Yan, besok pasti Nenek bonceng. Sekarang tidur dulu. Besok kamu harus bangun pagi biar tidak terlambat sekolah ” jawab Nenek. Septianpun tidak mendengarkan jawaban Neneknya itu, karena dia sudah memejamkan matanya dan tertidur pulas.

    Tidak beberapa lama kemudian

    ” Yan, yayan sayangku, ini sapunya Nenek sudah belikan. Terbanglah ke angkasa sesukamu seperti Gatotkaca atau Superman.

    ” Oh, , ,Sungguh Nek ?, Aku bisa terbang ?. Aku nggak percaya ?. Lantas bagaimana cara mengendalikannya, Nek ? ”.

    ” Sapu ajaib ini akan menuruti kata hatimu. Sehingga untuk mengendarainya tidak sulit.

    ” Bawa sini Nek, aku sudah nggak sabar ”

    ” Hati – hati cucuku, jangan buru-buru. Meskipun sapu ajaib ini akan menuruti perintah hatimu, namun kalau tidak tenang hatimu sapu ini bisa menjatuhkanmu dan pesan Nenek sapu ini jangan digunakan untuk hal- hal yang jahat cucuku ”

    ” Baik Nek akan aku ingat terus pesan Nenek ”

    Tanpa menunda waktu lagi, Septian segera menaiki sapu itu, yang dijepit diantara kedua kakinya sambil berteriak ” terbang ”.

    Maka melesatlah sapu itu ke atas secepat kilat. Padahal Septian tidak siaga sebelumnya, sehingga terpelantinglah dia dan jatuh terjerambab.

    ” Septian !. kamu nggak apa – apa sayangku ? ” teriak Nenek, sambil membangunkan Septian yang baru saja jatuh bergulingan.

    ” Aku nggak apa – apa Nek ! ”

    ” Itulah kan tadi Nenek bilang jangan buru – buru mengendarai sapu ajaib ini. Gunakan pikiranmu dengan tenang maka sapu ini akan menjadi sahabatmu pergi kemana saja . Sekali lagi Nenek pesan jangan digunakan untuk tujuan jahat”

    ” Baik Nek akan kucoba lagi ”. Tutur Septian dan terbanglah dia kini dengan sapu ajaib yang naik ke atas dengan perlahan. Sehingga kini, baik Nenek atau rumahnyapun sudah nggak kelihatan lagi. Yang terlihat hanyalah permadani berwarna hijau dan gumpalan awan.

    Sesekali Septian terbang rendah dan melesat ke kanan – kiri menghindari pepohonan, kadang pula melesat naik ke atas menembus awan. Kadang pula dia turun sambil beristirahat melepas lelah.

    Saat melepas lelah itu terlihatlah pohon durian yang persis ada di depannya, dan di perhatikan semua buah-buahnya yang sudah masak. Dia sempat menelan ludah melihat buah durian yang sudah merekah dan berbau sangat menusuk hidungnya.

    Tanpa pikir panjang Septian mengambil sapu ajaibnya dan dengan perlahan dia terbang mendekati buah yang sudah masak, Alangkah nikmatnya buah durian ini . aku bisa merasakan dari baunya yang harum. Oh alangkah nikmatnya. Aku bisa menghabiskan satu buah sendirian.

    Tangan kanannya segera menarik buah itu dari tangkainya sedangkan tangan kirinya tetap memegangi sapu ajaib itu. Setelah ditarik sekuat tenaga, buah durian akhirnya lepas dari tangkainya dan meluncurlah ke bawah.

    Namun tanpa diduga Septian sebelumnya, sapu ajaib itupun turut meluncur bersamaan dengan buah durian tadi. Maka Septianpun menjadi kaget bukan kepalang dan tangannya berusaha memegang apa saja agar dia tidak jatuh ke bawah.

    ” Toloooong, toloooong. .. .tolong aku Nek ! ” teriak Septian.

    Teriakan Septian tadi terdengar cukup keras, hingga mambangunakan Nenek, bahkan Papa dan mama nya pun juga ikut terbangun. Mereka segera menuju ke kamar Septian untuk mengetahui kejadia apa yang melanda putra kesayangannya.

    Akhirnya Septianpun cerita kepada kedua orang tuanya tentang mimpinya itu. Sehingga akhirnya Papa dan Mama nya pun merasa lega karena Septian tidak mengalami satu kejadian apapun, ternyata semua itu hanya mimpi saja.

    ” Makanya Septian,, kalau minta sesuatu sama Nenek, Papamu atau Mamamu jangan yang macam – macam. Sapu terbangkan hanya ada di flm Harry Potter. Ya sudah sekarang tidur lagi besok kamu sekolah ” tutur papanya.

    Septianpun tidak menjawabnya, dia segera memejamkan matanya dan kinipun terlelap tidur.

    Yang jelas mulai esok hari dia tidak akan manja lagi terhadap Papa dan Mama serta Nenek.

    Ir. BAMBANG SUKMADJI
    bangsuk51 @gmail .com

  • Si Jago Marah

    Ibu memiliki dua belas ekor ayam betina dan satu ekor ayam jantan yang tubuhnya cukup besar dan biasa dipanggil Si Jago. Semua ayam ibu tadi dibuatkan kandang di belakang rumah, sehingga kalau malam mereka tidak tidur di sembarang tempat.

    Pagi – pagi benar sebelum Ibu memasak untuk sarapan, semua ayamnya diberi makanan berupa nasi dan sayur sisa. Meskipun makanan itu semuanya sisa tadi malam, namun ayam –ayam tadi mau makan dengan lahapnya. Maka tidak mengherankan, bila semua ayamnya Ibu gemuk dan sehat.

    Beberapa ayam betina sekarang sudah mulai bertelur, sementara ayam betina lainnya sudah mulai mengerami telurnya. Perasaan Ibupun menjadi senang melihat ayam piaraanya bertelur dan mengerami. Setiap hari tak lupa Si Jago selalu menjaga mereka, sehingga telur – telur yang ada di kandang tidak di makan tikus.

    Namun Si Jago akan membiarkan saja bila Ibu mengambil salah satu telur mereka untuk digoreng. Tetapi bila ada hewan lain yang mendekati kandang-kandang ayam betina Si Jago pun akan marah dan segera menerjang dan mematuknya. Ibupun sangat sayang dengan ulah Si Jago ini.

    Berbeda jauh dengan Amran yang sama sekali tidak suka dengan ayam-ayam ini. Jangankan memberi makan, dekat dengan ayam –ayam ini saja dia tidak mau, bahkan dia sering mengejar ayam ayam itu dan kadang kadang melempar dengan benda apa saja. Makanya semua ayamnya Ibu sangat ketakutan bila dekat dengan Amran.

    Suatu hari saat Amran jalan kaki bersama teman – temannya pulang dari sekolah, dia bertemu dengan Ibu Siti pemilik warung makan, yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya.

    ” Amran, coba kamu tanya ibumu, berapa harga telur ayam kampung. Bu Siti tiap hari butuh untuk dimasak. Nanti coba tanyakan, ya ” pinta Bu Siti.

    ” Ya Bu, nanti segera aku tanyakan sama Ibu , Bu Siti butuh telur berapa ? ” jawab Amran.

    ” Sebanyak – banyaknya, nanti aku tunggu kamu di warung , ya ! ”

    ” Ya, bu ! “.

    Menjumpai tawaran Bu Siti tadi, timbulah niat jahat Amran untuk mencuri telur – telur ayam milik Ibunya. Niat Amran bertambah kuat, setelah rencana jahatnya itu didukung oleh teman karibnya, yaitu Leo dan Joko. Maka tanpa pikir panjangpun Amran segera membulatkan tekadnya. Bahkan kini dia telah punya rencana, setelah makan siang nanti dia akan berpura-pura belajar mengerjakan soal – soal di LKS.

    Amran tahu betul setiap selesai dia makan siang, Ibunya langsung pergi tidur siang dan kadang kadang dia diajak Ibunya untuk bareng tidur siang. Namun kali ini dia beralasan tidak menemani tidur siang Ibunya, karena banyak PR di LKS, yang harus dia dikerjakan. Sementara itu sejak dia makan siang tadi, hingga kini beberapa kali sempat dia dengar kokok ayam betina pertanda baru saja mereka bertelur.

    Hati Amran bergembira tiada terkira, setelah dia mendapatkan 5 telur yang masih baru. Maka kini tanpa menunggu waktu lagi, dia bergegas menyerahkan telur itu pada Ibu Siti dan Amranpun menerima uang dari Ibu Siti sebesar lima ribu rupiah dan kini dia pun bergabung dengan Leo dan Joko untuk main play – station di ruko depan sekolah mereka.

    Demikian seterusnya hari demi hari ulah Amran tiada pernah berhenti, sampai suatu hari Ibunya kaget bukan kepalang. Lantaran telur ayam – ayamnya diluar dugaan sekarang berkurang banyak. Maka dia pun segera mengadu ke Bapaknya Amran tentang hilangnya telur – telur yang harusnya dierami oleh ayam mereka. Bapaknya Amranpun segera meneliti hilangnya telur – telur tersebut.

    ” Ini mungkin dimakan tikus apa kucing, Bu ? ” jawab Bapaknya Amran setelah meneliti kandang ayam mereka.

    ” Tapi Si Jago kok diam Pak, biasanya kalau ada tikus. Si Jago langsung berkokok ”

    ” Mungkin sudah, tapi Ibu yang nggak dengar ”

    ” Ya sudah, makanya kalau siang hari jangan sering tidur. Nanti di atas kandang Bapak pasang lampu. Sehingga kalau malam tikus tidak berani menyerang dan untuk kandangnya biar Bapak lapisi dengan anyaman kawat ”

    Hari itu seharian Bapaknya Amran sibuk memperbaiki kandang ayam mereka sekaligus memasang lampu penerangan. Kegiatan ini sudah barang tentu membuat hati Amran dan kedua temanya bersedih. Lantaran ketiganya hari ini tidak bisa bermain play – station.

    Barangkali hanya perasaan ayam – ayam tersebut dan Si Jago tentunya yang merasa marah dengan ulah Amran. Hanya saja mereka tidak mampu mengadukan kepada kita semua, barangkali saja rasa marah dari ayam – ayam itu sudah memuncak, lantaran telur mereka sering di ambil Amran. Merekapun akan membuat perhitungan bila ulah si Amran dilakukan lagi.

    Benar saja ternyata rencana mereka tidak hanya omong kosong belaka. Kala Amran sudah mengantongi 5 buah telur di saku bajunya, semua ayam betina kontan bersamaan berkokok sekeras – kerasnya. Hal ini tentu saja membuat Amran kaget bukan kepalang. Ditambah lagi tanpa diduga sebelumnya Si Jago langsung ,menerjang dia dengan cara melompat ke arah muka Amran sambil mencakar wajahnya.

    Serangan Si Jago ini akhirnya membuat Amran terjatuh karena kehilangan keseimbangannya dan mengakibatkan telur – telur yang ada di kantongnya pecah membasahi bajunya. Sudah barang tentu kegaduhan ini membuat Ibunya Amran terbangun dari tidur siangnya dan menjadi kaget melihat Amran menangis dan berdarah di pipinya. Perasaan Ibunya menjadi bertambah kaget ketika melihat bajunya Amran dibasahi telur yang pecah.

    ” Oh jadi kamu Amran !, yang mengambil telur. Perbuatanmu itu tidak baik, Anakku ! ” Seru Ibunya sambil menarik telinga Amran

    ” Ampun Bu, betul Bu, Amran yang ambil ”

    ” Baik, nanti Ibu adukan perbuatanmu pada Bapakmu, biar nanti Bapak yang menghukum kamu ” ancaman Ibunya itu membuat Amran takut setengah mati.

    ” Jangan Bu, Amran kapok, betul Bu ”

    ” Kalau kamu takut sama Bapak kamu, Ibu ingin kamu berjanji di depan Ibu tidak akan mengulangi perbuatanmu ! ”

    Amranpun berjanji di depan Ibunya tidak akan berbuat jahat lagi.

    Ir. BAMBANG SUKMADJI
    bangsuk51 @gmail .com

  • Hasan dan Kucing Hitam

    Pada sebuah desa, tinggallah sebuah keluarga, keluarga Pak Rahmat namanya. Pak Rahmat mempunyai tiga orang anak, yaitu Nida, Hasan, dan Husein. Semua putra pak Rahmat sudah bersekolah. Nida kelas 4 SD, Hasan kelas 2 SD, dan Husein kelas 1 SD. Dari ketiga bersaudara tersebut Hasan mempunyai sifat yang cukup berbeda dari dua saudaranya. Ia suka berbuat usil. Ia mempunyai kebiasaan mengganggu hewan peliharaan tetangga. Setiap kali ia lewat atau berjalan-jalan , dan menemui hewan selalu menggertak dan mengusirnya. “Heyya…! Huss…! Pergi kalian! Jagoan mau lewat!” teriakan Hasan membuat hewan-hewan yang didekatnya lari ketakutan. Saat sedang bermain ia juga suka mengganggu hewan-hewan seperti, kucing atau ayam. Semua hewan di sekitar rumahnya takut dengannya. Hasan pernah dijewer mbok Pinah gara-gara ayam mbok Pinah mati karena jatuh kedalam sumur setelah dikejar-kejar Hasan.

    Beberapa hari kemudian, pak Rahmat mengawasi anaknya yang bermain. Hasan bermain di halaman rumah pak Sholeh bersama teman-temannya yaitu Budi, Dodi, dan Tono. Mereka sedang bermain sepakbola. Suara mereka bising, sehingga menganggu tetangga di sekitar rumah pak Sholeh. Ketika sedang bermain, seekor kucing hitam datang melintas di dekat mereka. Tanpa pikir panjang, Hasan segera mengincarnya. Ia menendang bola dengan sekuat tenaga diarahkan ke kucing hitam tersebut.

    “Buk!” suara bola sangat keras mengenai kucing hitam tersebut.

    “Meoong!” kucing hitam menjerit terkena bola tendangan Hasan. Suaranya melengking kesakitan, dan jatuh terpental berguling-guling di tanah.

    “Ha..ha..ha..!Horee..! ” Hasan tertawa merasa puas dengan yang dilakukannya.

    Dari jauh pak Rahmat menyaksikan kelakuan anaknya, menggeleng-gelengkan kepala. Akibat ulahnya banyak tanaman yang berada di sekitar rumah pak Sholeh rusak. Bahkan suatu ketika tendangan bolanya mengenai gerobak penjual bakso yang berakibat nampan, beberapa mangkuk pecah berantakan jatuh ke tanah. Hasan dan teman-temannya langsung lari sekencang-kencangnya tanpa memperdulikan teriakan penjual bakso.

    “Ya Allah, berikan kesabaran padaku, dan berikan hidayah pada anak-anak tersebut. Amin!” gumam penjual bakso dalam hati. Begitulah sifat dan kelakuan Hasan setiap hari. Meskipun kedua orang tuanya selalu menasehati, tidak juga ia jera. Ia selau mengganggu semua hewan yang ia jumpai.

    Hari itu, hari Jum’at. Seperti biasanya setelah pulang sekolah Hasan bermain bersama teman-temannya. Kebiasaan Hasan menggaggu hewan masih terus berlanjut setiap hari. Hari itu Hasan bermain cukup lama hampir menjelang maghrib ia baru pulang. Sampai di rumah ia langsung mandi kemudian persiapan shalat maghrib. Tidak seperti biasanya, setelah shalat maghrib biasanya ia berdzikir dan berdo’a tapi kali ini Hasan langsung pergi ke kamar. Menjelang Isya’ Husein mencari kakaknya tersebut untuk diajak shalat. Ia menuju kamar kakaknya tersebut.

    “Kak, ayo shalat!” panggil Husein.

    “Ya, kakak sudah tidur !” gumam Husein yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan kakaknya yang sudah tidur.

    “Bu, kak Hasan sudah tidur!” lapor Husein.

    “Ya sudah, biar nanti ibu yang membangunkan untuk shalat, mungkin ia kecapean main seharian!” jawab ibu.

    Dalam tidurnya, Hasan bermimpi menjadi seorang pemburu. Ia membayangkan dirinya menjadi seorang jagoan yang tidak terkalahkan. Semua hewan penghuni hutan dapat ia taklukkan. Saat ia berburu, tanpa sengaja salah satu anak panahnya mengenai seekor ular naga yang sangat besar dan ganas. Ular naga tersebut sangat marah dan menoleh ke arah Hasan. Ular naga membuka mulutnya lebar-lebardan menyemburkan hawa panas. Tiba-tiba tubuh Hasan terasa ringan dan tersedot masuk kedalam mulut ular naga tersebut. Hasan berusaha keras untuk melepaskan diri namun selalu gagal.

    “Tolong …tolong…!” Hasan berteriak ketakutan. Teriakan Hasan sampai terdengar pak Rahmat. Pak Rahmat bergegas ke kamar Hasan dan membangunkannya.

    “Hasan…Hasan…bangun!” “Kamu mimpi buruk ya!” Coba sekarang kamu ingat, apa kamu pernah melakukan kesalahan sehingga kamu mimpi buruk.

    “Hasan tadi juga belum shalat isya kan!” “Ayo shalat dulu, nanti tidur lagi!” ajak ayahnya. Hasan masih duduk termenung dan masih teringat mimpi yang tadi ia alami.

    Siang itu, ketika keluar kamar, Hasan melihat seekor kucing hitam. Tanpa pikir panjang sifat usilnya langsung keluar. Ia mengambil bola dan menendangnya ke arah kucing tersebut. Kucing terpental dan menabrak guci hingga pecah. Bolanya terus melayang dan mengenai jendela sampai pecah. Hasan ketakutan dan lari keluar rumah. Tanpa ia sengaja, Hasan menginjak seekor kucing hitam yang berada di depan pintu. “Meoong…!” Kucing langsung mencakar dan menggigit kaki Hasan. Hasan terjatuh kaget dan tidak dapat menahan kesimbangan.

    “Tolong…tolong…!” teriak Hasan. Kaki Hasan luka dan mengucurkan darah. Ibu yang berada di belakang segera mendatanginya. Hasan kemudian dibawa ke rumah sakit.

    “Ayah …Ibu…, badan Hasan sakit semua!” rintih Hasan.

    “Hasan bersyukurlah, lukamu tidak terlalu parah. Makanya jangan suka usil lagi. Jangan suka mengganggu hewan dan menakalinya!” Pak Rahmat menasehati putranya.

    “Ya ayah, maafkan Hasan. Hasan berjanji tidak akan usil lagi dan mengganggu hewan-hewan lagi!”

    “Alhamdulillah, semoga Allah selalu menyayangi kita semua. Amin.

    Nama : Syarifudin

    Alamat : SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta

    syarif.abdurrahman @yahoo .co .id