Category: Cerpen Anak

  • Gara-gara Sandal Capit

    Oleh Kak Eris TI

    “Eris Trisna”

    Di Sukabumi, tepatnya di sebuah kampung Duren Gede Desa Kutajaya, ada seorang anak yang bernama Adul. Adul adalah putra semata wayangnya Pak Karta dan Bu Ijah. Di mata taman-temanya, Adul adalah seorang teman yang baik, sopan, dan juga suka membantu teman-temannya. Namun, di balik kebaikannya itu, dia mempunyai satu kelemahan yaitu rasa takut, apalagi kalau hari telah gelap. Hampir Semua orang dikampungnya kenal dengan Adul, si penakut. Walaupun demikian, Adul senang membantu dan tidak pernah membeda-bedakan orang, baik itu orang kaya atau pun miskin. Kalau ada yang meminta pertolongannya, langsung dibantunya tanpa berpikir terlebih dahulu.

    Ada suatu kebiasaan Adul yang mungkin kurang baik yaitu ke mana pun dia pergi, dia selalu minta ditemani, baik oleh temannya maupun oleh keluarganya dan temannya itu minimal dua orang. Kalau dia berjalan selalu ingin di tengah, tidak mau di depan atau pun di belakang. Terlebih-lebih jika waktunya sudah malam. Karena jika sudah malam, Adul lebih memilih untuk tidak pulang dan itu merepotkan yang mengundangnya.

    Pernah suatu malam di bulan Ramadhan (bulan puasa umat Islam), dia ditugaskan gurunya untuk menggantikan posisi beliau untuk menghadiri peringatan Nuzulul Qur’an di daerah Cicurug. Seperti biasa, dia pergi ditemani oleh teman-temannya. Kedua temannya itu bernama Dadang dan Tono. Mereka sebenarnya ingin pergi bersama teman-teman yang lainnya, maklum yang minta adalah guru mereka jadi tidak bisa menolak permintaan gurunya itu. Maka berangkatlah mereka bertiga menghadiri peringatan Nuzulul Qur’an itu.

    Sepulangnya menghadiri Nuzulul Qur’an, hari telah larut malam. Sedang mereka tahu, jalan menuju pulang harus melewati perkebunan pisang yang luas dan pekuburan umum yang tidak kalah luasnya dengan kebun pisang tersebut. Tentu saja membuat dada Adul berdetak keras. Di teangah perjalanan pulang, perasaan Adul tidak karuan. Lalu, dia terus merangsek ke depan karena takut tertinggal, sehingga temannya yang berada di depan merasa terdorong. Karena dorongan Adul cukup keras, temannya yang berada di depan pun tersungkur dibuatnya. Dengan sedikit kesal temannya bangkit dari jatuhnya dan berkata: “Gimana sih, jalan kok seradak-seruduk begitu, bajuku kan jadi kotor?”. “Maaf, maaf ya, habis kamu jalannya kaya orang yang mau nagih hutang, sih!” jawab Adul dengan sedikit menggoda. “Ah, dasarnya kamu saja yang penakut, dikasih sedikit kencang saja sudah seradak-seruduk gimana kalau lari. Timpal Dadang sambil menyindir Adul.

    Setelah beberapa saat, mereka pun berjalan kembali. Di tengah perjalanan, Tono yang berada di belakang Adul merasa pengen kencing. “Aduh, gimana nih, kalau aku kencing dulu pasti aku tertinggal jauh. Tapi kalau aku lebih dulu, mungkin aku masih bisa menunggu. Gumam Tono dalam hatinya. Setelah bulat dengan niatnya, Tono pun akhirnya lari mendahului kedua temannya. Adul yang merasa kaget akan perilaku Tono, akhirnya dia pun lari dengan sekencang-kencangnya. Sampai-sampai Tono yang lebih dulu larinya, dapat dia lampaui dengan mudahnya. Maklum saja, dulunya dia pernah Juara Maraton tingkat RT di kampungnya.

    Tono pun menghentikan larinya karena merasa aneh akan perilaku temannya itu. Kebetulan, karena di dekatnya itu ada pohon besar yang begitu rindang yang cocok untuk buang air kencing. Lalu, dia pun menghampiri pohon tersebut dan kencing di baliknya. Dadang yang kini berada di belakang, menggeleng-gelengkan kepala karena aneh melihat kedua temannya itu. Lalu, Dadang pun mempercepat langkahnya untuk mengejar kedua temannya. Tidak seberapa jauh, Dadang melihat Tono yang baru kembali dari balik pohon besar.

    Dadang pun menghampiri Tono dan berkata, “Oh…jadi ini yang membuatmu lari lebih dulu, karena kamu pengen kencing?”. “Iya benar Dang, aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa pipisku ini. Lagi pula, dengan aku berada di depan kalian, aku lebih nyaman untuk membuang pipisku dan aku tidak akan tertinggal jauh dari kalian. Oh, iya, ngomong-ngomong kenapa si Adul juga lari, Dang? Kata Tono balik bertanya. “Justru itu, semua ini gara-gara ulahmu yang lari begitu saja, coba kamu bilang dulu tadi, mungkin si Adul tidak akan lari. Kamu sendiri sudah tahu, Adul itu kan penakut, eh… malah kamu takut-takutin!”. Jawab Dadang sambil menasehati Tono. Setelah perbincangan itu, kedunya melanjutkan perjalanan pulangnya.

    Adul yang lari begitu kencang, baru tersadar setelah dirinya lari sendirian, dia terkaget-kaget terlebih lagi sekitar sepuluh meter di depannya, dari arah kebun pisang ada yang melambai-lambai putih mengarah padanya. Kontan saja Adul semakin takut dibuatnya. “Hantuuu…! Teriaknya sambil berlari berbalik menuju teman-temannya.

    Di tengah pelariannya, samar-samar Adul melihat kedua temannya yang sedang menuju ke arahnya. tak menunggu lama, Adul pun mempercepat larinya dan langsung menyelinap di balik baju Dadang. Tono dan Dadang pun merasa semakin aneh dengan perilaku temannya itu. Dengan tenang Dadang pun bertanya, “Ada apa Dul, kenapa kamu lari sebegitu kencangnya, kayak seperti dikejar anjing saja?”. Yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan menutupi mukanya dengan baju Dadang. Napasnya terdengar ngos-ngosan karena kecapean. Setelah merasa aman, Adul keluar dari persembunyiannya dan menunjuk sesuatu yang melambai-lambai tadi. Namun sayang, yang melambai-lambai tadi telah menghilang. Yang terlihat hanyalah daun pisang yang masih muda bergerak-gerak turun-naik karena tertiup angin.

    Dul, Dul, ini kan malam Nuzulul Qur’an. Bulan puasa! Mana mungkin ada hantu alias setan. Kata pak ustad Sobri juga, di bulan puasa itu tidak setan, karena dibelenggu oleh Allah SWT. Jadi tidak usah takut,” kata Tono mengingatkan Adul.

    “Kenapa atuh, tadi kamu lari duluan?” Tanya Adul merasa tidak enak karena dipojokkan. “Maaf, tadi saya hanya bermaksud buang air kecil alias pipis. Karena sudah kebelet, aku lari duluan agar tidak tertinggal jauh oleh kalian. Oh, ya Dul, ngomong-ngomong aku tetap kagum sama kamu, karena baru kali ini ada seorang pelari maraton tengah malam, kata Tono bercanda. Mendengar gurauan Tono itu, semuanya menjadi tertawa. Tono pun tidak tahan menahan kelucuan sikapnya yang penakut itu. Lalu, dia pun tersenyum geli dibalik gelapnya malam.

    Keesokan harinya, Tono dan Dadang pergi ke rumah Adul dengan maksud mengajaknya nonton Golek nanti malam. Setibanya di rumah Adul, terlihat seorang wanita tua sedang berbincang dengannya. Lalu, wanita tua itu pun pergi meninggalkan Adul. Tono dan Dadang langsung menghampiri Adul dan mengutarakan maksud kedatangannya. “Dul, kita nonton yuk, karena nanti malam ada pertunjukan wayang Golek Asep Sunandar di rumahnya si Ratna, mau ikut ngak?” ajak Dadang. “Iya, Dul, karena wayang Golek amat langka di desa kita!” tambah Tono dengan semangat.

    “Duh, maaf ya teman-taman, hari ini aku sudah janji sama Nek Tini untuk megantarkan hasil panennya ke Kang Jafra. Karena kalau di tunda, Nek Tini tidak mendapatkan uang dari hasil panennya, kasihan kan kalau dia tidak makan gara-gara aku tidak mengantarkan hasil panenannya.” Jawab Adul dengan bijak. “Ya sudah, kalau kamu tidak bisa ikut, tapi kamu hati-hati ya, jangan sampai kemalaman”. kata Dadang. Lalu, Dadang dan Tono pun pergi meninggalkan Adul.

    Suatu sore, sekitar pukul 16.00 selepas ashar, Adul pergi ke rumahnya Kang Jafra dengan membawa sekarung hasil panennya Nek Tini. Di tengah perjalanan, Adul merasa kelelahan, “Duh, rumah Kang Jafra rupanya jauh juga, buktinya sudah hampir maghrib aku masih di jalan”. Keluhnya. Sejenak dia beristirahat, lalu dilanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah Kang Jafra.

    Sesampainya di rumah Kang Jafra, Adul bertemu dengan istrinya. Dia pun langsung menceritakan maksud kedatangannya. Istri Kang Jafra menyimak pokok pembicaraan Adul dengan seksama. Lalu, dia pun berkata, “Duh …gimana ya nak Adul, Kang Jafranya sedang tidak ada di rumah, karena tadi sore dia di undang acara selamatan di kampung sebelah. Kemungkinan Kang Jafra pulang sekitar jam sembilanan.” Keluh istri Kang Jafra.

    Dengan terpaksa, malam itu Adul harus menunggu Kang Jafra pulang dari undangan tetangganya. Sambil menunggu kepulangan Kang Jafra, Adul berbincang-bincang dengan istri Kang Jafra dengan ditemani kedua anak kecilnya. Setibanya Kang Jafra, Adul langsung beranjak dari tempat duduknya dan menceritakan maksud kedatangannya. Kang Jafra menyimaknya dengan seksama, lalu dia pun tersenyum karena tahu tamunya itu takut pulangnya kemalaman. “Lebih baik kamu nginap saja malam ini, besok paginya baru kamu antarkan uang hasil panen Nek Tini, bagaimana?”. Tanya Kang Jafra. “Terima kasih sebelumnya kang Jafra, tapi saya telah berjanji akan mengantarkan uang ini langsung kepada Nek Tini sepulangnya dari sini”. Jawab Adul.

    Karena tidak bisa menahannya lagi, lalu Kang Jafra mengambil sesuatu dibalik kantong baju dan memberikannya kepada Adul. “Ya sudah, ini uangnya dan hati-hatilah di jalan karena malam semakin larut”. Pesan kang Jafra kepada Adul. Tak seberapa lama, Adul pun berpamitan pulang kepada keluarga Kang Jafra.

    Sepulangnya dari rumah Kang Jafra, Adul tidak henti-hentinya berdo’a kepada Allah SWT agar terhindar dari segala gangguan. Terutama gangguan dari SI PENGGANGGU SEJATI!! Yaitu setan. Malam itu, udara kurang bersahabat belum lagi rintikan hujan yang terus mengguyur tubuhnya. Angin yang bertiup membuat dedaunan mengeluarkan nada-nada sumbang dan juga menyeramkan di hati Adul. Malam pun semakin angker karena adanya lolongan anjing yang terus mengikuti langkah Adul. Maka, semakin sempurnalah ketakutan Adul malam itu. Adul agak mempercepat langkahnya agar cepat sampai di rumah Nek Tini.

    Namun, semakin dia mempercepat lajunya, dia merasa ada yang ganjil. Setiap kali dia melangkah, dia mendengar suara yang mengikutinya. “Sreek! Sreek!” tentu saja hal itu membuat Adul semakin ketakutan. Dia pun lebih mempercepat lagi langkahnhya. Anehnya suara itu pun semakin cepat pula mengikuti. Tak ayal lagi, Adul, si penakut itu mengambil langkah seribu. Lagi-lagi, si suara di belakangnya pun mengejar dengan langkah seribu pula. Adul stress. Dengan kesadarannya yang tidak lagi seimbang karena rasa takut yang sangat, Adul tidak bisa menahan keseimbangan badannya dan akhirnya terjatuh karena kakinya tersandung batu. Giginya patah dan kakinya terkilir sakit. Dengan menahan rasa sakit dan rasa takut yang sangat, Adul tidak membalikkan badan. Tubuhnya masih dalam keadaan telungkup. “Toloong, jangan ganggu aku! Pergi! Pergi!” teriaknya.

    Namun, yang disuruh pergi tidak bereaksi. Karena sudah lama dia berteriak dan yang diteriakinya diam saja, Adul pun memberanikan diri membalikkan badannya. Hups! Hah, mana orang yang mengikutiku tadi? Batinnya heran. Lalu dia mengedarkan pandangannya. Gelap dan tidak ada orang di situ. Adul mulai tenang. Lalu dengan perasaan agak berani, dia mengambil sandalnya yang tadi terlempar akibat jatuh. Saat memeriksa sandalnya tidak ada yang putus, dia pun melanjutkan perjalanannya. Adul tidak sadar, bahwa suara yang mengikutinya itu berasal dari sandalnya yang basah dan penuh dengan tanah di bawahnya.

    Sesaat melangkahkan kakinya lagi, suara yang membuntutinya tadi, terdengar lagi di telinganya. “Sreek! Sreek!” Mengikuti irama langkahnya. Dengan memberanikan diri, dia membalikkan badannya dan tidak nampak orang yang mengikutinya. Merasa aman. dia mencoba berjalan kembali, namun suara itu kembali mengikuti langkahnya. Dia mempercepat langkahnya dengan lari sekencang-kencangnya hingga sandal yang dipakainya putus karena tertahan tanah basah. Dia pun mencoba mengambil sandalnya kembali yang berada lima meter di belakangnya. Dengan modal nekad, dia membalikkan badannya bermaksud mengambil sandalnya. Anehnya, suara yang mengikutinya kali ini bukan dua melainkan satu, “sreek” dalam setiap langkahnya. Baru tiga langkah dia berjalan, sandalnya yang satunya lagi pun putus. Dia mengambilnya dan menyimpannya di tangan kanannya. Dia berjalan tanpa beralaskan sandal. Dia merasa aneh, karena suara yang mengikuti itu ikut menghilang bersamaan dengan sandalnya yang putus. Dengan penasaran, dia pun memakai sandal putusnya dan mencoba melangkah lagi dan suara itu pun mengikutinya lagi. “Oh…rupanya ini yang membuat gigiku patah, lututku copot, dan kedua sandalku putus!” katanya kesal sambil melepas dan membuang tanah yang menempel pada sandal putusnya.

    Setelah membuang tanah yang ada di sandalnya, Adul pun bangkit dan memungut sandal yang satunya lagi. Tak seberapa lama, Adul pun melanjutkan perjalanan pulangnya. “Duh, kenapa aku penakut banget. Padahal tidak ada apa-apa. Betul kata Ustadz Sobri, sebenarnya keadaan kita sangat bergantung pada prasangka pikiran kita sendiri. Aku terlalu banyak mengada-ada yang tidak ada!” batinnya mengutuk atas kebodohannya. Akhirnya sepanjang jalan, dia hanya tertawa-tawa geli mengingat akan ulahnya yang penakut. Mungkin jika ada orang yang mendengar ringkikan tawa Adul, mereka akan berlari tunggang-langgang dikira Adul setan gila!.

    Sejak saat itu, Adul menjadi pemberani. Kapan pun dan ke mana pun dia pergi, tidak pernah merasa takut walaupun tidak ditemani oleh seorang pun. Ternyata hantu itu tidak pernah ada! Gumamnya dalam hati.

  • Untuk Pak Guru

    Bondan sedang mengumpulkan mangga-mangga perolehannya di kebun ketika Parto mencarinya.

    ” Hai, Bondan !”, seru Parto seraya menghampirinya.

    ” Hai… Sudah siapkah kamu, To? “

    ” Tentu sudah. Saya bawa jambu”.

    ” Bagus. Sekarang bantu aku dulu mencuci mangga-mangga ini di sumur. Dan yang pecah itu bisa kamu makan.”

    Kedua sahabat itupun lalu membawanya ke sumur dan mencucinya. Ada sebelas biji mangga besar-besar dan tiga yang pecah.

    ” Nymm…. tentu Pak Joko nanti akan senang hatinya dengan buah-buah bawaan kita ini ya, Bon,” celoteh Parto sambil menyantap mangga yang telah dibubuhi garam itu.

    ” Mudah-mudahan beliau lekas sembuh, dan bisa mengajar kita lagi.”

    ” Dan mudah-mudahan juga, kelak bila kita ulangan diberi nilai delapan.”

    ” Hush, ngawur saja kamu! Itu tandanya kamu tidak ikhlas dengan apa yang kamu sampaikan padanya. Seperti pepatah: ada udang di balik batu.”

    ” He-he-he…. kalau udangnya di balik rempeyek memang aku suka, Bon.”

    Pak Joko adalah guru olah raga Bondan dan Parto. Pagi tadi beliau tidak bisa hadir di sekolah, diberitakan mengalami musibah kecelakaan lalu lintas. Tapi tidak parah. Hanya sikunya sedikit lecet, dan butuh istirahat untuk ketenangan.

    Bondan dan Parto yang tidak seberapa jauh rumahnya dengan tempat tinggal Pak Joko, hari itu telah bersepakat menjenguknya.

    Maka setelah semuanya beres di kemas, kedua sahabat itupun berangkat dengan berboncengan menaiki sepeda Parto.

    ” Aku berani bertaruh, Bon… kitalah nanti yang menjadi murid kesayangan Pak Joko. Soalnya kitalah yang mau menjenguknya.”

    ” Huh, kamu To…. To. Disayangi atau tidak itu tergantung sikapmu. Kalau kamu rajin belajar dan tidak mbolosan, tentu tak hanya Pak Joko yang sayang padamu. Tapi semua guru dan bahkan semua murid akan baik padamu.”

    Setiba di tempat kediaman Pak Joko ternyata sudah ada teman-temannya yang lain yang juga menjenguk Pak Joko. Antara lain Norman, Slamet, Ucok dan Haris.

    ” Wah, Bon, kita kedahuluan !” bisik Parto.

    ” Mangkanya…. jangan sok !”

    Bondan dan Parto diterima dengan baik oleh Pak Joko.Juga beliau mengucapkan terimakasih atas oleh-olehnya. Namun sebentar kemudian, datang lagi rombongan murid yang lain yang juga mau menjenguk Pak Joko. Di antar oleh seorang Ibu Guru, teman Pak Joko, sebagai wakil dari sekolah.

    Terpaksa Pak Joko menggelar sejumlah tikar untuk menerima kehadiran tamu-tamu kecil, muridnya itu.

    Karena, tempat duduk tidak mencukupi. Mereka semua akhirnya duduk melingkar di tikar. Semua bawaan murid-murid, sengaja ditaruh di tengah-tengah oleh Pak Joko. Persis orang mau bancaan.

    ” Sebelumnya saya panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,” demikian Pak Joko memulai sambutannya.

    ” Saya merasa, kecelakaan kecil yang menimpa saya ini, membawa berkah. Kebetulan sekali tepat hari ini adalah hari ulang tahun saya. Maka hari ini pulalah saya merayakannya dan dengan saya beri tema bah-wa-kah, yang artinya: musibah yang membawa berkah….”

    Riuh tawa memenuhi segenap ruangan. Jadinya acaranya berubah menjadi acara bahagia. Dengan hidangan yang telah di bawa sendiri oleh murid-murid itu. Maka sambil bertepuk tangan, mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk pak guru. Pak Joko, mengucapkan terimakasih kepada semuanya.

    ” Wah, Bon, ya baru kali ini aku menjumpai acara ‘bahwakah’,” ujar Parto sepulang dari menghadiri Ul-Tah pak gurunya.

    ” Itulah keberuntungan namanya…. Yang dianugerahkan Tuhan kepada orang yang mau bersyukur.”

    Oleh: Agung Semedi, guru SMKN 1 Gondang, Nganjuk

    wongagung_05 @yahoo.com

  • Mengapa Ulat Menjadi Kupu-Kupu

    Dahulu kala di sebuah taman yang kecil, hiduplah sekumpulan ulat dan juga beberapa Bunga Sepatu dan Bunga Mawar. Pada awalnya mereka semua bersahabat. Sampai suatu hari, sekuntum bunga mawar bernama Okit dengan sombongnya berkata.

    “Hei para ulat! Jangan terus memakani daun kami!”

    “Ya benar! Lihat…daun-daun kami jadi rusak, pergi kalian dari taman ini!” sahut bunga mawar lainnya.

    Ulat-ulat merasa sangat sedih. Mereka memang memakani daun-daun bunga di taman itu. Tetapi jika mereka tidak makan, tentu mereka akan mati kelaparan. Akhirnya dengan kerendahan hati mereka berniat pergi dari taman itu. Namun sekuntum bunga sepatu mencegahnya.

    “Hei, kalian jangan pergi,” kata Rena si bunga sepatu kepada ulat, “kalian boleh memakan daun kami para bunga sepatu di taman ini.”

    “Benar, kami rela membagi daun kami kepada kalian,” ucap bunga sepatu lainnya.

    Ulat sangat berterimakasih atas kebaikan bunga sepatu dan berkata.

    “Terimakasih, kalian telah menolong kami.”

    Akhirnya di taman itu bunga mawarlah yang paling indah karena daun mereka utuh. Terkadang beberapa bunga mawar mengejek bunga sepatu yang daun-daunnya bolong akibat dimakani ulat.

    Suatu ketika, seorang manusia mendatangi taman itu. Dia berkata.

    “Aku akan mengambil beberapa bunga disini. Oh tidak…bunga-bunga sepatu ini daunnya dimakani ulat. Aku ambil lima bunga mawar ini saja, daunnya masih bagus.”

    Lalu manusia itu mencabut lima bunga mawar dari taman itu dan pergi. Taman itu berduka, khususnya bunga mawar. Mereka kehilangan lima anggotanya. Sekuntum bunga sepatu tiba-tiba berbisik kepada ulat.

    “Kami harus berterimakasih kepada kalian. Kalau daun kami tidak dimakani kalian, mungkin kami juga diambil oleh manusia seperti lima bunga mawar itu.”

    Di taman itu kini hanya tersisa lima bunga mawar. Mereka berlima takut akan diambil juga oleh manusia. Akhirnya mereka menyadari kesombongannya dan berkata.

    “Kalian para ulat, kami mohon maafkanlah kesombongan kami. Kalian sekarang boleh memakan daun kami. Kami takut akan dicabut dari tanah seperti kelima saudara kami.”

    “Tapi mawar, daun itu memang milik kalian, hak kalian untuk memberikannya kepada kami atau tidak,” tukas Hili si ulat jantan.

    “Tidak ulat, sungguh kami sangat menyesal,” ucap Okit, “sudah seharusnya kami memberikan daun-daun kami untuk kalian makan. Bukankah sesama makhluk hidup kita harus saling tolong-menolong?”

    Rena si bunga sepatu menjawab.

    “Itu benar Kit. Bisa-bisa beberapa waktu kedepan bunga-bunga di sini akan habis dicabuti oleh manusia.”

    Mendengar perkataan kedua bunga itu ulat-ulat sangat terharu dan seekor ulat menjadi bersemangat untuk berkata.

    “Terima kasih para bunga, kalian sangat baik kepada kami,” teriak Hili berkaca-kaca, “kelak kami akan membalas jasa kalian!”

    Beberapa hari berlalu, setelah ulat memakan daun-daun bunga mawar dan bunga sepatu, mereka bersepuluh berubah menjadi kepompong. Dalam beberapa minggu kepompong itu menetas dan ulat-ulat itu berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Para bunga takjub melihat perubahan itu, dan salah satu dari mereka berkata.

    “Wah…kalian telah berubah wujud! Kalian kini bersayap dan indah sekali!”

    “Terima kasih, “ kata Hili yang kini telah menjadi kupu-kupu, “Sekarang kami akan memenuhi janji kami. Kami akan membalas jasa kalian.”

    Sepuluh kupu-kupu itu menolong bunga menyebarkan benihnya. Mereka menggunakan kemampuan terbangnya untuk menyebarkan benih-benih bunga mawar dan bunga sepatu secara merata di taman itu. Bunga-bunga sangat berterimakasih kepada kupu-kupu. Kini kupu-kupu tidak lagi mendapatkan daun dari bunga, tetapi madu yang sangat manis dan lebih enak daripada daun.

    Berkat pertolongan sepuluh kupu-kupu, beberapa minggu kemudian jumlah bunga di taman itu bertambah. Kini di taman itu terdapat ratusan bunga mawar dan bunga sepatu. Kehidupan di taman itu menjadi penuh dengan kebahagiaan.

    Namun di tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba seorang manusia kembali datang. Seluruh penghuni taman itu pasrah jika ada bunga yang akan dicabut lagi oleh manusia itu.

    “Kenanglah taman ini meskipun kalian dicabut olehnya!” teriak Okit kepada seluruh bunga. Perkataan Okit itu menguatkan hati para bunga untuk tetap kuat. Ketika mereka sudah siap menerima keadaan, manusia itu justru berkata.

    “Oh Tuhan, taman ini sekarang indah sekali! Bunga-bunganya jauh lebih banyak dan sekarang ada kupu-kupu yang mengitarinya. Aku akan menjaga bunga-bunga ini agar tetap tertanam dan menyiraminya setiap hari.”

    Manusia itu kemudian pergi tanpa mencabut sekuntum bunga pun. Seluruh penghuni taman itu bersorak-sorai gembira karena tidak ada yang berpisah. Seluruh bunga mawar, bunga sepatu, dan kupu-kupu kini hidup bahagia. Sampai saat ini, itulah alasan mengapa kupu-kupu mau membantu menyebarkan benih bunga, yaitu untuk membalas jasa bunga yang telah memberi mereka daun.

    Meidy Kautsar

  • Ayah Si Buruk Rupa

    Selama ini aku selalu berhasil melarang Ayah datang ke sekolah: mengantar, menjemput, atau untuk keperluan lain. Tentu saja aku tidak terang-terangan melarang. Aku punya cara supaya Ayah tidak merasa aku larang ke sekolah. Seperti musim pengambilan rapor kemarin dulu, misalnya.

    “Ibu saja yang mengambil rapor, Yah. Ayah ‘kan capek,” kataku ketika itu.

    “Tapi besok ‘kan Sabtu. Ayah libur, tidak ke mana-mana.”

    “Setiap hari Ayah ‘kan kerja, cuma libur hari Sabtu dan Minggu. Jadi, Sabtu dan Minggu jatah Ayah duduk manis di rumah, baca-baca, nonton tivi, atau siram-siram bunga. Tenang saja, Yah. Dijamin, pokoknya raporku keren,” kataku mencoba ‘melarang’ Ayah ke sekolah.

    “Oke, deh,” jawab Ayah dengan gayanya yang khas.

    “Yes!” aku berteriak –dalam hati, tapi– sambil mengepalkan tangan.

    Kadang-kadang aku suka merasa berdosa karena sering menghalang-halangi Ayah ke sekolah. Habis, aku harus bagaimana. Kalau Ayah ke sekolah, semua temanku akan tahu penampilan ayahku tidak cool seperti ayah mereka. Bukan karena tidak bisa berdandan, tapi karena Ayah memang tidak menarik, baik wajah maupun postur tubuhnya. Sudah tidak tampan, kurus pula.

    Aku tak habis pikir, bagaimana Ibu yang begitu cantik mau menikah dengan Ayah yang … ah, tidak tega aku menyebutnya. Ayah dan Ibu memang sungguh berbeda. Seperti langit dan comberan, begitu istilah Ayah setiap mengatakan perbedaan dirinya dan Ibu –tentu saja dengan nada bercanda. Langit dan bumi saja sudah jauh, apalagi dibandingkan dengan comberan –yang letaknya tentu lebih rendah dari permukaan bumi.

    Kulit Ibu putih, bersih, tidak ada noda sedikit pun. Ibaratnya, kalau Ibu minum kopi, kopinya akan kelihatan meluncur dari mulut ke perut lewat lehernya yang indah itu. Sebaliknya, kulit Ayah hitam. Sudah hitam, banyak pulaunya.

    “Yang ini bekas jatuh waktu mengejar layangan, yang ini diseruduk sepeda, yang ini kena petasan, yang ini disosor bebek, yang ini…” kata Ayah menunjuk peta pulau di kakinya dan menjelaskan bagaimana pulau-pulau itu didapat.

    Ayah menjelaskan itu dengan riang gembira. Seolah-olah pulau-pulau di kakinya adalah sesuatu yang indah dan harus dibanggakan.

    “Ayah norak, ih!”

    Ayah malah tertawa. Sebelnya, Ibu juga ikut tertawa.

    “Tahu tidak, selain kaki dengan pulau seribu ini, Ayah juga punya karunia lain yang sangat besar dari Tuhan. Karunia itu adalah wajah dan kulit Ayah.”

    Mulutku menganga, mataku melotot. Tapi Ayah malah tertawa berderai.

    “Kamu tahu apa maksud Ayah?” tanya Ibu ikut campur.

    Aku menggeleng. Dengan gaya dibuat-buat, Ayah menjelaskan.

    “Wajah Ayah adalah pemberian Tuhan. Ayah sudah seperti ini sejak bayi. Memang, Ayah bisa operasi plastik supaya wajah ini kelihatan tampan. Sayangnya Ayah tidak kaya. Seandainya kaya pun, Ayah tak mau operasi plastik. Lebih baik wajah Ayah tetap seperti ini daripada Ayah harus mengumpulkan ember dan tas kresek bekas dan membawanya ke dokter untuk modal operasi wajah Ayah. Jangan-jangan plastik-plastik bekas tadi akan meleleh kalau kena matahari. Hiii, seraam…”

    Ayah dan Ibu tertawa. Menyebalkan. Huh!

    “Kalau Ayah tidak boleh kena matahari, bagaimana kita bisa hidup. Ayah ‘kan tukang pos. Setiap hari harus berpanas-panas ke sana-kemari mengantar surat. Dari kerja itulah Ayah mendapat uang yang kita pakai untuk macam-macam: mulai dari makan sehari-hari, beli pakaian, bayar listrik, bayar sekolah, dan masih banyak lagi…” ujar Ibu melanjutkan.

    Deg! Aku merasa nafasku sesak. Dan mataku terasa panas.Tiba-tiba begitu saja aku menubruk Ayah, memeluk, dan menciuminya.Di sela-sela tangis, aku cuma bisa berkata:

    “Maafkan Cantika, Ayah…”

    Ya, Ibu benar. Setiap hari Ayah berpanas-panas mengantar surat. Meskipun sudah ditutupi jaket, tetap saja kulit Ayah hitam. Dari kulit yang hitam terbakar matahari itu entah berapa liter keringat yang mengucur. Keringat itulah yang membuat aku bisa terus sekolah. Lalu, apa alasanku untuk tidak membanggakan orang itu, ayahku sendiri, yang telah bekerja keras demi aku, anaknya.

    “Lho, lho, lho, ada apa ini?” kata Ayah sambil menerima pelukanku.

    “Cantika, Cantika… Ayah bangga bisa berkumpul dengan kalian, bidadari-bidadari yang cantik. Ini anugerah Tuhan yang sangat besar. Tuhan sudah mengatur semuanya. Ayah yang buruk rupa ini bersanding dengan ibumu yang manis-ayu-cantik jelita. Kalau dua-duanya buruk rupa, ho ho ho, bagaimana Ayah bisa memperbaiki keturunan. Salah-salah wajah kamu bisa kotak-kotak…”

    (Prih Suharto)

    prih_suharto @yahoo .com