Hidung Babi

Di sebuah hutan tinggallah seekor anak babi. Layaknya babi-babi pada umumnya, ia memiliki badan yang bulet gemuk kulit berwarna keputihan dan hidung bulet seperti kaleng. Setiap kali bermain-main dengan anak binatang lain, si babi kecil ini selalu diejek temannya dan dipanggil dengan sebutan si hidung kaleng. Babi ini sangat sedih dan kecewa dengan ejekan temannya itu. “Tuhan, kenapa aku lahir sebagai babi, sehingga aku memiliki hidung yang jelek ini.” Kata si babi kecil dalam hatinya.

Hidung Babi

Suatu sore ketika babi kecil ini sedang minum di sungai tiba-tiba terdengar suara dari seberang sungai, “Hoeekk … teman-teman, jangan minum dari sungai ini karena sungai ini sudah tercemar hidung jelek babi itu.” Kata seekor anak rusa kepada teman-temannya sambil berlari meninggalkan sungai.

Hiks … hiks … si babi kecil ini menangis karena sedih. Dan masuk ke hutan sambil terus berkata, “aku tidak mau hidung jelek ini …” sambil memukul-mukul hidungnya.

Sampai di tengah hutan si babi kecil ini dilihat oleh seekor monyet bijaksana yang dikenal sebagai sesepuh hutan. Si monyet sesepuh itu langsung menghampiri si babi kecil itu.

“Ada apa dengan hidungmu??” tanya si monyet pada si babi kecil yang matanya memerah karena menagis dan hidungnya membiru karena dia pukuli sendiri.

“Tuan monyet, aku tidak mau hidung jelek ini, maukah kamu membantuku mengambil hidung jelek ini dari wajahku?” Jawab si babi kecil.

“Hey hey … “ kata si monyet. “Babi kecil, kamu memiliki kulit yang putih bersih nan indah, juga badan yang gemuk, bukankah itu bagus.”

“Ya benar, kulit dan badanku yang gemuk ini memang bagus, tapi aku punya hidung yang jelek. Aku tidak mau hidung ini.” Kata si babi kecil.

“Nak, kamu tahu, dibandingkan badan gemuk dan kulit putihmu yang indah itu, sebenarnya hidung yang katamu jelek itu adalah yang paling berguna bagi hidupmu.” Kata si monyet. “Jika kamu tidak punya hidung, maka kamu tidak akan bisa bernafas dan meskipun kamu makan banyak sehingga badanmu gemuk dan kulitmu sangat indah karena kamu madikan terus kamu akan mati. Dengan kata lain, hidungmu itulah yang membuat kamu bisa hidup.”

“Benarkah??” kata si babi kecil.

“Kau mau coba kuambil hidungmu itu?? Tapi jika nanti kamu mati jangan salahkan aku.” Kata si monyet.

Si babi kecil menggelengkan kepala.

Si monyet melanjutkan kata-katanya, “berbanggalah karena kamu mempunyai hidung seperti itu. Badan yang gemuk juga dimiliki oleh banyak binatang, demikian juga kulit putih bersih banyak binatang memilikinya. Akan tetapi hidung seperti kaleng, hanya kamu, si babi yang punya. Kasihan hidungmu yang berharga itu jika kamu pukuli terus. Mulai saat ini janjilah untuk menyayangi hidung kalengmu itu.”

Si Babi menganggukkan kepala dengan lantang dan mulai tersenyum.

Dan sejak saat itu, jika ia diejek hidungnya dan dipanggil dengan sebutan hidung kaleng si babi kecil ini selalu tersenyum dan mengatakan “terima kasih.”

Yunarvian yunarviantp @ymail.com