Tag: Marmini Estiningsih

  • Petualangan Aira

    “Halo, selamat pagi!“

    Sang mentari menyapa dengan ramah. Sinarnya yang keemasan perlahan-lahan mulai mengelus wajah bumi. Penghuni bumi mulai merasakan kehangatannya.

    “Ah…… segarnya pagi ini.” Aira terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri –seri.

    “Selamat pagi Embuni! Selamat pagi Kupu-kupu“, sapanya dengan ramah.

    Aira adalah setetes air. Ia bertengger di atas sehelai daun melati.

    “Aira, hari ini kamu lebih cerah dari biasanya,” kata Kupu-kupu.

    “Apakah kesedihanmu sudah hilang? Apa obatnya?“ Tanya Embuni.

    “Aku tidak bersedih lagi. Hari ini Ibu akan mengajakku untuk melihat dunia dan menunjukkan kepadaku betapa berartinya aku.”

    Kemarin, Aira bersedih. Ia merasa tidak berarti. Ia tidak seperti Lebah yang menghasilkan madu.. Ia tidak bisa terbang. Ia juga tidak seperti bunga yang berbau harum. Ia hanyalah setetes air yang akan lenyap bila terkena panas matahari. Hal inilah yang mengganggu pikirannya berhari – hari, sehingga ia selalu nampak murung. Namun, hari ini ia gembira karena ibunya akan mengajaknya memulai petualangan baru.

    “Kapan kita mulai berpetualang, Bu?” tanyanya tak sabar kepada Ibunya.

    “Sebentar lagi. Kita tunggu sampai sinar matahari mengenai tubuhmu.“ “Tapi Bu, Bukankah tubuh kita bila kena sinar matahari akan lenyap? Lalu…..?”

    “Sabarlah! Nanti akan ibu ceritakan“ kata Ibunya dengan senyum penuh arti.

    Saat yang dinantikan tiba. Perlahan sinar Sang Surya mulai menyentuh tubuh Aira. Aneh! Tubuhnya terasa sangat ringan!

    “Ibu, mengapa tubuhku sangat ringan?“

    “Anakku, karena terkena panas tubuh kita berubah bentuk menjadi uap air. Coba rasakan! Tubuhmu ringan bukan?”

    “Betul, Bu! Hei, lihat aku terbang! Aku melayang“ Aira berteriak kegirangan. Ia tidak pernah membayangkan bisa terbang seperti kupu-kupu.

    “Tubuhmu melayang karena terbawa angin“ Aira merasakan tubuhnya semakin ringan dan melayang. Semakin tinggi dan tinggi.

    “Ibu, kita akan kemana?“

    “Anakku, kau lihat gumpalan awan putih itu?”

    “Yang seperti kapas, Bu? Wow, indah sekali!”

    “Mereka adalah sekumpulan saudara-saudaramu. Ke sanalah kita akan bergabung“ Dengan senang hati Aira mengikuti Ibunya bergabung dengan saudara-saudaranya lain. membentuk awan putih. Tak henti-hentinya ia menyanyi.

    Kemudian bersama-sama saudaranya yang lain Aira melanjutkan perjalanan. Mereka melayari langit biru, melintasi puncak gunung dan bukit. Dari ketinggian angkasa Aira menyaksikan bumi yang elok mempesona. Sawah menghijau seperti hamparan permadani berlapis berlian yang berkilau. Sungai meliuk –liuk seperti ular. Ketika mereka berada di atas gunung, Aira merasakan gumpalan itu semakin berat. Aira kedinginan karena angin bertiup kencang. Awan berubah menjadi hitam.

    “Ibu, aku takut!“

    “Tenang, anakku! Sebentar lagi kita akan turun membasahi bumi.”

    “Bagaimana caranya?

    “ Angin kencang akan menerbangkan kita. Kemudian kita semua akan turun serempak. Manusia menamai kita hujan“ Belum selesai Ibunya berbicara, mereka dengan cepat dan serempak turun di bumi.

    “Wow, asyik Bu! Seperti main dengan papan luncur,” Aira tertawa kegirangan. Wajahnya bertambah ceria ketika melihat Pak Tani menyambut kedatangan hujan dengan gembira. Rupanya kedatangan mereka sudah dinantikan. Aira mendengar mereka berkata:

    “Hujan turun. Sudah tiba saatnya bagi kita untuk menanam.”

    “Ya, dengan turunnya hujan sawah kita tidak kering lagi.”

    Aira senang mendengar perkataan itu. Rupanya dirinya dapat menyuburkan tanah Pak Tani.

    Perjalanan Aira berlanjut. Kali ini ia tiba di atas rumah yang mungil. Seorang anak perempuan berteriak, “Mama,hujan turun. Tidak lama lagi bunga – bunga kita akan mekar!“ suara itu terdengar ketika Aira berada di atas tanah.

    Dengan tersenyum Aira merasakan kegembiraaan anak itu. Sebelum meresap ke dalam tanah sekali lagi ia menatap wajah anak itu. Wajah anak perempuan itu berseri ketika mengamati bunga-bunga di taman yang baru kuncup.

    Tidak lama kemudian Aira melewati lorong yang gelap dan lembek.

    “Bu, tempat apa ini?“

    “Anakku, kita meresap ke dalam tanah. Sebentar lagi kita akan keluar dan menjadi mata air.”

    Aira mengikuti rombongan ibunya dengan seribu pertanyaan. Pengalaman apa lagi yang ia alami?

    Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Aira melihat setitik cahaya. Ia dan keluarganya menuju ke arah cahaya itu. Tak lama kemudian mereka menerobos cahaya dan hei.. apakah itu? Aira heran karena setelah keluar dari tanah mereka berkumpul dengan rombongan air lainnya. Mereka sangat banyak dan menempati kolam yang sangat luas dan panjang serta berkelok-kelok.

    “Aira, disinilah keluarga kita, keluarga air, bertemu. Ini adalah sungai.”

    “Apakah keluarga kita disini semua, Bu? Perjalanan berhenti sampai disini?”

    “Tidak, anakku. Keluarga besar kita berpencar. Ada yang di sumur, ada yang di danau dan di tempat lainnya. Mari kita lanjutkan petualangan kita“ Aira melanjutkan petualangannya. Ia menjadi air sungai. Mengalir menuruni punggung gunung. Ia rasakan hawa sejuk pegunungan. Ia rasakan kecipak air akibat gerakan ikan-ikan yang berenang disekitarnya. Ia rasakan kaki-kaki anak kecil yang berenang dan mandi dengan airnya. Ia dengarkan sendau gurau para ibu yang mencuci sayuran di atas permukaannya. Wah, banyak lagi yang ia rasakan dan saksikan! Betapa bahagianya Aira!

    “Ibu, aku sangat senang sekarang. Ternyata aku sangat berarti. Banyak orang yang membutuhkan kehadiranku.”

    “Syukurlah, anakku. Jadi mulai saat ini janganlah berkecil hati. Sekecil apapun kita, selemah apapun kita, kita masih dapat berguna bagi orang lain, selama kita melakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh.“ “Terimakasih, Ibu. Banyak pengalaman dan pelajaran yang kuterima hari ini! “Dengan sukacita Aira melanjutkan perjalanan hidupnya.

    Teman – teman ingin bertemu dan berkenalan dengan Aira? Bangunlah pagi-pagi dan temukanlah ia di balik dedaunan! Mungkin ia disana. Atau mungkin ia mengalir dengan riang di sepanjang sungai yang mengalir di belakang rumahmu. Sampaikan salam padanya dan jangan lupa berilah ucapan terimakasih kepadanya karena sudah menghidupi bumi. Berjanjilah untuk tetap menjaga kelestarian alam yang sangat dicintainya. Niscaya, ia akan menyambutmu dengan senyum yang paling cantik. Dan ia merasa berbahagia.

    Oleh: Marmini Estiningsih mar_minik @yahoo .com

  • Perjalanan Antar Waktu

    BRAKKK !

    Benturan yang keras membuatku pingsan. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Sepasang tangan yang kuat dan kasar membangunkanku.

    “ Hai, bangun gembel! Jangan tidur disini! “
    Aku kaget. Ketika kubuka mataku, di depanku kulihat seorang laki-laki kekar dengan wajah beringas.

    “ Bapak si…sia…pa ?”tanyaku terbata-bata. Aku ketakutan.
    “ Ha…ha…ha! Jangan berlagak pilon.Pura-pura bodoh! Bukankah aku bosmu? “
    ‘” Bos apa? Saya sama sekali tidak mengerti.”
    “ Dasar bego! Cepat berikan seluruh hasil mengemismu hari ini?!”

    Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud bapak tadi. Mengemis? Aku pengemis? Tidak mungkin. Ayahku pengusaha terkaya di kotaku.

    “Ayo,cepat! Kalau kamu tidak menyerahkan penghasilanmu hari ini, aku akan mengurungmu di ruang bawah tanah.”

    Dengan menggigil ketakutan ,kukorek-korek seluruh isi saku celanaku.
    Heran! Biasanya banyak uang di dalam sakuku. Namun, kali ini seratus rupiahpun tidak kutemukan. Aku kebingungan.

    “Maaf, Pak! Aku tidak membawa uang. Tapi, kalau Bapak ingin meminta uang mintalah pada Ayahku. Beliau pengusaha kaya di kota ini. Tapi, tolong bebaskan saya!”
    “Ha..ha…ha ! “ laki –laki itu tertawa semakin keras.
    “Jangan membodohi aku. Pengemis seperti kamu tidak mungin berasal dari keluarga yang kaya . Bohong! “laki-laki itu terus saja marah –marah. Dengan tubuhnya yang kekar ia menyeretku.

    Sampailah aku di ruang bawah tanah. Gelap, pengap dan lembab. Rasanya aku tidak asing dengan ruangan ini. Aku ingat sekarang! Bukankah ini gudang tempat aku biasa berkumpul dengan gengku? Mana Odi? Mana Theo? Ian?Aku ingat tadi siang aku bermain dengan mereka.

    Ya, ya aku ingat! Aku tadi merencanakan ide hebat bersama teman-temanku. Kami sepakat akan menggasak rambutan yang ada di pohon Pak Sukri. Kami juga berencana akan mengempesi sepeda Pak Guru. Tapi mengapa aku sendirian? Mana yang lain?

    Sepi rasanya tanpa kehadiran sahabat-sahabatku. Kami adalah tim yang kompak. Di sekolah kami ditakuti teman-teman. Mereka tidak berani menegur kami bila kami berbuat iseng kepada mereka. Kami adalah jagoan. Bagi kami, dihukum karena tidak membuat PR hal yang biasa. Dimarahi Pak guru? Cuek aja. Nilai ulangan jelek? Tidak masalah.Toh, orang tua kami kaya. Buat apa bersusah payah sekolah?

    Aku heran dengan keadaan ini. Ketika aku sedang bingung, tanpa sengaja kulihat sebuah cermin tergantung di tembok. Perlahan kudekati. Aku ingin melihat luka bekas tamparan di wajahku.

    “ Ahhhhh! “Aku menjerit sekuat-kuatnya. Wajah siapakah yang ada di cermin tadi? Dekil, kumal , kotor dan beringas.

    Sekali lagi kupandang cermin itu. Yang kulihat wajah yang sama. Dengan perasaan takut kuamati wajah dalam cermin. Seperti wajahku tetapi lebih tua. Mungkin berumur 30 tahun. Kuusap daguku, bayangan dalam cerminpun melakukan hal yang sama. Kuusap rambutku, kuucek mataku. Ya,Tuhan! Itu aku! Bagaimana mungkin aku setua itu? Umurku baru 10 tahun. Aku tadi pagi masih sekolah. Siang hari aku bermain dengan teman-temanku. Apa yang terjadi?

    Aku mulai panik. Aku berteriak. Pintu kugedor-gedor.

    “Tolong! Tolong! Bukakan pintu!! “ Brak! Brak! Brak! Dengan sekuat tenaga kugedor-gedor pintu. Tidak ada orang yang mendengarku. Tanganku sampai memerah. Aku lelah. Aku menangis. Putus asa.

    Tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Seorang laki-laki berwajah bersih menghampiriku.

    “ Kamu siapa? “ tanyaku sambil mengingat, sepertinya aku kenal dia.
    “ Rino, apakah kamu tidak mengenalku? “ katanya sambil menyodorkan minuman.
    “Aku Dio.”

    Dio. Aku ingat sekarang. Dialah yang paling sering menjadi korban keisenganku.

    “ Dio, aku malu. Aku jahat kepadamu tetapi engkau baik kepadaku.”
    “ Rino, kita sekarang sudah dewasa. Bukan kanak-kanak lagi. Umur ku sekarang 35 tahun “
    “ Tidak mungkin. Kemarin aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke sepuluh. Kamu bohong! “
    “ Tidak ,Rino! Itu sudah dua puluh lima tahun yang lalu. “

    Aku menggelengkan kepala. Benar-benar pusing. Kemudian Dio mengajakku ke luar dan mendudukkan aku di kursi.

    “ Lihat kalender itu! “ Dio menunjukkan kepadaku sebuah kalender dan membuat aku terlonjak! Tahun 2034. Bagaimana mungkin aku bisa melompati waku 25 tahun. Tadi siang tahun 2009 dan sekarang 2034 ?

    Kemudian Dio memberiku surat kabar. Ya, tahun 2034! Televisi yang menyiarkan berita pun menyatakan hal yang sama.

    “ Dio, bisakah kau menceritakan hal yang terjadi?”
    “ Ya, kamu terlempar ke masa depan. Inilah hidupmu. Lihat keadaanmu! “
    “Aku jadi pengemis, padahal orang tuaku sangat kaya. Dimana mereka? Bagaimana nasib ayah dan ibuku? “
    “ Orang tuamu masih hidup. Mereka jatuh miskin dan sakit-sakitan.”
    “Mengapa? “
    “Bacalah kisah ini!”

    Kubaca majalah yang disodorkan Dio. Di majalah itu dikisahkan riwayat seorang pengusaha kaya yang jatuh miskin karena ulah anaknya. Rupanya ketika berusia 25 tahun aku diminta ayahku untuk memimpin perusahaan. Ayahku sudah tua, ibu sakit-sakitan. Aku anak tunggal. Aku tumpuan hidup satu-satunya.

    Dengan setengah hati aku menerima tugas dari ayahku. Namun karena aku bodoh perusahaan yang kupimpin bangkrut. Aku malas bekerja. Hidupku hanya untuk berfoya-foya. Kemudian ayahku jatuh miskin.

    Aku menyesal dan malu. Aku lari dari rumah. Karena tidak memiliki kepandaian dan ketrampilan akhirnya tidak ada orang yang menerimaku bekerja. Akhirnya aku menjadi pengemis.

    Inikah hidupku? Tidak! Aku tidak mau seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Aku tahu. Aku harus kembali ke tahun 2009. Aku harus merubah hidupku.

    Aku ingat sesuatu! Aku segera lari ke gudang bawah tanah. Cermin! Ya,aku harus ke cermin. Cermin itulah yang menyedotku ketika aku di gudang tadi siang. Cermin itu yang melontarkanku ke tahun 2034. Bersyukurlah aku cermin itu masih ada.

    Segera kudekati. Kedua telapak tanganku kuletakkan di atasnya. Aku berdoa kepada Tuhan .Mohon ampun atas kenakalan yang kulakukan. Aku juga berjanji akan memperbaiki hidupku. Aku akan rajin belajar dan patuh pada nasehat orang tuaku. Aku juga akan menjadi anak yang baik.

    Selesai aku berdoa, aku merasakan kekuatan yang dasyat menarikku. Memutar-mutar tubuhku, melewati lorong yang sangat panjang. Dan..Brak! Aku terlontar dan jatuh di belakang rumahku.

    “ Rino,kamu kemana saja? Dari tadi aku mencarimu! “ Odi menanyaiku.
    “Tidur di gudang “ kataku . Aku senang telah kembali ke masa kanak-kanakku.

    Aku segera berlari .” Rino, tunggu, mau kemana?”

    “ Ke rumah Dio. Aku mau berterimakasih kepadanya.”
    “ Buat apa menemui anak bloon itu? “
    “ Ceritanya panjang kamu pasti tidak percaya.”

    Odi terus mengejarku,” Rencana kita jadi kan malam ini? Itu pesta rambutan dari pohon Pak Sukri?”

    “ Batal!”
    “ Nggembosin sepeda Pak Udin?’
    “ Batal! “

    Aku terus berlari. Aku mengejar waktu. Banyak hal yang harus kulakukan hari ini. Yang pasti mulai sekarang tidak akan kusia-siakan hidupku. Hidup dan waktuku adalah untuk belajar, berbuat baik dan menyengangkan orang tuaku dengan prestasi dan perbuatanku. Mampukah aku? Doakan aku ya, teman-teman!

    Marmini Estiningsih