Tag: Rahmadani Dewi S

  • Ulang Tahun Pak Anto

    Udara pedesaan yang segar dan sejuk. Burung-burung kecil bernyayian dengan merdu. Ku tarik selimutku lebih panjang agar menutupi badanku yang menggigil kedinginan. Tiba-tiba Bunda datang dan langsung membuka kaca jendela kamarku, angin semilir mulai memasuki setiap sudut kamarku. “ Tata, ayo bangun sudah jam setengah lima, nih!” ajak Bunda. “ Hem,” Tata menguap lebar.

    “Selamat Pagi Bunda, Tata berangkat dulu!” salam Tata kepada Bunda. “ Hati-hati,ya!” ucap Bunda. Tata berjalan menuju gerbang depan rumahnya, “ Ayo!” ajak Fania, kakak Tata. “ Oke!” Tata mengacungkan jempolnya. Lima belas menit, mobil Tata sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah, SDN Lempuyangwangi, Yogyakarta.

    Istirahat pertama, “Oke, teman-teman kita mengadakan iuran buat memperingati ulang tahun Pak Anto, siapa yang setuju?” ajak Pandu, ketua kelas 6a. Semua anak termasuk Tata menggangkat tangan tanda setuju. “ Iuran seikhlasnya paling lambat besok Senin,” tambah Pandu.
    Anak-anak kelas 6a mulai menyusun strategi, ada yang usul kita membuat Pak Anto jengkel, membuat hiasan mewah, dan lain-lain. Nah, biar adil di adakan voting, ternyata paling banyak adalah usul membuat Pak Anto jengkel. Bel istirahat berbunyi, anak-anak kembali belajar.

    Selasa, anak-anak kelas 6a berolahraga, tas-tas mereka harus di taruh di depan kelas karena kelas mereka di gunakan untuk foto ijazah. Giliran anak kelas 6a mereka langsung berganti pakaian seragam rapi. Setelah selesai, mereka berunding hadiah apa yang cocok untuk Pak Anto, uang yang terkumpul Rp150.000,00 untuk membeli cake Rp70.000,00 sisanya untuk membeli kado. Tata yang di tugaskan untuk membeli kado.

    Hari Rabu, Ulang tahun Pak Anto, Tata, Pandu, Dewi, Fista, Tresti, Thysa, dan Indra menghias cake dengan lilin-lilin kecil di sepanjang tepi cake. Untung pas sekali pelajaran pertama selama dua jam pelajaran Pak Anto. Pelajaran berlangsung, anak-anak mulai gaduh, ada yang lempar-lemparan kertas, bernyanyi-nyanyi. Pak Anto pun marah. Anak-anak kelas 6a semua di suruh berdiri di bawah tiang bendera dengan terik matahari yang panas. “ Aduh, gimana nih?” tanya Pandu. “ Em, mendingan kita ambil cake-nya sekarang,” usul Tata. Tata dan Fista mengambil cake di kantin, Fista yang membawa, ternyata dari belakang Pak Anto mengikuti Tata dan Fista, Fista berbalik ke belakang dan terkejut sehingga cake untuk Pak Anto terjatuh, terlihat dari balik kacamata bening, air mata terbendung di kelopak mata Pak Anto dan mengalir di kanan-kiri pipi beliau. Kami semua ikut menangis tersedu-sedu.

    Rahmadani Dewi S

    cuii_noxxy @yahoo .co .id

  • Sassy dan Boneka Gembala

    Lagi-lagi Sassy ngambek. Apa penyebabnya? Dua hari lalu, Sassy merengek kepada Mamanya untuk di belikan Boneka Lucu. Tetapi, Mama Sassy tidak mengizinkannya sebab Mama ingin Sassy supaya menghargai semua barangnya. “Aduh, Ma, bonekanya lucu, banget!” rengek Sassy. Papa Sassy hanya bisa mengelengkan kepala.

    Sassy menuju kamarnya dengan wajah cemberut. “Huh, Mama pelit!” batin Sassy. Ia mengurung dirinya di dalam kamar terkunci. Di pandangnya semua tumpukan boneka. Sassy lalu mengambil sebuah boneka barbie yang sudah acak-acakan. “Ihhhhh,” seru Sassy dan membuang boneka itu di lantai. “Aku tidak butuh kalian, hanya memenuhi kamarku,” dengus kesal Sassy kepada bonekanya.

    Tanggal 20 Mei, Sassy berulang tahun, Papa dan Mama sengaja tidak merayakan hari ulang tahunnya. Sebab Mama akan membelikan boneka yang di idam-idamakan Sassy sejak satu minggu lalu. Lalu, Mama meletakannya di depan pintu kamar Sassy. Tiba-tiba Sassy membuka pintu kamarnya dan ia berseru. “Hore, makasih Ma,Pa!”ucap Sassy manis.

    Satu bulan berlalu, Sassy mulai merengek kepada Mama. “ Ma, mainan itu lucu sekali,aku ingin!” rengek Sassy. Mama hanya mengelengkan kepala. “Kamu kan masih mempunyai boneka cantik itu!” ucap Mama. “Tapi,Ma…” kata Sassy lalu di potong Mama, “Tidak ada tapi-tapian!” ucap Mama lembut.

    Sassy mengurung diri di kamarnya dan tertidur. Tepat jam dua belas malam, kaca jendela kamar Sassy berdecit. Tiba-tiba ada sesosok bayangan, kecil, bertopi dengan rambut keriting ikat dua, memakai sweater dan rok tambal-tambal. Boneka Gembala!!!!. “Sassy jangan kau pukuli aku dan kau buang aku sia-sia di lantai!” ucap Boneka Gembala. “Sassy, sayangilah boneka-bonekamu, mereka juga mempunyai hati!” kata Boneka Gembala lirih. Sassy terbangun dan kaget. “Siapa kamu?” tanya Sassy. “Aku Boneka Gembala!”. “Tidak mungkin!Tolong!!!!!” teriak Sassy. Boneka Gembala diam.

    Sejak kejadian itu Sassy selalu merawat bonekanya. Jika berlubang akan dia jahit dengan benang wol dan kain yang bagus. Dan sejak malam itu, Boneka Gembala selalu tersenyum dalam dekapan Sassy.

    Rahmadani Dewi S

    cuii_noxxy @yahoo .co .id

  • My Super Dad!

    Bangun pukul 05.00, sarapan pagi pukul 06.00, berangkat sekolah pukul 06.15. Huh, semua pasti harus tepat waktu. Jika terlambat sedikit pun, Dira bisa mendapat hukuman dari sang Papa. Ini itu harus di penuhi. “Seperti robot saja,” batin Dira. Apalagi saat pulang sekolah, ada berpuluh-puluh panggilan masuk dari Papa di ponsel Dira. Dira hanya mengeluh, “Ya, ampun!”. Papa selalu menanyakan keadaan Dira setiap menit, bahkan setiap detik tiap kali Dira bernapas.

    Dira menghempaskan badannya ke tempat tidur sambil menghela napas, “Huh, sebel!Kenapa Mama pakai acara tugas ke Bali satu bulan!” jerit Dira. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui Dira sedang kesal, karena tidak ada siapa-siapa di rumah Dira. Hanya Dira seorang.

    Sudah dua minggu Dira berdua di rumah bersama Papa dan dua minggu pula Dira mendapat latihan militer dari Papa. Saatnya makan malam, Papa yang memasak sendiri untuk Dira. Tetapi, hati Dira juga luluh saat Papa membuatkan masakan untuknya. Padahal Papa dulu tidak pernah kursus memasak. Tapi, sebelum tidur Dira pasti di paksa Papa untuk mendengarkan cerita masa kanak-kanak Papa yang bila di ceritakan tidak akan selesai semalam. Dira berdoa agar secepatnya tidur malam dan Mama cepatlah pulang! bisik Dira dalam hati.

    Minggu pagi, Dira di bangunkan Papa tepat pukul 5 pagi. Dira menurut saja, mereka shalat berjama’ah dan jogging mengitari taman kota. Cukup setengah jam, mereka sudah kembali ke rumah. Dira tampak kelaparan, Papa langsung mengerti, “Ayo, kita memasak nasi goreng spesial!” ajak Papa. Dira hanya terbengong-bengong sambil mengikuti Papa dari belakang. Dalam hati Dira menggerutu terus.

    Dira kebagian membuat telur orak-arik. Dira hanya meringis. Lalu, Papa mengajarkan Dira memcah telur yang benar. “Ambil sendok, pukulkan ke dasar telur, cepat-cepat masukan ke dalam wajan!Mengerti?” tanya Papa.

    Dira mengangguk cepat. “Hebat juga Papa!” puji Dira dalam hati. Ugh, tapi…enggak jadi hebat suka marah-marah. Hihihi… Akhirnya selesai, saat duduk di meja makan Papa bercerita tentang masa kanak-kanaknya. Papa di tinggal nenek bekerja jadi Papa sering di rumah sendiri sehingga juga sering masak dan di latih kakek keras agar menjadi anak yang disiplin. Dira mengangguk-angguk, “My Super Dad!” ucap Dira. Papa tertawa sambil mengusap kepala Dira gemas.

    Rahmadani Dewi S [cuii_noxxy@ yahoo .co .id]