Tag: Santi Nuur P

  • Maafkan aku, Sara…

    Sara dan Sari adalah sahabat karib. Keduanya berteman sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Sara berambut sebahu. Warnanya hitam legam selalu diikat. Kulitnya sawo matang dan matanya bulat.
    Rambut Sari pendek lurus. Kulitnya putih bersih. Ada tahi lalat di ujung hidungnya yang mancung. Sara hobi membaca sementara Sari gemar memasak. Keduanya sama-sama suka membantu Ibu.
    “Hari Minggu besok kita libur. Kamu mau pergi ke mana Ra?” tanya Sari sepulang sekolah. Sara menggeleng, “Gak ke mana-mana Ri. Paling-paling baca buku. Kamu?” Sara balik bertanya.
    “Sama Ra. Aku bantu Ibu bikin kue. Kamu kenal Tante Arin kan? Tetangga sebelahku. Tante Arin pesan kue. Banyak lagi…”
    “Oooo…” mulut Sara membulat.
    “Ya sudah, sampai ketemu ya.” Sari melambaikan tangan.
    “Minggu pagi kutunggu kamu ke rumah ya!” teriak Sara.
    “Yaaaa….” Sari berlari ke halaman rumahnya tanpa menoleh.
    Sara tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Ia melangkah sendirian. Sampai di pertigaan, Sara belok ke kanan dan sampailah ia di kediamannya yang terletak paling ujung.
    “Assalamu alaikum?” suara Sara muncul di muka pintu.
    “Waalaikum salam… sudah pulang Ra?” sambut Mama di muka pintu.
    Sara mencium tangan Mama dan selalu Mama membalas dengan pelukan.
    “Iya Ma. Besuk kita di rumah saja kan Ma?” Sara melepas kaos kaki.
    “Iya sayang. Kita di rumah, Papa tidak libur.” jawab Mama di ruang makan.
    Sementara Sari di rumahnya juga melakukan hal yang sama. Kadang-kadang waktu istirahat dipakai untuk mengerjakan tugas sekolah. Siang itu Sari menghabiskan waktu istirahatnya bersama Bunda. Mereka menyiapkan bahan-bahan kue. Telur ayam, tepung terigu, mentega, gula ditimbang bergantian. Tidak heran jika Sari mulai terampil memasak kue. Bahkan kadang-kadang ia bisa mengolah makanan kecil tanpa bantuan Bunda. Hebat ya…
    Bedug Maghrib baru saja berkumandang. Bunda dibantu Sari mengantar kue pesanan Tante Arin. Rumah Tante Arin cukup ramai. Rupanya banyak saudara berkumpul di sana. Setelah menyerahkan kue dan mengobrol sebentar, Bunda dan Sari berpamitan.
    Tak jauh dari tempat Sari, Sara tengah berkreasi membuat jepit dari sedotan plastik. Cantik dan imut. Cara membentuk jepit ia dapatkan dari majalah yang baru saja dibelinya. Pasti Sari suka, gumamnya dalam hati.
    Minggu pagi langit sangat bersih. Sara telah selesai sarapan dan kini ia sibuk mengemas jepit-jepit imut ke dalam kotak kecil warna merah muda. Ada 9 pasang jepit warna warni. “Yes, selesai!” Sara berkata sendiri di ruang tamu. Dahi Sara mendadak berkerut ketika menatap jarum panjang jam di dinding sudah berada di angka 12. Sara berdiri menghalau resah. Ia pandangi kotak pink di sudut meja kemudian kakinya melangkah ke luar. Belum saja tangan kanannya menyentuh daun pintu, Mama yang baru balik dari warung memanggil.
    “Sara, dapat salam dari Sari. Ia baru saja lewat sama temannya.”
    “Temannya? Siapa Ma?” Sara berlari ke arah Mama.
    “Mama juga belum kenal. Rambutnya panjang dikepang dua.” Mama dan Sara melangkah masuk.
    “Pantas saja tidak ke sini. Dia sudah janji pagi ini mau main. Sara sudah buatin jepit cantik. Sari bohong….” Sara berlari ke dalam rumah. Mama mengikuti dari belakang. Langkah Sara terhenti di ruang tamu. Ia sandarkan badan di kursi empuk warna coklat tua. Tangannya meraih bungkusan kecil dan diamat-amati kotak mirip bungkus sabun mandi itu. Lama Sara terdiam.
    “Sara, makan dulu yuk…”
    “Malas Ma, masih kenyang.” Sara masih menimang-nimang benda di tangannya.
    “Kenyang? Baru makan 1 lembar roti tawar, kenyang?” tukas Mama.
    “Nanti saja.” jawab Sara singkat.
    Mama mendekati Sara lantas mengelus punggung putrinya. Lembut…,lembut sekali.
    “Sara, barangkali Sari lupa. Kalau sudah ingat, pasti dia datang ke sini.” hibur Mama.
    “Karena ada kawan baru, Sara dilupain. Gitu kan Ma?” rutuk Sara.
    “Bukan, percayalah sama Mama. Sari pasti datang. Makan yuk..”
    Mama dan Sara sudah berada di ruang makan. Sayur asem, ayam goreng, tempe bacem, sambal terasi. Kerupuk ikan. Hmmm…
    “Alhamdulillah, makasih Ma. Enak sekali.” Sara membawa piring kotor ke dapur.
    “Alhamdulillah…” Mama tersenyum lega.
    Sore menawarkan pemandangan lain. Langit gelap disertai angin. Daun-daun kering berjatuhan. Halaman rumah yang sudah disapu penuh daun dan bunga kamboja berserakan. Langit makin gelap dan hujan mulai merintik. Di dalam kamar Sara mendengarkan musik. Lagu ketiga baru saja berhenti, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
    “Sara, ada Sari di ruang tamu.” ujar Mama setelah pintu kamar dibuka.
    Sara bermaksud menutup pintu kembali, namun tangan Mama lebih dahulu mencegatnya. “Sara, temui Sari. Gerimis begini, dia tetap datang.”
    “Biarin. Mama bilang saja Sara lagi tidur…”
    “Eits, tidak boleh begitu. Temui dia…” Mama menarik lengan Sara.
    “Gak mau. Suruh dia pulang..” Sara menolak ajakan Mama.
    “Sara, aku tidak akan pulang sebelum aku menjelaskan semuanya.” wajah cantik Sari muncul di belakang Mama.
    “Maafkan aku, Sara…” tangan kanan Sari meraih pergelangan Sara.
    Sara tak menjawab. Kedua bola matanya menatap Sari lekat-lekat.
    “Semalam waktu aku mengantar kue ke Tante Arin, aku dikenalin dengan Susi. Susi keponakan Tante Arin. Anaknya cantik tapi maaf, dia sulit mengucapkan sesuatu. Susi sangat pendiam dan susah bergaul.
    Tapi kemarin Susi menjadi periang. Aku diminta menemaninya. Besuk aku kenalin ya. Sekali lagi, maafkan aku, Sara..”
    Sara masih tak bersuara. Matanya yang bulat nampak berkaca-kaca. Ia pandangi Sari tak berkedip. Sari tersenyum. Mata dan kedua pipi Sari lebih dahulu basah.
    “Maafkan Sara juga ya…” Sara memeluk Sari.
    “Makasih bungkusan merah jambu itu.” bisik Sari.
    Sara melepas badan Sari, “Dari mana kamu tahu?” balas Sara.
    “Mama sudah jelaskan semua tadi sebelum Mama ketuk pintu kamar.” timpal Mama yang sedari tadi ikut berdiri.
    Sara memandang Mama, kemudian menatap Sari. Tak ada lagi kesal. Tak ada lagi muram. Kembali dua sahabat berpelukan. Meskipun di luar hujan makin deras, hati dua gadis kecil itu tak lagi menyimpan mendung.

    Pekanbaru, 14 Pebruari 2010
    Salam sayang untuk seluruh anak-anak di seluruh tanah air.
    Santi Nuur P
    trinoersanti @yahoo .co .id

  • Lukisan Anggrek

    Sore berangsur petang di pantai Kuta.

    “Santi, sudah petang, ayo kita kembali ke penginapan.” ajak Papa.

    “Lihat, Tante Lusi sudah duluan ke mobil.” imbuh Mama di belakang Papa.

    “Iya.., iya.., sebentar Pa… Santi mau cetak pasir sekali lagi. Boleh ya Pa..?” rengek Santi. “Pa! Papa!” teriak Santi ketika melihat Papa dan Mama menyusul Tante Lusi.

    Sampai di penginapan, wajah Santi masih cemberut. Santi masih ingin berlama-lama di pantai. Tahun lalu Santi bermain pasir bersama Sinta, adik perempuannya. Namun kini Sinta telah meninggalkan Santi selamanya karena sakit keras.

    “Besuk kita ke pasar Sukawati kan Pa. Mama mau beli beberapa lukisan.” Mama duduk di samping Papa yang tengah menonton TV.

    “Lukisan Mama sudah banyak, mau ditaruh di mana lagi?” Tangan Papa sibuk memilih program TV.

    “Di kamar Santi belum ada lukisan, ya kan Santi?” Mama menoleh ke arah Santi. “Di teras depan juga mau Mama taruh lukisan.” lanjut Mama setelah melihat Santi tak menjawab.

    “Santi tidak butuh lukisan.” sahut Santi tiba-tiba, dan tanpa berkata-kata lagi, ia masuk kamar.

    “Ada apa anak manis?” Tante Lusi menutup majalahnya. “Tadi udah janji loh, gak akan marahan lagi.., gak akan manja lagi. Ada apa sayang?” ulang Tante Lusi dengan hati-hati.

    “Gak ada. Santi mau tidur!”

    “Ooh…, cuma mau tidur, ya udah mau tidur sama Tante apa sama Mama?”

    “Sama Tante!”

    “Oke dech, selamat tidur. Mimpi bagus ya, jangan lupa berdoa. Udah pamit sama Mama Papa?”

    Santi tak menjawab. Ia menelungkupkan badannya ke bawah bantal.

    Pagi setelah sarapan, Santi dan keluarganya bersiap pergi ke pasar Sukawati. Tiba-tiba mobil kijang Papa mogok. Sambil menunggu mobil diperbaiki, Santi berjalan-jalan di sekitar penginapan bersama Tante Lusi. Di depan pintu gerbang penginapan, rupanya banyak pedagang berkerumun. Mereka langsung menyerbu ketika melihat Santi dan Tante Lusi.

    “Ibuk, beli pathungnya Buk… Murah-murah saja, unthuk penglaris ya Buuk..”

    “Beli sarung panthainya ya Buk. Ini warnanya manis-manis. Murah..”

    “Baju barongnya Buk. Nih bagus-bagus. Ada baju panjang juga…”

    Wah, semua pedagang menyodorkan barang dagangannya.

    “Beli lukisannya yaa…?” celetuk bocah perempuan, seusia Santi.

    “Ehm….” Santi hanya bergumam. Dicarinya Tante Lusi tapi sudah jauh di sana.

    “Bagus-bagus. Boleh dilihat-lihat…” tangan kurusnya menyodorkan lukisan ke arah Santi. “Saya sendiri yang melukis.” tambah gadis kecil itu bangga.

    “Oh ya?” Santi tak bisa menyembunyikan kekaguman pada lukisan yang dipegangnya.


    Santi duduk di jok tengah dengan Tante Lusi. Mama duduk di depan menemani Papa. Mobil kijang telah sampai di pelabuhan gilimanuk. Semua turun dari mobil kemudian menuju ruang penumpang kapal. Santi memilih tempat duduk dekat jendela. Ia tatap sebuah pulau, makin lama makin jauh. Dan ketika kapal mulai menepi di pelabuhan ketapang, terasa susuatu yang hanyat di kedua matanya yang bulat.

    Mobil terus melaju meninggalkan pelabuhan ketapang.

    “Kok diam aja San, capek ya. Sebentar lagi sampai.” kata Papa ketika berhenti mengisi bahan bakar.

    “Jam berapa sampai di Malang Pa?” Santi menguap menahan kantuk.

    “Kira-kira jam lima sore nanti kita udah di rumah.” jawab Papa.

    “Bener Pa?” Santi sudah tak sabar.

    Dan, ketika mobil memasuki pekarangan, Santi langsung berlari ke dalam rumah. Di tangannya ada bungkusan kertas warna coklat. Santi melepas sepatu dan jaket merah mudanya. Setelah mencuci kaki dan tangan, ia mengunci kamarnya dari dalam.

    Santi makin tak sabar membuka bungkusan. Ternyata sebuah surat dengan tulisan tangan.

    Untuk sahabat baruku yang manis, Santi Diah Permata.

    Santi, senang sekali berkenalan denganmu. Sayangnya kita hanya sebentar bertemu ya. Kamu harus segera pulang ke Malang. Saat kamu baca surat ini, mungkin aku masih berjualan. Dan lusa aku juga mulai masuk sekolah setelah libur panjang. Biasanya, pulang dari sekolah aku terus melukis.

    Santi, sejak Bapak meningga,l aku rajin membantu Ibu. Ibuku…, kamu masih ingat seorang Ibu yang menjual baju barong? Dia itu ibuku, Santi. Ibu menjual baju barong milik orang lain. Nanti Ibu akan mendapatkan upah.

    Santi, aku masih ingat, betapa kamu terkejut saat kubilang aku sendiri yang melukis ini. Iya Santi, dari kecil aku sudah pandai melukis. Bapak dulu seorang pelukis. Bapak juga yang mengajari aku melukis. Oh ya Santi, terimakasih sudah membeli lukisanku. Dan ini kuberikan lukisan bunga anggrek putih, sebagai tanda persahabatan kita. Tolong dibingkai sendiri yaa…

    Selesai membaca surat ini, cepat balas ya. Aku tak sabar menunggu suratmu dan jangan lupa sertakan foto kamu beserta adikmu, almarhumah Sinta. Aku tak sabar ingin melihat fotonya, yang kamu bilang sangat mirip denganku.

    Udah dulu ya Santi….

    Sahabat barumu

    (Putu Eka Cahyani)

    Santi menghela nafas panjang. Tangannya melipat kertas dan pandangannya tertuju pada luar jendela. Ketika matanya menatap bunga putih di pot gantung, tiba-tiba ada sejuk dalam hatinya. Dan kini mata Santi nampak berkaca-kaca. Bunga anggrek putih di luar itu, sama cantiknya dengan lukisan di tangannya.

    Bahkan sama bentuk bunga dan daunnya….

    Pekanbaru, Januari 2010

    Santi Nuur P
    trinoersanti @yahoo .co .id