Tag: Yunarvian

  • Hidung Babi

    Di sebuah hutan tinggallah seekor anak babi. Layaknya babi-babi pada umumnya, ia memiliki badan yang bulet gemuk kulit berwarna keputihan dan hidung bulet seperti kaleng. Setiap kali bermain-main dengan anak binatang lain, si babi kecil ini selalu diejek temannya dan dipanggil dengan sebutan si hidung kaleng. Babi ini sangat sedih dan kecewa dengan ejekan temannya itu. “Tuhan, kenapa aku lahir sebagai babi, sehingga aku memiliki hidung yang jelek ini.” Kata si babi kecil dalam hatinya.

    Hidung Babi

    Suatu sore ketika babi kecil ini sedang minum di sungai tiba-tiba terdengar suara dari seberang sungai, “Hoeekk … teman-teman, jangan minum dari sungai ini karena sungai ini sudah tercemar hidung jelek babi itu.” Kata seekor anak rusa kepada teman-temannya sambil berlari meninggalkan sungai.

    Hiks … hiks … si babi kecil ini menangis karena sedih. Dan masuk ke hutan sambil terus berkata, “aku tidak mau hidung jelek ini …” sambil memukul-mukul hidungnya.

    Sampai di tengah hutan si babi kecil ini dilihat oleh seekor monyet bijaksana yang dikenal sebagai sesepuh hutan. Si monyet sesepuh itu langsung menghampiri si babi kecil itu.

    “Ada apa dengan hidungmu??” tanya si monyet pada si babi kecil yang matanya memerah karena menagis dan hidungnya membiru karena dia pukuli sendiri.

    “Tuan monyet, aku tidak mau hidung jelek ini, maukah kamu membantuku mengambil hidung jelek ini dari wajahku?” Jawab si babi kecil.

    “Hey hey … “ kata si monyet. “Babi kecil, kamu memiliki kulit yang putih bersih nan indah, juga badan yang gemuk, bukankah itu bagus.”

    “Ya benar, kulit dan badanku yang gemuk ini memang bagus, tapi aku punya hidung yang jelek. Aku tidak mau hidung ini.” Kata si babi kecil.

    “Nak, kamu tahu, dibandingkan badan gemuk dan kulit putihmu yang indah itu, sebenarnya hidung yang katamu jelek itu adalah yang paling berguna bagi hidupmu.” Kata si monyet. “Jika kamu tidak punya hidung, maka kamu tidak akan bisa bernafas dan meskipun kamu makan banyak sehingga badanmu gemuk dan kulitmu sangat indah karena kamu madikan terus kamu akan mati. Dengan kata lain, hidungmu itulah yang membuat kamu bisa hidup.”

    “Benarkah??” kata si babi kecil.

    “Kau mau coba kuambil hidungmu itu?? Tapi jika nanti kamu mati jangan salahkan aku.” Kata si monyet.

    Si babi kecil menggelengkan kepala.

    Si monyet melanjutkan kata-katanya, “berbanggalah karena kamu mempunyai hidung seperti itu. Badan yang gemuk juga dimiliki oleh banyak binatang, demikian juga kulit putih bersih banyak binatang memilikinya. Akan tetapi hidung seperti kaleng, hanya kamu, si babi yang punya. Kasihan hidungmu yang berharga itu jika kamu pukuli terus. Mulai saat ini janjilah untuk menyayangi hidung kalengmu itu.”

    Si Babi menganggukkan kepala dengan lantang dan mulai tersenyum.

    Dan sejak saat itu, jika ia diejek hidungnya dan dipanggil dengan sebutan hidung kaleng si babi kecil ini selalu tersenyum dan mengatakan “terima kasih.”

    Yunarvian yunarviantp @ymail.com

  • Ikan dan Burung

    Di sebuah hutan hiduplah dua binatang yang saling bersahabat. Binatang itu adalah burung dan ikan. Keduanya sangat dekat dan selalu saling membantu. Kedekatan keduanya ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu kejadian yang mengubah mereka. Waktu itu ikan sedang beristirahat di pinggiran sungai. Ia memandangi biji-bijian di pohon tepat di atasnya.

    “Kelihatannya biji-bijian itu enak dimakan” kata ikan dalam hati.

    Ia lalu berusaha meloncat setinggi-tingginya untuk mendapatkannya. Berkali-kali ia meloncat, namun tidak berhasil mencapai biji-bijian itu. Ia hanya bisa memandangi biji-bijian itu. Saat sedang memandangi biji-bijian itu, perhatiannya teralihkan oleh seekor burung yang berterbangan ke sana-kemari.

    “Tuhan, kenapa Engkau tidak memberiku sayap untuk terbang agar aku bisa meraih biji-bijian itu?” Kata si ikan dalam hati.

    Kita tinggalkan si ikan dan beralih ke burung.
    Setelah beterbangan, burung lalu hinggap di salah satu dahan pohon di pinggir sungai untuk beristirahat. Saat itu ia melihat ke air. Di dasar air sungai itu ia melihat banyak sekali cacing bergeliatan.

    “Kelihatannya cacing-cacing itu enak dimakan.” Kata burung dalam hati.

    Ia lalu berusaha masuk ke dalam air untuk menyelam dan menangkap cacing-cacing itu. Namun, ia tidak berhasil karena ia tidak bisa berenang. Ia lalu hanya bisa memandangi cacing itu dari atas pohon. Saat sedang memandangi cacing-cacing di dalam air, perhatiannya teralihkan pada ikan yang sedang berenang di dalam air.

    “Tuhan, kenapa Engkau tidak memberiku ekor dan sirip untuk berenang agar aku bisa meraih cacing-cacing dalam air itu?” kata si burung dalam hati.

    Akhirnya ikan dan burung saling tahu kesulitan masing-masing. Berkali-kali si ikan melihat burung menyelam ke air untuk mendapatkan cacing. Demikian pun si burung berkali-kali melihat ikan meloncat-loncat untuk mendapatkan biji-bijian. Lalu mereka berkenalan.

    “Hei ikan, apakah kau menginginkan biji-bijian ini? kata burung.
    “Benar, tapi aku tidak punya sayap sepertimu sehingga tidak bisa terbang mendapatkan biji-bijian itu.” jawab si ikan.
    “Aku juga menginginkan cacing di dasar sungai, tapi aku idak punya sirip sepertimu sehingga tidak bisa mendapatkan cacing-cacing itu.” balas si burung.
    “Gimana jika kau membantuku mengambil biji-bijian itu dan aku akan membantumu mendapatkan cacing-cacing di dasar sungai.” Ajak si ikan.
    “Wow ide bagus, aku setuju.” Sahut si burung.

    Akhirnya ikan dan burung menjadi sahabat dan saling membantu.

    Yunarvian [yuyun.fr86 @gmail.com]
    Edited by Kak Jito